Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 101. ACARA TAHLILAN _ PDHP


__ADS_3

"Mbak!" Panggil Bram dengan suara parau menahan sesak yang teramat dalam di dada. dengan cepat Bram masuk ke dalam ruangan yang dingin itu, dua orang perawat yang merapikan semua alat dan selang yang menempel pada tubuh Mbak Rima.


Raut wajahnya pucat, mata terpejam dengan begitu tenangnya. Tak terasa air mata Bram lolos begitu saja tanpa permisi.


Bram menangis sejadi-jadinya, melihat tubuh kakak perempuannya. Kini telah berpulang, terbujur kaku di atas Branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Bram cium pelan kening dan kedua pipinya.


Tiba-tiba semua kenangan masa kecil mereka, segala keseruan kebersamaan mereka saat dulu, berputar mengelilingi ingatan Bram. Masih terekam jelas semuanya di sana, saat-saat mereka susah bersama. Mereka masih bisa tergelak tawa bersama, walau kesulitan tengah menghampiri keadaan mereka.


Sungguh Bram begitu terpukul telah kehilangan Mbak Rima. Yang ia rasakan kini, adalah begitu sakit. Sakit tapi tak berdarah, ditinggal pergi seorang yang sudah menjadi pengganti ibu kandungnya. Orang yang sudah seperti teman dan sahabat di kala semua orang telah pergi meninggalkannya, hanya Mbak Rima yang ada selalu bersamanya.


Bram peluk erat tubuh Mbak Rima sambil terus menyebutkan namanya, karena ini pelukan terakhirnya, ciuman terakhirnya, damai dan tenang di sana ya Mbak.


Perlahan Bram rasakan tepukan halus di punggungnya. Ia pun mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Yang tabah Mas." ucap Mala Bram lihat Luna juga ada di sana. Ia juga menangis sambil mengelus pipinya Mbak Rima yang mulai terasa dingin suhu tubuhnya.


"Sabar mas, Mbak Rima sudah tak sakit lagi. Sekarang dia sudah tenang, sekarang kita doakan yang terbaik untuk Mbak Rima." mengucap Luna diiringi isakan tangis.


"Maafkan segala kesalahan Mbak Rima, ya Lun, Maafkan dia." ucap Bram parau


"Luna sudah memaafkan Mbak Rima Mas, Luna sudah memaafkan jauh sebelum ia meminta maaf langsung kepada Luna." sahut luna sambil berusaha menenangkan hati Bram.


Mereka pun larut dalam suasana kesedihan yang mendalam, hingga akhirnya mereka mengurus semua keperluan administrasi untuk membawa pulang jenazah Mbak Rima. Maafkan aku Mbak. Maafkan aku yang belum mampu menjadi adik yang kau banggakan.


Beberapa hari sudah kepergian, segala keperluan administrasi saat di rumah sakit. Mala banyak membantu. Bahkan tak segan membantu biaya administrasi untuk membawa pulang jenazah Mbak Rima.


Mungkin karna ia tau, kondisi ekonomi Bram yang saat ini benar benar kesulitan. Sehingga Mala berinisiatif sendiri untuk membiayai Administrasi kepulangan jenazah Mbak Rima.

__ADS_1


Selama tujuh hari kemarin, Bram memang mengadakan acara tahlilan di rumah, Walaupun rumahnya kecil, Bram mengundang tetangga dekat untuk hadir dalam acara tahlilan kepergian Mbak Rima. Tak lain harapan Bram hanyalah doa kebaikan untuk Mbak Rima, semoga doa dari semua jemaah tahlil, bisa mengirimi kepergian Mbak Rima ke alam sana dengan kedamaian.


Dua hari acara tahlilan, Luna juga ikut datang acara tahlilan itu. Ia dan Mala selalu setia menemani Bram untuk tetap berdoa dalam acara tahlilan.


Tiga hari Mbak Rima berpulang, Bram memang izin tak masuk kerja dan hari keempat hingga ketujuh Bram masuk kerja, tapi hanya sampai siang, tak sampai sore karena Bram harus mengurus keperluan acara tahlilan.


Beruntung tetangga di sana semuanya baik, dan mau membantu Bram untuk semua keperluannya. Terkecuali Dewi semenjak kejadian waktu itu, dia jarang menampakkan wajahnya di depan Bram. Bram justru merasa lega.


Mbak Rima dimakamkan di desa kelahiran mereka, di samping makam Ayah dan Ibunya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2