
Bram menghempaskan barang-barang yang berada di dekatnya. Bram memang lelaki bodoh, bisa-bisanya Bram tertipu oleh wanita murahan seperti Vanessa, Entah ini kali beberapa Bram merutuki kebodohannya sendiri.
"Jangan coba-coba merusak barang-barang aku yang ada di rumah ini, Mas! sudah miskin, tak tahu diri, jangan sampai Aku menuntut ganti rugi atas kerusakan barang-barang ku yang kamu hempaskan itu. Lebih baik kau angkat kaki dari rumah ini, aku sudah muak melihat wajahmu!"
Vanessa mendengus mendengar suara hempasan barang-barang yang ia hempaskan.
Bram kembali memasukkan semua bajunya ke dalam koper, Setelah semuanya selesai, Bram menarik resletingnya dan membawanya keluar dari kamar.
"Mengenalmu adalah sesuatu kebodohan terbesar dalam hidupku, Aku tidak menyangka kamu wanita sepicik ini. Kau memang wanita ular. Siapapun yang menjadi pasanganmu kelak, lihat saja mereka tak akan bertahan dengan sikap angkuhmu dan juga matre." Bisik Bram tepat di telinga wanita itu saat melewatinya di ambang pintu. Vanessa tak bergeming.
Bram melangkah keluar rumah. Sesakit inikah rasanya dikhianati, mungkin itu yang dirasakan oleh Luna, Beberapa bulan yang lalu saat dia mengetahui kalau aku menghianati cintanya, sangat wajar bila rasa kecewa begitu dalam. Bram telah menyia-nyiakan permata yang sudah ada di dalam genggaman, demi memilih pecahan beling layaknya sampah, teringat kata-kata yang keluar dari mulut luna. Ternyata inikah yang dimaksud, Luna Maafkan Aku!" tanpa terasa bulir bening luruh dari sudut netranya.
Bram sudah berada di tepi jalan sekarang. Bram tak tahu harus ke mana, ke rumah Luna tak mungkin, yang ada bisa ditertawakan olehnya.
Bram mencoba menghubungi Mbak Rima. Dia juga harus bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi, paling tidak Bram bisa menumpang tinggal di rumahnya.
Beberapa kali panggilan Bram tidak dijawab olehnya, Apa mungkin dia sibuk. Ah, Lebih baik aku langsung ke rumah saja, Mbak Rima menempati rumah peninggalan orang tua mereka. Tapi terakhir Bram mendengar beberapa tahun lalu Mbak Rima ikut suaminya tinggal di luar kota, dan rumah orang tua mereka disewakan.
Mungkin sekarang rumah itu sudah tidak disewakan oleh Mbak Rima, dan Mbak Rima menempati rumah itu selama ia berada di kota ini.
Bram segera memesan ojek online untuk menuju rumah kedua orang tuanya, jarak dari rumah Vanessa ke sana tak begitu jauh sekitar dua puluh ataupun tiga puluh menit menempuh perjalanan jika menggunakan ojek online.
Tak Berapa lama driver ojek online sudah datang. Bram langsung naik ke jok belakangnya, dan kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota yang lumayan macet, menuju alamat yang sudah ia lampirkan di aplikasi.
__ADS_1
Hingga kurang lebih tiga puluh menit kemudian Bram tiba di rumah kedua orang tuanya. Sudah lama Bram tidak pernah datang ke sini. Ada rasa rindu akan rumah ini, tempat di mana Bram dilahirkan. Kenangan bersama Ibu Bapak dan juga Mbak Rima dulu Senyum mereka di bibir Bram.
Namun senyum itu perlahan pudar saat membaca sebuah tulisan yang ditempel di dinding dekat pintu."RUMAH INI DI SITA BANK"
Netra Bram terbuka lebar, memastikan apakah benar yang melihat ini, Bram tak percaya.
Bagaimana bisa rumah itu disita oleh bank? Kenapa Mbak Rima tidak pernah bercerita pada Bram? Apa yang sebenarnya terjadi? pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepala Bram
****
Luna dan Bram memang telah resmi bercerai. semua harta jatuh ke tangan Luna sesuai dengan yang ia inginkan, wanita murahan itu bahkan datang ke rumah meluapkan emosinya karena tak terima dengan putusan sidang.
Bram tak mau kalah kedatangan mereka ke rumah Luna, justru memudahkan Luna untuk menarik motor milik Bram, yang kini sudah beralih menjadi milik Luna, dan menyerahkan sebuah koper berisi baju-baju miliknya.
Sekarang Luna sudah tenang, biarlah nanti Bram akan merasakan balasan dari Allah karena telah menyakiti Luna. Sebisa mungkin Luna tegar demi Khairul putranya.
Beberapa kali, kalau bertanya soal ayahnya yang tak pulang-pulang, tapi dengan hati-hati luna menjelaskan. Jika ayahnya sekarang sudah tak seperti dulu lagi. Bahkan Sepertinya dia mengerti, karena dia sempat bertemu dengan Vanessa di rumah itu, dia juga melihat kedekatan ayahnya dengan wanita itu.
Khairul juga pernah menanyakannya pada Luna soal itu, dan menunjukkan ketidaksukaannya. Dari semua yang ia lihat sepertinya pelan-pelan ia bisa memahami kondisinya, dan mulai menikmati hari hari tanpa bra. Kehadiran Pak Karyo di rumah juga sangat menghiburnya dan Khairul.
Setelah kejadian hari itu, Luna memutuskan untuk pulang bersama Pak Karyo dan juga Maya ke kampung halaman, sejenak menenangkan pikiran dan melupakan semua yang sudah terjadi. Soal kantor, luna serahkan semua pada Bimo, Luna percaya dia mampu menghandle semuanya.
Sudah beberapa hari Luna di kampung tempat di mana Luna dibesarkan, tak banyak perubahan dengan rumah yang mereka tempati selama ini. Masih sama seperti dulu, begitupun dengan kamarnya, masih tertata rapi. Seperti saat terakhir Luna ke sini, terakhir Luna pulang sekitar tiga tahun yang lalu saat idul Fitri.
__ADS_1
Saat itu mereka masih lengkap bersama Bram. Tapi sekarang Luna harus mulai terbiasa tanpanya. Luna harus membuktikan bawa Luna bisa bahagia tanpa Bram.
"Lun! kok masih sering ngelamun?
"Kenapa Nak? masih ingat dengan Bram?
Pak Karyo menepuk pundak Luna mengagetkan Luna yang sedang duduk di teras rumah. Rumah model zaman dulu, adem karena ada beberapa pohon rambutan dan mangga yang tak begitu besar, tapi daunnya lebat menutupi hampir sebagian halaman. Bunga-bunga berwarna merah dan kuning, tertata rapi di dan suasananya pun sunyi karena desanya jauh dari perkotaan.
Hanya beberapa orang terlihat lewat di samping rumah, mereka ramah saat melintas, tak segan untuk menyapa. Membuat siapapun akan bertahan berlama-lama duduk di sana.
Luna menoleh, mengukir senyum manis untuk lelaki pahlawannya, lelaki Cinta pertamanya yang tulus menyayanginya.
"Enggak kok ayah! Luna cuman sedang menikmati suasana di rumah ini, sudah sangat lama juga kan, Luna baru pulang ke sini."
Pak Karyo duduk di samping Luna, meletakkan cangkir kesayangannya yang berisi kopi di meja. Luna ingin menikmati suasana sore yang syahdu ini.
"Hidup itu memang tak lepas dari namanya ujian, nak! Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini, karena Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan."Pak Karyo berucap seakan ia tahu isi hati Luna.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN