
"Mari masuk, silakan duduk dulu. Sebentar ya tak bikinin kopi dulu." Dewi masuk ke dalam rumah sedangkan Bram dan Revan lebih memilih duduk di kursi teras sambil menunggu.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dewi keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi susu, dan beberapa potong kue di piring.
"Loh kok duduk di luar toh, Ayo masuk di sini loh mas minumnya saya taruh di meja ruang tamu, ya. Ayo masuk aja." Mbak Dewi.
"Ehm, Mbak Dewi tak usah repot-repot mana kabel tv-nya, yang rusak bisa saya lihat?"
"Iya, ada di dalam Mas. Makanya saya suruh masuk Ayo masuk bantuin betulin ya."
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.
Rumah yang tidak terlalu besar ini tantanannya rapi dan bersih. Maklum Mbak Dewi tinggal sendiri. Tak ada anak atau saudara tinggal di sini yang Bram dengar ia telah bercerai dengan suaminya. Entah caranya karena apa berantak tahu
"Mana TV-nya Mbak tanyanya
"Ini ada di kamar. Mari ikut saya Mas,"
Bram lihat Revan duduk di sapa sembari meniup pelan kopi susunya.
"Revan Ayo ikut masuk." ajak Bram
"Gak makan kue dulu Om? Revan lapar nih habis main layangan tadi."
"Nanti aja, ayo kita sama-sama ke dalam. Om gak enak kalau masuk sendiri.
"He...he...he Om takut ya iya deh Revan temenan." ucap Revan sambil nyengir kuda.
"Tau aja nih anak bukan takut sih, tapi horor aja apalagi tv-nya ada di kamar. Takut khilaf atau atau jadi fitnah Kan jadi repot.
Kalau dilihat Dewi lumayan cantik, dengan tubuh sintal pakaian sedikit terbuka menampakan lekuk tubuhnya rambutnya hitam tergerai.
Namun, dia juga sedikit berani dan mudah dekat dengan laki-laki mana saja yang ia suka. Jujur bagi Bram yang sudah dua kali gagal berumah tangga, Bram tak ingin kembali gagal. Bram gini lebih suka wanita yang lebih bisa menjaga marwahnya.
Penyesalan Bram menyia-nyiakan Luna dan berakhir tragis. Seperti sekarang ini tak mungkin pernah mengulang kesalahan yang sama, yaitu salah memilih pasangan.
Kini Bram harus berusaha menahan diri dari pandangan mata yang terkena membuatnya jiwa ke laki-laki hanya meronta.
"loh Revan, ikut ke dalam juga? kenapa ndak tunggu di ruang tamu aja, toh?" tanya Dewi saat melihat Bram dan Revan mengikutinya.
"Biarkan dia ikut di sini. Saya suruh Bram datar Berapa sudah mencium bau-bau tak enak. Karena Dewi seakan tak suka ada Revan di sini.
Terlihat Dewi hanya menghela napas Mereka pun mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Ini loh mas, kabelnya meleleh begini tapi pagi sempat keluar percikan api dan ada bau gosong gitu." jelas Dewi.
Bram pun mendekat melihat mana kabel yang dimaksud Dewi. Ternyata benar ujung kabel yang dekat dengan saklar listrik meleleh jika dibiarkan memang berbahaya bisa terjadi kebakaran kondisinya. Memang saklar dengan kabel kurang rapat jadi bisa terjadi meleleh karena panas listrik.
"Jadi gimana Mas?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Bisa kok, Mbak nanti saya potong aja sedikit yang meleleh ini dan bisa dikaitkan ke saklarnya." sahut Bram Dewi hanya mengangguk.
"Ada obeng sama gunting Mbak?"
"Ada Tunggu sebentar Mas."
Bram mengerjakan perbaikan ini dalam diam hanya sekali melirik ke arah Revan, takut kalau kalau dia tiba-tiba keluar dari kamar itu. dan Dewi juga dia memperhatikan dengan duduk di atas ranjang.
Akhirnya selesai. Memperbaiki kabel seperti ini adalah hal yang mudah bagi Bram. Tak perlu waktu lama.
"Sudah selesai mbak." ucapnya seraya bangkit dari duduk dan di lantai bersama Revan.
Tak lupa pernah mencoba menghubungkan dengan stop kontak kemudian menyalakan TV-nya Alhamdulillah bisa menyala
"Alhamdulillah sudah bisa menyala ya, mbak."
"Wah, iya sudah bisa terima kasih ya, Mas." Bram hanya mengangguk.
Bram pun beranjak hendak keluar kamar itu bersama Revan yang sudah jalan di depannya tiba-tiba tangan Bram ditahan Dewi.
"Mas Bram Tunggu! Bram sedikit terkejut tiba-tiba Dia memegang erat tangannya
"Iya, ada apa lagi mbak?" tanyanya sambil menatap dekat ke arahnya.
"Tunggulah sebentar di sini Mas, temani aku aku tahu kamu juga kedinginan kan, kalau malam? tanyanya sembari tangannya mulai merayap naik hingga menyentuh pipi Bram. Bram melirik Revan sudah jalan duluan di depan, Mungkin dia sudah duduk di sofa dan makan kue.
Karena sudah dari tadi kan dia bilang lapar dan ingin makan kue. Ah, itu anak Kenapa tidak menungguku. Ah ini orang, malah bikin aku panas dingin dengan ulahnya.
"Ih Mas Bram, kok gitu banget ayolah aku tahu kok. Aku juga penasaran gimana bentuk sixpack perut kamu"ucapnya lagi dengan suara mendayu dan tangannya mengerat bermain di lengan Bram.
Sebelum semakin membangunkan perangkat lain dalam tubuh Bram, Bram hentakan tangan dengan kasar. Dengan sekali hentakan Dewi yang tadi mulai Merayap langsung terlepas dari tubuh Bram.
"Maaf saya tidak tertarik permisi." ucapnya tegas sebelum melenggang keluar kamar itu.
Bram menghela nafas kasar, melihat Revan sedang asyik minum kopi susu sambil menikmati kue. "Dasar bocah, kalau sudah di depan makanan jadi lupa dengan tugasnya."
Tak berapa lama Dewi muncul dari dalam, dengan ekspresi wajah masam. Dia pasti tak suka dengan penolakan Bram tadi. Lagi pula jadi janda kok kegatelan.
Bram memang kerap merasa kesepian. Tapi tak begini caranya. Sudah cukup Bram terjatuh ke dalam lubang kehinaan yang hanya berakhir dalam rasa kecewa, dan penyesalan. Tak ingin Bram terjatuh dalam lubang yang sama. Tidak
"Revan, Sudah yuk kita pulang." ajak Bram.
"Loh ini kopinya, Om Bram belum diminum Om. Apa nggak sayang?"sahut Revan.
"Enggak nanti Om ngopi di rumah saja udah yuk. Ehm Dewi kami permisi ya, Bram berusaha tetap ramah meski sebenarnya hatinya diliputi rasa tak nyaman.
"Ehm, terima kasih ya, Mas. Saya tadi anu Ehem...
"Iya sama-sama. Mbak Dewi kami permisi ya!" Bram langsung menarik tangan Revan yang tengah mengambil kue di piring dan hendak dimasukkan ke mulutnya.
__ADS_1
Revan terkejut. Bahkan tangannya masih memegang kue.
"Eh tunggu dulu mas, langkah mereka terhenti saat mereka sudah melewati pintu depan.
"Ini sedikit dari saya, terima kasih karena sudah membantu." ucap Dewi menyodorkan selembar uang berwarna biru.
"Oh tidak usah Mbak. Saya ikhlas kok membantu tetangga." dijawab Bram cepat.
"Nggak apa-apa Mas, ambil saja buat beli bensin." ucapnya lagi.
"Baiklah, Bram menerima uang itu. Tapi bukan untuknya. Bram berikan pada Revan biar dia berikan untuk ibunya di rumah. Bram juga membantu Dewi tanpa mengharapkan imbalan apapun.
"Ini untuk aku, Om? tanya Revan dengan wajah berbinar.
"Iya buat kamu kasih ke mama kamu beli beras. Jangan buat jajan semua ya." titah Bram.
"Siap Om! Serunya.
Revan memang dari keluarga sederhana bapaknya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Terkadang bekerja terkadang juga tidak keluarga mereka hidup pas-pasan bahkan cenderung kekurangan.
Sedangkan Mbak Dewi seorang janda yang memiliki sebuah rumah kost yang lumayan besar. Warisan dari orang tuanya di ujung gang sana. Dewi hanya diam menatap ke arah mereka.
"Terima kasih Tante Dewi."Revan berterima kasih pada Dewi. Dewi hanya mengangguk.
"Kami permisi ya, Bram dan Revan pun melangkah menuju rumah mereka.
"Bram Dari mana kamu? Mbak cariin motornya ada tapi kok orangnya tidak ada, sempat bingung Mbak tadi!"
Baru saja kaki Bram melangkah ke lantai rumah kontrakan mereka, tiba-tiba Mbak Rima muncul dari dalam rumah dan melempar pertanyaan itu. Bram yang masih berjalan, Revan yang masih berjalan tak jauh dari Bram pun menoleh ke arah mereka.
"Habis dari rumah tante genit, tante!"
sahut Revan sambil nyengir. Sontak buat Mbak Rima menatap tajam ke arah Bram dengan kedua matanya melebar.
"Tenang saja tante Rima, tadi ke sananya sama aku. Jadi aku jagain Om Bram he....he....he ini anak benar-benar membuat Bram gantungan.
Mbak Rima tentu paham kalau tante genit yang dimaksud Revan adalah Dewi. Siapa lagi di sini yang suka kegenitan selain dia.
Terdengar Mbak Rima menghela nafas mendengar ucapan Revan.
"Kan Mbak sudah ingatkan kamu itu harus hati-hati sama dia. Awas aja kalau kamu kena jebak terus dipaksa nikahin dia baru tahu rasa kamu." Ketus Mbak Rima.
"Enggak lah Mbak tenang saja.
"Aku permisi pulang dulu om, tante!" Revan pulang berlari ke arah rumahnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN