
"Ini pasti Mbak Luna, ya?"tanya seorang wanita yang berada di samping Mala untuk mengulurkan tangannya, sambil tersenyum manis terhadapnya.
"Iya, saya luna. Ehem, pasti ini calon istrinya mala ya? wah cantik. mari masuk."canda Luna berbasa-basi.
Mendengar celotehan Luna mereka hanya saling pandang, kemudian tertawa kecil membuat Luna sedikit bingung. Namun, Luna sama sekali tidak menanggapi. Luna sudah berjalan mendahului. Mereka terlihat Khairul berjalan di belakang luna bergandengan dengan Mala.
Luna kembali memasukkan anak kunci dan membuka pintu rumah yang tadi sempat terkunci karena sebelumnya Luna dan Khairul akan pergi ke sebuah mall.
"Mau duduk di dalam atau di teras aja?" tanya Luna pada mereka.
"Maaf ya, Mbak Luna. Kedatangan kami justru mengganggu acara pergi Kalian." ucap gadis cantik itu sambil memandang Luna dan Khairul bergantian iya merasa bersalah karena sudah mengganggu waktu luna dengan putranya.
"Ini nih, Mas Malakiano nggak sabaran banget mau main kemari tambahnya lagi.
"Nggak apa-apa, saya senang kalau ada yang mau datang ke rumah saya. Apalagi datang dengan membawa kabar bahagia. Luna menatap lekat ke arahnya.
"Clara. Panggil aku Clara aja ,Mbak. Kayaknya mbak Luna benar-benar sudah lupa sama aku nih Mas." sahutnya cepat.
Gadis itu kembali terkekeh sambil menyenggol lengan Mala berdiri di sampingnya. Luna semakin bingung, Luna seperti tidak asing dengan nama itu. Tapi siapa ya Luna benar-benar lupa.
"Luna, ini Clara adikku loh, dia dulu seumuran dengan Maya adikmu, ya lebih tua adikmu. akhirnya Mala yang sudah ditarik senyum-senyum ikut angkat bicara.
Luna tercengang dan memori di kepalanya kembali berputar, saat luna masih remaja di kampung dulu. Memang Luna sempat dengar kalau Malakiano punya adik perempuan, tapi Luna jarang melihatnya.
Saat Luna di Sumatera, Luna jarang sekali keluyuran seperti orang-orang. Dia memilih untuk tetap diam di rumah membantu sang ayah ke ladang dan juga di rumah untuk sekedar beberes rumah. Mengingat Ibu mereka sudah lebih awal meninggalkan mereka, saat Luna masih duduk di bangku SD. Luna memilih untuk membantu Pak Karyo jika Pak Karyo membutuhkan bantuan Luna di ladang.
Luna berusaha mengingat-ingat sosok Clara. Karena tak kunjung mengingat akhirnya Malakiano pun angkat bicara.
"Clara dulu juga ikut ke Jogja saat dia usia empat tahun Luna. Karena bapakku membuka usaha juga di Jogja,bersama pakde jelasnya. Luna hanya mengangguk paham. Pantas saja Luna jarang melihatnya.
Luna tersipu malu, karena tebakannya meleset jauh. Karena Ternyata Gadis itu adalah adiknya, bukan calon istri seperti dugaan luna.
"Kirain dia ini calon istri kamu Maka. Maaf ya, Clara Mbak benar-benar nggak ingat, karena dulu kan terakhir Mbak lihat kamu masih kecil sekarang sudah jadi gadis cantik."ucap Luna malu-malu. Kemudian menoleh ke arah Clara yang terlihat mengembangkan senyumnya.
"Oh iya, tapi kamu tahu alamat rumahku dari mana Mala? Luna menatapnya penuh selidik.
__ADS_1
"Aku tahu dari mana itu tidak penting, kan Lun yang penting aku sudah berhasil tahu rumahmu. Aku tadi lewat depan rumah ini, Sambil mencoba menghubungi kamu. Eh benar saja pas sekali kamu muncul keluar pintu aku langsung berhenti di sana itu." Mala menunjuk ke arah Di mana mobilnya Yang terparkir.
Selalu saja seperti itu, Maka tahu nomor ponselnya dan alamat rumahnya itu sebenarnya dari siapa Luna juga penasaran.
"Ma, kita jadi pergi nggak nih, Ma?" tanya Khairul tiba-tiba membuat mereka semua menoleh ke arahnya.
"Oh iya, iya.Khairul kan mau pergi Ayo kita jalan-jalan sama-sama aja, gimana? mau nggak? dengan cepat Mala menanggapi pertanyaan Khairul.
Wajah bocah Itu tampak berbinar dan mengangguk semangat.
"Apa tidak merepotkan, Mala? kamu kan capek pasti habis jalan jauh lumayan loh dari Jogja ke sini. Tanya Luna sedikit ragu karena tak enak juga padanya.
"Enggak Sebenarnya, aku sudah beberapa hari di Jakarta. Karena ada tugas dari kantor. Aku menginap di salah satu apartemen di yang lokasinya tidak jauh dari sini. Jadi tidak lelah lah, Lagian lelahku hilang seketika loh, lihat senyum Khairul." ucap Mala sambil Mencubit pipi gembel Khairul.
"Benar kamu nggak apa-apa?
"Iya, Ayo kita jalan sekarang." Mala menggamit tangan Khairul kemudian berjalan mendahului luna. Luna terdiam sejenak dan hanya mengikuti mereka. Tak lupa Luna kembali mengunci pintu rumah.
"Om, aku duduk di depan ya, sama Om?"celoteh Khairul saat mereka berjalan menuju mobil.
"Yahhhh Om masa gantian sama Khairul? kan Khairul masih kecil Om. Mana Bisa Kak error nyetir mobil beneran Khairul bisanya nyetir mobil remote Om, Mala tertawa lepas mendengar celotehan.
Terdengar ocehan konyol mereka membuat Luna tersenyum sendiri. Maya melihat raut kebahagiaan di wajah Khairul, terlihat Malah dapat membuat jagoannya tertawa lepas dan merasa bahagia membuat Luna terenyuh melihat suara tawa putranya yang begitu lepas.
Badai Pasti Berlalu, setiap kali hujan pasti akan ada pelangi. Seiring berjalannya waktu kehidupan Luna pun berangsur-angsur semakin membaik. Hatinya yang begitu remuk sudah mulai pulih dan ia perlahan melupakan pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya.
Setelah semua ujian berat yang telah Ia lalui, kini sudah saatnya harus menata kembali hatinya yang remuk. Menata kembali hatinya yang hancur berkeping-keping.
Setiap umat manusia Memang takkan luput dari sebuah kesalahan, maupun dosa. Karena berhak untuk memperbaiki diri dan berubah menjadi insan yang lebih baik.
Mobil yang dikemudikan oleh Mala, mulai melaju membelah jalanan kota. Semenjak kedatangan Mala, Luna sama sekali belum sempat bertanya apa tujuan Mala datang ke rumahnya.
Apa ada satu hal yang penting atau hanya ingin silaturahmi biasa. Biarlah nanti Luna tanyakan ketika sudah duduk bersama.
Luna menoleh ke arah jalanan yang lumayan ramai, menambah hiruk pikuk sibuknya ibukota. Sejenak mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Luna melirik ke arah gadis manis yang duduk di sampingnya, yang tampak sibuk dengan ponsel di tangannya, dengan sesekali senyum mengembang di bibirnya gaya khas anak muda.
"Gimana kabar pakde Clara?"tanya Luna membuka pembicaraan, Luna melihat Mala tengah fokus menyetir sesekali ia melirik melalui kaca spion yang berada di atasnya.
"Bapak Alhamdulillah sehat Mbak."
"Kamu sendiri sekarang sibuk kuliah atau bekerja?
"Alhamdulillah udah masih kuliah Mbak baru ini sudah mau nyusun skripsi ." ucapnya sambil mengulas senyum
"Kalau Mbak Luna sudah lama tinggal di Jakarta?"
"Iya lumayan lah, sekitar dua puluh tahun di Jakarta. Mulai kuliah, bekerja sebagai ASN, Sampai menikah hingga sekarang.
"Oh, Mbak Maya sekarang Sudah semester berapa Mbak?
"Insya Allah Maya sebentar lagi akan lulus S2." ucap Luna membuat Clara tercengang.
"Wow luar biasa, iya memang pantas. Dari dulu aku tahu Mbak Maya itu orangnya sangat pintar dan berprestasi. "sahut Clara.
Cukup lama mereka ngobrol, walau hanya sekedar basa-basi. Tapi asik juga ngobrol sama anak gadis berasa jiwa mudanya kembali timbul.
Setengah jam perjalanan, mereka sampai di sebuah mall di pusat kota Jakarta. Mobil berhenti di depan lobby. Luna, Clara dan Khairul pun turun. Kemudian Mala masuk ke dalam basement untuk memarkirkan mobilnya.
"Kalian masuk dulu nggak apa-apa, Nanti aku nyusul." ucap Mala membuka kacanya, sebelum berlalu mereka hanya mengangguk.
Clara pun mengajak mereka masuk. Luna menggamit tangan mungil anak tunggal dan melangkah beriringan bersama Clara.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1