Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 44. MENATAP HERAN _ PDHP


__ADS_3

Luna berdiri di depan mejanya, bersilang dada menatap Bram yang berjalan melewatinya.


Hingga tepat di hadapannya, membuat kedua netra mereka bertemu, tapi dengan cepat luna mengalihkan pandangannya.


Tak ada lagi tatapan sendu di matanya seperti dulu, yang terlihat hanya sorot mata penuh kebencian, amarah dan kekecewaan.


Ada sedikit penyesalan terbesit di dalam hati karena telah menyakitinya, terlebih karena kebodohannya itu, membuat Bram kehilangan semuanya, Coba saja dulu Bram menahan gelora Cinta pada Vanessa, mungkin semua akan tetap baik-baik saja hingga detik ini.


Apalah daya nasi sudah menjadi bubur, mungkin ini balasan atas penghianatan yang Bram lakukan. "Maafkan aku Luna." gumamnya dalam hati.


Berapa langkah keluar pintu dan berjalan keluar kantor, beberapa karyawan menatapnya dengan tatapan aneh, entah apa yang ada di pikiran mereka, seakan mereka menertawakan Bram.


Sekelebat bayangan dulu saat baru dipercaya oleh Paman firman untuk mengelola perusahaan tersebut. Luna terus mendampinginya dengan sabar, menjadi seorang pemimpin di kantor, bukanlah tidak mudah. Beberapa kali jatuh bangun hingga akhirnya bisa maju dan dikenal banyak orang seperti sekarang ini. Luna banyak berkorban untuk kelangsungan karir suaminya. Wajar bila Dia sangat kecewa pada Bram.


Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin Bram lebih memilih tidak mengenal Vanessa agar rumah tangganya baik-baik saja.


Bram terus berjalan hingga keluar gedung dan mendaratkan kardus itu di atas motor. Bram tertunduk beberapa kali Bram mengacak rambutnya hingga acak-acakan tak karuan. Beberapa kali jemarinya terkepal dan meninju jok motor di depannya.


Kini Bram menjadi pengangguran, tak bisa Bram bayangkan reaksi Vanessa saat Bram tiba di rumah nanti. Dia pasti akan marah-marah lagi seperti kemarin.


"Permisi Pak Bram." Maaf Pak! saya perhatikan sepertinya bapak sedang ada masalah,"suara seseorang mengagetkan Bram. Bram mendongak dan melihat lelaki yang sudah berdiri di hadapannya.


"Pak Karim! apa kabar pak?"tanya Bram pada lelaki itu, dia sopir di kantor yang dipimpin oleh Bram selama ini.


"Alhamdulillah baik pak Bram, mari duduk di sebelah sana Pak. Kita ngobrol-ngobrol sebentar."


Pak Karim menunjuk ke warung kopi samping kantor. Bram mengangguk dan mengikuti langkahnya, kardus itu Bram Biarkan di atas jok motor. lagi pula tak ada barang berharga disana siapa yang mengambilnya.

__ADS_1


Jujur selama memegang kantor, ini kali pertama Bram duduk di warung kopi itu. Mereka duduk bersebelahan di bangku kayu.


"Pak kopinya, dua ya." seru Pak Karim pada lelaki paruh baya pemilik warung kopi. lelaki itu mengangguk sering melempar senyum ke arah mereka.


Bram melihat-lihat sekeliling ruangan, sangat sederhana. Hanya ada setumpuk mie instant di etalasenya, serta beberapa rencengan kopi, dan beberapa gorengan yang tersaji di atas nampan berbentuk kotak persegi panjang di atas meja.


"Silakan Pak ini kopinya."ucapkan pemilik warung dengan ramah menyuguhkan kopi yang tadi di pesan pak Karim.


"Silakan diminum kopinya Pak! Pak Karim mempersilahkan. Bram mengangguk tersenyum.


Dua gelas kopi tersaji, asapnya masih mengepul di atasnya, aroma kopi yang wangi membuat ke sekelilingnya Pak Karin meraihnya kemudian menyesapnya.


"Silakan diminum Pak Bram, ini kopinya enak banget loh. Karena kopi ini berasal dari daerah asal pemilik warung, iya kan Pak?" Ucap pak Karim lelaki paruh baya pemiliki warung ini yang bernama Pak Mesran. Beliau hanya membalasnya dengan tersenyum ramah.


Bram meraih cangkir putih dan menyesap. kopiyang beliau suguhkan warnanya hitam pekat aroma kopinya begitu wangi.


"Benar saja, kopi yang begitu enak manis serta ada rasa pahit yang eksotis, sungguh perpaduan yang sangat lengkap. Ini enak sekali.


'Wah ini kopinya mantap! ucap Bram


"Iya pak, ini kopi Sumatera kopi asli daerah asal Pak Mesran. Beliau asal dari Sumatera Pak." Pak Karim menjelaskan.


Terima kasih Pak ucap Bram. Setidaknya di saat Bram di begitu frustasi, masih ada orang yang mengajaknya ngopi bersama. Walaupun dia mantan pegawainya. Tapi dia begitu baik pada Bram.


"Pak Bram yang sabar Pak, saya paham situasi Bapak. Saya tidak membenarkan tindakan Bapak dulu terhadap ibu Luna. Tapi saya juga tidak menyalahkan 100% tindakan bapak itu. Saya hanya menyayangkan saja Pak. Dan Saya turut prihatin dengan semua yang sudah terjadi.


Pak Karim mulai membuka pembicaraan. Bram hanya tertunduk malu. Beliau memang lebih tua dari Bram dan tampak lebih bijaksana menyikapi permasalahannya.

__ADS_1


"Terima kasih Pak, iya semuanya sudah terjadi Pak. Saya sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang Pak." sahut Bram.


"Satu hal yang harus bapak ingat, tak ada yang namanya bekas anak. Meskipun Bapak sudah berpisah dengan Bu Luna, Khairul masih sepenuhnya menjadi tanggung jawab Bapak. Maaf Pak, bukan maksud saya menggurui tapi...."


"Iya nggak apa-apa Pak," Saya justru senang masih ada orang bijak yang mau menasehati saya. Saya memang salah." ujar Bram semakin tak mampus berkas kata


Cukup lama mereka mengobrol di warkop. celotehan mereka membuatnya sedikit terhibur hingga siang hari bra memutuskan untuk pulang sudah beberapa kali Vanessa menghubunginya tapi Bram mengabaikannya.


Bram melajukan kendaraannya menuju ke rumah. Seperti apa nanti sikap Vanessa saat mendengar kalau saat ini Bram sudah tak bekerja lagi di kantor, Bram harus siap.


Sepanjang perjalanan pikirannya tak menentu Bram harus berpikir keras, ke mana dia harus mencari pekerjaan baru. Tak mungkin berlama-lama menganggur yang ada nanti bisa-bisa Bram ditendang pula sama Vanessa Karena dia begitu boros setiap uang yang Bram berikan selalu habis tak tersisa.


Jika tak menuruti kemauannya, bisa-bisa Bram diberi zakat di atas ranjang dan ia bisa tetap berlama-lama merajuk.


Beberapa meter lagi, Bram sampai di rumah. dari kejauhan sudah mulai tampak rumah yang Bram tinggal bersama istri mudanya.


"Bram sedikit heran melihat sebuah kijang Innova berwarna hitam bertengkar di tepi jalan, tepat di depan rumah. Apa ada tamu? Tapi siapa, apa teman Vanessa hatinya bertanya-tanya.


Belum juga sirna rasa herannya, kini Bram dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat. Vanessa tengah berjalan mesra dengan seorang laki-laki yang Bram taksir usianya lebih muda dari Bram. Pria berperawakan tinggi, dengan kulit putih mengenakan kaos putih yang tertutup jaket berwarna.


Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak dan nafasnya memburu. Wajahnya juga terasa memanas seiring dengan rasa panas yang menyeruak dari dalam hati.


Bram Melihat dengan mata kepalanya sendiri, Vanessa dengan lelaki itu memeluk erat lengan gagah milik lelaki muda Itu.Tampak begitu mesra. Senyum merekah diantara keduanya, sungguh hati Bram begitu terasa nyeri.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2