Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 93. KEDATANGAN TAMU_ PDHP


__ADS_3

"Sudahlah mas. Sebaiknya Mas pergi dari sini sebelum kesabaranku habis." ucap Bram dengan nafas memburu.


"Bram...."Mas mohon maaf, mas khilaf mohonnya.


"Pergi dari sini dan jangan coba-coba mendekati Mbak Rima lagi Mas, atau aku bisa berbuat lebih nekat!" ancam Bram.


"Okey, oke mas akan pergi. Tolong sampaikan permintaan maaf Mas kepada Mbak kamu. Mas sadar, mas salah.


"Terlambat untuk menyadari kesalahan mas sekarang." Bram pun masuk ke dalam dan mengunci pintu setelah mengucapkan itu, Bram tarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Astagfirullah, hampir saja aku khilaf. Kedatangan Mas Dimas membuat Bram hampir saja diluar Kendali. Bram mengingatkan kembali pada apa yang sudah dia lakukan, seketika membuat emosinya naik.


"Mbak Rima. dimana Mbak Rima?"


Bram berjalan masuk ke dalam mencari keberadaan Mak Rima. Pintu kamarnya tertutup mungkin dia sedang ingin sendiri, biarlah dulu, nanti baru Bram ajak bicara. kasihan dia.


Bram harus terus mengingatkan Mbak Rima agar tidak mudah luluh kembali pada laki-laki itu. Dia sudah keterlaluan. Dia sudah menghancurkan semuanya, jangan sampai dia kembali masuk dalam kehidupan mereka.


"Bram panaskan makanan di dapur. Sepulang bekerja, memang biasanya Mbak Rima membawa lauk. Kadang dari tempat majikannya, kadang juga membelinya untuk makan malam mereka berdua. Bram lihat sekarang Mbak Rima banyak berubah. Tak lagi angkuh seperti dulu, apapun itu ia jalani dengan ikhlas. Termasuk pekerjaannya sekarang sebagai buruh cuci.


Setelah semua selesai, Bram bawa ke ruang tengah. Karena memang mereka tak ada meja makan. Jadi sekarang kalau makan mereka lesehan di ruang tengah.


"Mbak, ayo makan dulu Mbak. Ini sudah Bram ambilkan." ucap Bram sambil mengetuk pintu kamarnya.


Tak ada sahutan dari dalam. Hanya ada suara Isakan tangis di dalam.


"Mbak boleh aku masuk?" tanya Bram masih Tak Ada jawaban. Bram beralih untuk masuk perlahan Bram putar daun pintu.


Ceklek..


Sekali hentakan ternyata pintu tidak terkunci.


Ia pun pulang berjalan masuk ke kamar Mbak Rima. Ia tengah duduk bersandar di sisi ranjang sambil memeluk erat bantal guling.


"Mbak,Mbak Rima tenang ya. Dia tak akan ganggu kita lagi mbak Rima, tak perlu risau berapa air matanya yang mengalir di kedua pipinya. Kedua matanya sembab, mungkin sejak ia masuk ke dalam telah Ia tumpahkan tangisnya.


"Mbak benci dia Bram!" isyaknya


"Iya mbak berapa. Bram satu pesan bagaimanapun dia terus berusaha meluluhkan hati Mbak Rima. Bram minta Mbak Rima Jangan goyah, kita sudah cukup susah sekarang. Mbak jangan lagi dia datang mengacaukan lagi seperti dulu. Andaikan dia tak melakukan semuanya pasti sekarang ini kita masih bisa tinggal di rumah kita Mbak." ujar Bram menyesalkan semua yang sudah menimpa mereka.

__ADS_1


Mbak Rima mengangkut.


"Maafkan Mbak Bram, tak bisa menjaga amanah Ibu dulu." tangisnya kembali pecah.


"Sudah Mbak, nggak apa-apa. Kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Bram juga akan terus berusaha untuk kehidupan kita lebih baik lagi mbak. Maafkan Bram juga, ya semua ini juga terjadi atas kesalahan Bram juga." Bram tertunduk menyesali semua kesalahan yang telah Ia perbuat selama ini.


"Sekarang kita makan yuk. Mbak harus makan." ajak Bram.


Mbak Rima menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelah dirasa tenang ia mengangguk dan mengikuti di belakang Bram untuk makan malam.


Mereka makan malam dalam keheningan larut dalam pikiran masing-masing. " Ya Allah berikan kepada kami jalan terbaik." bisiknya dalam hati. Ada rasa tak tega melihat Mbak Rima dalam kesedihan.


"Weekend besok kita jenguk Khairul ya Mbak. Bram mencoba membuka pembicaraan lain, agar Mbak Rima tidak terus larut dalam sedihnya.


"Iya Bram, Mbak juga kangen sama Khairul. jujur Mbak sangat merasa bersalah dengan Luna. Dia orang baik kita yang salah Bram."


Bram mengangguk. "Iya mbak, kita harus jadi orang lebih baik lagi. Mbak aku masih berharap mendapatkan pendamping sebaik dia." ucap Bram kepada mbak Rima yang dibalas anggukan dari Mbak Rima.


Pagi ini Bram kembali berangkat ke tempat kerjanya. Dan hatinya riang karena hari ini hari Jumat dan besok Bram akan menemani anaknya.


Sugi baru saja membuka restoran dan beberapa karyawan lainnya baru saja tiba di parkiran motor, di depan resto tempatnya bekerja.


Setelah membuka resto mereka mulai beberes menyapu, melap etalase sedangkan yang di bagian dapur mereka sudah sibuk memasak sebelum ada pelanggan yang datang.


"Sugi telepon, tuh." Panggil Bram


"Oh Paman."ucap Sugi saat meraih ponselnya Bram kembali sibuk dengan pekerjaannya


"Halo Paman, ada apa?" tanya Sugi pada pamannya di seberang sana


"'Mas Bram? ada, ada apa emangnya Paman?


Bram sempat menoleh ke arah Sugi yang sedang bercakap dengan paman dari sambungan telepon ketika ia menyebut nama Bram, dan Sugi pun melirik ke arah seseorang.


"Oh oke sebentar."


"Mas Bram ini Paman mau ngomong katanya." ucap Sugi menghampirinya dan menyodorkan ponselnya.


"Ada apa? tanya Bram. Sugi hanya mengedipkan bahunya.

__ADS_1


Bram pun meraih ponselnya dan mendekatkan ke telinganya


"Halo assalamualaikum Om!" ada apa tanya Bram pada sang Paman pemilik resto.


"Bram, tadi malam Ada cewek lumayan cantik datang ke resto nganterin makanan buat Bram." ucap sang paman di seberang sana membuat keningnya berkerut


"Cewek ?


"Siapa ya, Om?


"Kalau nggak salah namanya Rini Bram. Dia datang bawain martabak buat kamu Bram. Terus Om bilang Bram kerja shift pagi.


Kalau ngak salah namanya Rini. Dia datang kemari bawain martabak, mungkin sebagai bentuk Terima kasih karena Bram mengantarkan dompetnya kemarin.


"Oh Rini, terus dia bilang apa om?


"Dia bilang ya sudah, nggak apa-apa mungkin besok-besok datang lagi sebelum jam kerjamu dan martabaknya dikasih ke Om. jadi ya sudah, kita makan deh he...he...he" terdengar suara tawa sang paman.


"Ya sudah nggak apa-apa terima Om. Mereka pun memutuskan sambungan telepon selulernya.


"Entah kenapa ada getar bahagia dalam hatinya, ketika ada perempuan baik datang memberi secuil perhatian untuknya. Walau itu hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih, Tapi Bram sudah cukup senang.


"Astagfirullah kenapa mendadak kepikiran Rini terbayang Senyum manisnya dan Gigi gingsulnya.


"Ah Bram, kamu ini apa-apaan sih. Mana mau Rini sama kamu. Kamu kegeeran banget. terakhir saat Bram masih memegang kantor status Rini masih bersuami. Tapi saat Bram baca ktp-nya kemarin, kalau Bram tak salah baca statusnya janda apa ia Rini telah bercerai dengan suaminya. Bram bermonolog sendiri


"Mas Kenapa bengong? mana Sini hp-ku." ucap Sugi mengagetkan Bram.


"Paman ngomong apa Mas?" tanyanya lagi


"Dih kepo, ah." sungut Bram


"Yeeee, cuman mau tau aja kali, pasti kena omel Paman, kan?" ledeknya sambil memajukan bibirnya.


Enggaklah, enak aja kena omel. Aku disini sudah disiplin banget. Nggak mungkin kena omel,huh! balas Bram.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2