
Padahal tinggal beberapa meter lagi, Bram sampai di halaman rumah yang selama ini ditempati oleh Vanessa dan Bram, semenjak Bram menikah siri dengan Vanessa. Bram mempercepat laju motor matic milik Vanessa yang ia gunakan saat berangkat ke kantor pagi tadi.
Berniat menghampiri Vanessa dengan lelaki yang bersama istri sirinya itu. Tapi mereka lebih dulu masuk ke dalam mobil kijang Innova yang terparkir di halaman rumah, dan tidak menyadari bahwa Bram melihatnya. Dalam hitungan detik mobil itu melaju menjauhi rumah itu. Tepat saat motor matic yang dikendarai oleh Bram memasuki halaman.
Bram segera turun dari motor dan memanggil nama Vanessa dengan sekeras yang ia bisa, tapi sepertinya Vanessa yang sudah di dalam mobil tak mendengarnya, atau memang pura-pura tidak mendengar.
"Ahhhh,Sial! umpat Bram Seraya menendang kaleng kosong yang tergeletak tepat di hadapannya. Sehingga menimbulkan bunyi nyaring Memekik telinga.
Tanpa pikir panjang Bram menyalakan motor matic milik Vanessa yang ia gunakan dan mencoba mengejar mobil yang membawa Vanessa pergi. Ia melajukan motornya ke arah perginya mobil yang ditumpangi Vanessa dengan lelaki itu.
Samar-samar Bram lihat mobil yang ditumpangi Vanessa bersama lelaki itu, cukup jauh jarak motor Bram dengan mobil itu. Bram melajukan motornya dengan kecepatan tinggi berharap bisa memangkas jarak agar lebih dekat lagi.
Hampir saja Bram sampai di belakang mobil yang ditumpangi Vanessa itu, namun lagi-lagi kesialan masih belum enggan pergi dari hidupnya, Bram terdekat lampu merah. Dan mobil yang ditumpangi oleh Vanessa lolos begitu saja tanpa bisa Bram hentikan.
Jemari Bram terkepal kuat. Ia menghentakkan dengan kasar pada stang motor yang masih berhenti, karena menunggu lampu hijau menyala.
"Awas kau Vanessa, berani-beraninya Kau bermain api di belakangku. Tak akan aku maafkan. Kembali dada Bram dikuasai emosi.
"Sial! Kenapa lampu merah ini begitu lama? Bram sudah tidak sabar menunggu lampu hijau segera menyala. Setelah lampu hijau menyala Bram melajukan motor matic miliknya dengan kecepatan tinggi. Memendarkan pandangan mencari mobil itu, tapi ini tak terlihat lagi. Sudah pasti mereka sudah jauh entah ke mana.
Akhirnya ia merogoh ponselnya dari dalam saku celana jeans yang ia gunakan. Mencoba menghubungi Vanessa. lagi-lagi ke sialan masih belum ingin beranjak dari hidupnya. ponsel Vanessa tidak aktif sehingga tidak bisa dihubungi oleh Bram
Tak ada pilihan lain, akhirnya Bram memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan menunggu Vanessa pulang. Cuma itu yang bisa Bram lakukan. Mungkin setelah Vanessa pulang Bram baru bisa minta penjelasan padanya.
****
__ADS_1
Hari sudah malam. Vanessa tak kunjung pulang ke rumah. Entah ke mana perginya wanita itu, yang pasti saat ini Bram sama sekali tidak mengetahui keberadaan istri siri yang itu. Selama Bram hidup bersamanya, ini kali pertama ia belum pulang hingga larut malam seperti ini.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi Vanessa tak ada tanda-tanda pulang beberapa. Kali Bram mencoba menghubungi ponselnya. Tapi masih sama seperti siang tadi tidak tersambung.
Bram menyalakan televisi, agar tidak terlalu sepi. Pikirannya kacau melayang kemana-mana. Terbayang apa yang mereka lakukan di luar sana. Bagaimana jika Vanessa menghianatinya? hancurlah luluh lantah sudah semuanya.
"Tidak, aku tidak boleh berpikir buruk terlebih dahulu. Lebih Baik nanti aku minta penjelasan dari Vanessa mengenai lelaki itu."
Tak terasa netranya terpejam, Entah berapa lama Bram tertidur. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari Vanessa belum juga pulang ke mana dia sebenarnya.
Televisi masih menyala bukan Bram yang menonton tapi justru televisi yang menontonnya tertidur.
Bram matikan televisi, serta mematikan lampu. Baru saja lampu ruang tengah ini padam, telinganya mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah.
Setelah Vanessa memasuki halaman, ia melambaikan tangan pada lelaki yang berada di dalam mobil. Dan menit berikutnya mobil itu pergi.
Bram segera membuka pintu. Bram sedikit syok melihat kondisi Vanessa. Ia masih berjalan sempoyongan dengan rambut acak-acakan.
"Dari mana kamu Vanessa?" tanya Bram lantang saat ia hampir sampai di ambang pintu.
"Kamu Mas, aku dari mana itu bukan urusan kamu Mas." jawabnya merancau tak jelas.
Benar saja, Vanessa pulang dalam keadaan mabuk. Bau alkohol begitu menyengat saat jarak mereka semakin dekat.
"Vanessa, kamu mabuk?"
__ADS_1
"Apa sih kamu Mas! Vanessa tergolek tak sadarkan diri, usai mengatakan itu tepat dihadapan Bram. Refleks tangannya menahan bobot tubuhnya agar tak terjatuh ke lantai.
"Vanessa Kenapa kamu seperti ini? Apa yang kamu lakukan di luar sana Vanessa? Bram mengerut sendiri sambil membobong tubuh Vanessa membawanya masuk ke dalam kamar.
Bram baringkan. Tubuh Vanessa di di atas tempat tidur. Tak lupa Bram melepaskan sepatu high heels yang masih terkait di telapak kakinya, dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga setinggi dada. kemudian Bram baring di sampingnya.
Matanya seakan enggan terkenjam. Berbagai spekulasi dan pertanyaan bermunculan di otaknya. Marah, kecewa, bercampur aduk menjadi satu.
Bram jadi teringat kepada Luna sang mantan istri yang Begitu penurut dan taat Agama. Bahkan Luna sering mengingatkan Bram, jika Bram lupa melakukan kewajibannya sebagai umat beragama.
Tapi kelembutan dan perhatian penuh yang diberikan Luna selama membina biduk rumah tangga dengan Luna, sama sekali tidak ia dapatkan dari Vanessa. Tapi harus Bram akui kalau Vanessa lebih lihai di atas ranjang yang dapat memuaskan nafsu birahi Bram.
Apalagi semenjak Khairul susah Hadir di tengah tengah kehidupan rumah tangga Luna dan Bram kala itu, membuat Bram merasa kalau Luna dominan kepada putranya. Yang jelas jelas membutuhkan kasih sayang lebih dari Luna.
Karna godaan Vanessa kala itu, membuat Bram tidak dapat menahan diri dan ia mulai bermain api di belakang Luna. Ada sedikit rasa penyesalan di hati Bram, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Bram tidak dapat memutar waktu kembali, membuat dirinya mau tidak mau harus menjalaninya saat ini.
Berharap dugaannya terhadap Vanessa salah. Ia tidak ingin Vanessa juga meninggalkannya, setelah kehilangan istri dan juga harta bendanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1