
"Sayang ada apa, kok lari-lari?"ucap Luna sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Khairul mau pisang goreng juga dong, Ma."Khairul menatap cemilan di piring dengan berbinar. Khairul memang menyukai cemilan ini.
Luna dan Maya sontak saling pandang dan tertawa melihat tingkah Khairul.
"Makan sini sama tante, ya. Mama ke depan dulu." Luna mendudukkan Khairul di bangku kemudian melenggang keluar.
Luna duduk di sebuah bangku plastik yang Luna bawa dari samping, Karena bangku teras hanya ada dua, kemudian duduk di samping Pak Karyo. Kia dan Pak Karyo tampak akrab sesekali terdengar tawa di antara mereka. Luna hanya sesekali menimpali obrolan mereka.
Pandangan Luna keluar pagar rumah, dari jauh tanpa sengaja mata luna menangkap punggung seseorang yang terlihat membalikkan badannya, Luna seperti mengenali sosok itu. Mas Bram!"bisik Luna.
"Apa?
"Bram?"
"Di mana?"Pak Karyo memandang ke sekitar seperti mencari sesuatu. Ternyata Pak Karyo mendengar bisikan Luna.
Kia pun sama ikut mengedarkan pandangannya.
Saat kedua matanya masih fokus melihat dan merasa yakin yang Luna lihat itu, adalah Bram, kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Luna. Terlihat ibu Sumijan keluar dari dalam mobil dan mengambil sesuatu di bagasi belakang mobil itu.
"Sebentar iya, Yah," ucap Luna kemudian berjalan cepat menuju ke pagar, Luna lihat laki-laki itu masih belum jauh berjalan.
"Mas Bram, Mas! seru Luna memanggil.
Benar saja lelaki itu membalikkan badan dan tersenyum kikuk ke arah Luna.
Bu sumijan berhasil membantu Vanessa duduk di kursi rodanya, kemudian tersenyum ramah menyapa Luna. Ada yang berbeda dengan tampilan Vanessa sekarang. Dia terlihat manis dengan balutan hijab segi tiga yang menutupi rambutnya. Membuat Luna sedikit tercengang.
Bram masih mematung melihat ke arah mereka, Luna yakin Bram melihat Vanessa, apa sebelumnya dia tidak tahu keadaan Vanessa sekarang? sehingga ia terlihat begitu kaget.
Perlahan, Bram berjalan ke arah Luna dan Vanessa, melihat Luna dan Vanessa saling berjabat tangan.
Setelah menyalami Luna, Vanessa menoleh ke arah Bram. Mungkin ia tadi sempat Tak Mendengar Luna menyebut nama Bram, karena ia masih berada di dalam mobil.
"Mas Bram."Vanessa berbisik pelan, saat yakin yang dia lihat adalah Bram. Tatapannya sedang menatap ke arah Bram yang berjalan mendekat.
__ADS_1
"Vanessa." Bram terlihat berusaha tenang melihat kondisi Vanessa yang kini tak seperti dulu.
"Akhirnya aku bertemu lagi denganmu Mas. Ada yang ingin aku sampaikan,"ucapannya Vanessa lagi dengan tatapan nanar ke arah mantan suami Luna yang juga mantan suaminya.
Hening ....
"Ehmmmm! Luna berdehem memecah keheningan, karena beberapa detik berlalu Bram tak bergeming.
"Mas, Kenapa kamu tadi terlihat seperti balik lagi? Luna tadi sempat melihatmu sudah hampir sampai di depan gerbang ini." ucap Luna menelisik.
"A....Aku, malu. rasanya aku tak punya muka bertemu dengan Pak Karyo." bra menjawab sambil menunduk.
"Ehmm.... Maaf Nak Luna, Apa tidak sebaiknya kita masuk dulu, rasanya tidak baik kita bicara di tepi jalan seperti ini." Ibu sumijan mau buka suara. Melihat ada Bram dan Vanessa datang bersamaan dan bertemu secara tidak sengaja seperti ini, membuat Luna jadi lupa mempersilakan mereka masuk belum lagi Pak Karyo, dan Kia terlihat menatap ke arah mereka.
"Ah,iya Maaf saya lupa, mari silakan masuk."Luna menarik lebar pagar rumahnya agar mereka semua bisa masuk.
Sore ini rumahnya terlihat ramai. Luna menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, memejamkan matanya sejenak, menguatkan hati luna, apa saja yang akan ia dengar nantinya.
Luna memang merasa jauh lebih tenang dari kedatangan Vanessa beberapa hari yang lalu, kebersamaan bersama Pak Karyo, Wejangan serta nasehat dari beliau banyak membuat pikiran Luna terbuka.
Hati Luna sedikit demi sedikit berusaha memaafkan semua orang orang yang sudah menyakiti hatinya, meski rasa sakit itu masih ada. Namun, Luna bersama yakinkan dirinya, berusaha mengikis itu semua
Vanessa sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya dulu. Allah sudah menghukumnya dengan setimpal.
Sudah waktunya Luna memaafkannya, agar hatinya pun tenang. Luna lihat dia juga sudah banyak berubah, sepertinya dia berubah positif pada dirinya terbukti yakini sudah mengenakan hijab.
Luna mengikuti mereka yang sudah lebih dulu jalan ke depannya.
Pak Karyo menatap mereka semua secara bergantian. Bram meraih tangan Pak Karyo dan menciumnya takzim. Bram juga tampak menatap muka ke arah Kia sebelum menyalaminya.
Bu sumijan dan Vanessa menyalami mereka dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Mari kita bicara di dalam." Luna mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
"Kalau begitu saya pamit ya, Pak Karyo. takutnya ada urusan keluarga yang harus diselesaikan, Saya tidak ingin mengganggu." ucap dia sopan pada Pak Karyo. Luna sudah berada di ruang tamu, masih mendengarnya dengan jelas.
"Iya Mala. Terima kasih ya hati-hati di jalan." Pak Karyo menyehudinya.
__ADS_1
"Lun, kemari sebentar Nak." Luna bergegas keluar menghampirinya.
"Ayahhhhh," suara Khairul mengagetkan mereka semua. Khairul memeluk ayahnya melepaskan rindu.
"Aku pamit dulu iya, Lun," ucap Kia saat Luna telah sampai di ambang pintu.
"Iya, terima kasih Kia."
"Om Mala! "tiba-tiba Khairul yang tadi dipeluk Bram melepas pelukannya dan berlari keluar menghampiri Malakiano yang tengah pamit.
"Khairul, Om pamit pulang dulu ya, sayang, sudah sore. Kia membungkukkan badannya dan menangkup pipi tembem Khairul.
Dari ekor mata Luna, Luna bisa melihat wajah mereka tak berkedip,Luna berusaha tenang agar tak memancing keributan apapun lagi di rumah.
Kia berlalu, Luna dan Pak Karyo menatap punggungnya yang semakin menjauh dan memasuki mobilnya.
Luna dan Pak Karyo masuk ke ruang tamu mereka duduk memenuhi bangku ruang tamu.
"Khairul sayang, ke dalam dulu ya main sama Tante Maya. Ayah, mama dan Tante mau bicara sebentar." bisik Luna pelan pada telinga kiri anak lelakinya tangannya mengelus lembut belakang kepalanya.
Khairul pun mengangguk pelan mengikuti titah Luna.
"Mbak Luna, seperti janji ku beberapa hari yang lalu, aku datang kembali mengharapkan kata memaafkan darimu Mbak. Aku mohon maaf, sungguh hati ini rasanya tak tenang jika belum mendapatkan kata maaf darimu. Aku sungguh menyesal "Vanessa menunduk dalam dengan suara parau menahan sesak.
Luna terdiam, berusaha tenang dalam hati Luna terus beristighfar agar luna benar-benar bisa memaafkannya dengan tulus.
"Aku tahu, kesalahanku sangat sulit dimaafkan bahkan mungkin tak bisa dimaafkan, tapi.... Aku sungguh menyesalinya semua Mbah."Vanessa terisak menunduk dalam berharap Luna memaafkan dirinya.
Hening, semua larut dalam pikiran masing-masing. Tidak terkecuali dengan Bram. Luna menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi.
"Aku sudah memaafkanmu Vanessa. berjanjilah untuk menjadi seorang wanita yang lebih bermartabat. Jangan ada lagi yang menjadi korban sepertiku. Karena itu sungguh menyakitkan."wanita yang duduk di kursi roda itu mengedarkan kepalanya, menatap nanar ke arah Luna.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN