Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 50. RUMAH DI SITA_ PDHP


__ADS_3

Kini Luna mulai memilih sayur-sayuran yang terlihat segar. Tak Berapa lama nampak beberapa ibu-ibu tetangga mulai datang.


"Lun, sudah datang dari kampung halaman? kapan? tanya Mbak Rina yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


"Oh Mbak Rina, datang semalam Mbak." Luna tersenyum menoleh sebentar ke arahnya.


"Eh ada Mbak Luna, dengar-dengar sebelum Mbak Luna pulang kampung ada yang datang ke rumah ini dan marah-marah di sini ya, Mbak?"tanya salah satu tetangga yang terkenal tukang gosip.


Entah Sejak kapan tiba-tiba sudah ada dia sudah depan luna, mungkin karena Luna terlalu fokus memilih sayur. Jadi tidak memperhatikan siapa-siapa saja yang datang, Luna hanya tersenyum tipis tak menanggapi pertanyaannya.


"Eh, tapi Mbak Luna pintar loh. Suaminya selingkuh, dia meminta cerai. Tapi sebelum cerai, kuras dulu semua hartanya, Keren."


Melihat Luna tak menanggapi, bukannya diam malah nyerocos lagi.


"Bi, masih pagi jangan mulai gosip, deh! Tukas Mbak Rina yang sedang di samping Luna yang juga sedang memilih sayur.


"Apa sih, Mbak Rina ini. Aku kan, cuman tanya sama Mbak Luna." sewotnya.


"Kalau yang ditanya lagi nggak mau jawab, ya sudah diam. Bisa kan?


Mbak Rina menyahut dengan sedikit meninggi.


Luna masih tak bergeming. Rasanya males menanggapi omongan dari tetangga. Pasti tak akan ada habisnya jika meladeni mereka.


"Kang Suryo, saya udah nih, Ini uangnya."


Luna menyerahkan selembar uang berwarna biru. Kang Udin dari tadi hanya diam. Sudah hafal sikap ibu-ibu di sini. Ia menerima uang itu dan membungkus belanjaan sayuran luna ke dalam kantong plastik biru, lalu menyerahkannya pada luna.


"Kembaliannya ambil aja kang. Saya permisi ya, semuanya!"pamit Luna pada semua. tetangga yang suka bergosip itu pun tak lagi bersuara hanya mengulum.


*****

__ADS_1


Bram benar-benar terkejut melihat rumah orang tuanya sudah disegel, Ada apa sebenarnya?Kenapa Mbak Rima tidak cerita apa-apa soal ini? bahkan kemarin-kemarin saat Mbak Rima datang ke rumah, ia tampak baik-baik saja.


Tapi sejujurnya Bram sedikit heran, kenapa dia ke mana-mana sendiri, ke mana Mas Haris? apa dia di luar kota dan Mbak Rima ke sini sendiri lalu di mana selama ini Mbak Rima tinggal? pikiran Bram begitu kacau. banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya.


Bram mencoba menghubungi Mbak Rima. ponselnya tidak aktif. Sejak kejadian di rumah luna, Mbak Rima tak menampakkan batang hidungnya. Ia terlihat sangat sama kecewanya, dengan Vanessa.


" Di mana kamu Mbak Rima?


Bram memutuskan untuk mencari kos. Masih ada sisa uang di ATM. Bram rasa cukup untuk menyewa kamar kos untuk sebulan ini.


Bram berjalan ke ujung Jalan, Di mana ada pangkalan ojek.


"Ojek bang?" tanya salah satu dari empat pemuda tukang ojek


"Iya Mas, Sebelumnya maaf Mas. Mau tahu rumah yang ada di ujung gang sebelah kanan? itu kenapa disegel kenapa ya?


"Oh itu rumahnya Pak Haris, itu?


Jawabannya membuat Bram tercengang. "Mas Haris punya hutang? bukannya dia itu pekerja kantoran dan terakhir Bram mendengar dia dipindahkan tugas ke luar kota. Jadi Mbak Rima ikut keluar kota. Akhir-akhir ini, Mbak Rima kembali ke kota ini. Tapi ia seorang diri, tanpa Mas Haris. Ah semua ini membuatnya semakin pusing.


"Mas jadi ojek nggak?" tanya pemuda yang tadi menawari ojek.


"Iya, jadi ayo."


Pemuda itu dengan sigap naik motornya. Bram bergegas naik ke jok belakangnya, "Benar-benar repot Kalau tidak ada motor. Ke mana-mana harus naik ojek." gerutu nya dalam hati.


Ojek yang Bram tumpangi mulai jalan membelai jalanan ibukota.


"Tujuan kita ke mana Bang?" tanya tukang ojek itu di sela sela kebisingan jalan.


"Hm, Sebenarnya saya tak tahu harus ke mana mas. Saya ke rumah itu mau tinggal di sana, karena itu rumah orang tua saya dulu. Eh tahunya rumah itu disegel sama pihak bank." jawabnya pelan tanpa sengaja curhat.

__ADS_1


"Terus sekarang kita ke mana nih?" tanyanya lagi.


"Saya mau cari kos-kosan mas, ya Kalau bisa yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kota.Tukang ojek mengangguk mendengar jawaban Bram.


****


Akhirnya setelah muter-muter hampir satu jam, akhirnya Bram mendapatkan kos-kosan sebuah kamar kecil sederhana. Terletak di pinggiran kota. Uangnya yang tinggal tak seberapa, hanya mampu untuk menyewa kamar kecil ini. Yang penting bisa untuk istirahat. Hanya ada lemari kecil di sudut kamar, dan kasur busa tipis dengan satu bantal. Sedangkan kamar mandi ada di luar kamar, digunakan bersama penghuni kos lain totalnya semua ada lima kamar.


Sungguh Bram tak menyangka kehidupannya akan berubah drastis dalam waktu yang singkat. Semua memang salahnya, coba saja dulu Bram tak tergoda dengan Vanessa. Tentu hari ini Bram masih bisa tidur di rumah dengan kasur yang empuk, bersama Khairul dan juga luna.


"Ah Khairul," tiba-tiba Bram merindukannya "Bagaimana kabarmu sekarang nak? Ayah kangen." batin Bram.


"Besok aku akan mulai cari kerja, mungkin nanti setelah aku mendapat pekerjaan baru aku akan menemui Khairul. Sekarang aku harus putar otak untuk bisa membayar sewa kos dan untuk makan. Karena uang di ATM ku semakin menipis." gumam Bram dalam hati.


Hari semakin sore. Bram baru menyadari dari siang tadi, Bram belum makan. Pantas saja cacing-cacing di dalam perutnya sudah menari-nari minta diisi. Bram keluar berniat mencari warung makan terdekat.


Hingga malam menjelang, Bram sendiri di sini, kembali merasakan sebagai anak kos. Tak ada televisi, tak ada teman, Bram benar-benar seperti anak bujangan dulu. Tapi bedanya dulu Bram punya banyak temannya. kini Bram merasa benar-benar sendiri berbalut sepi.


Bram menghubungi teman-teman, atau rekan saat Bram masih memegang kantor, menanyakan barangkali ada pekerjaan yang cocok untuknya. Hingga beberapa orang sudah ia hubungi, tapi mereka semua jawabannya sama belum ada pekerjaan.


Bram semakin frustrasi, hingga Bram memutuskan untuk besok pagi akan mencari pekerjaan apapun itu, yang penting halal.


Bram siapkan beberapa berkas untuk mencari pekerjaan besok. Setelah semua siap, Bram merebahkan tubuhnya di kasur busa yang tipis, dan hanya muat untuk Dia seorang saja. Mencoba melupakan sejenak. Semua kejadian dan masalah membuatnya pusing. kemudian Ia pun terlelap menjemput mimpi.


Benar-benar tragis kehidupan Bram saat ini.Ia tidak dapat membayangkan kehidupannya strategis ini, sampai dirinya terbawa mimpi.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2