Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 81. MASIH BELUM SIAP_ PDHP


__ADS_3

Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Tetesan embun pagi masih belum kering dari sisa hujan semalam. Begitu terasa hangat saat sang surya kini terbit menggantikan malam yang dingin karena guyuran hujan


Kurang lebih tiga tahun lamanya Luna sudah menjalani hidupnya sendiri. Luka lama atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Bram suaminya dulu. Meski berusaha ikhlas, rasa sakit itu masih ada, Bahkan ia merasa begitu sulit melupakan semua itu.


Hingga menjelang siang, wanita berusia sudah kepala 4 itu masih berkutat dengan layar laptopnya di meja kerjanya.


Jaringan ponselnya mengagetkan dirinya yang sedang duduk termenung di meja kerjanya, ia hanya melirik sekilas ke layar pipih yang tergeletak di sampingnya. Ia melihat di layar kalau yang menghubungi dirinya adalah Kia.


Seperti biasa Kia selalu mengirim chat sebatas mengingatkan makan atau istirahat, Ia tak ingin pujaan hatinya itu terus menerus terbelenggu dalam sebuah jerat masa lalu.


Rasa cinta yang membumbung tinggi di dalam hatinya, segala bentuk perhatian dalam mengungkapkan rasa cintanya itu rupanya belum juga mampu menggoyahkan hati Sang wanitanya.


Sampai ia sendiri merasa bingung harus dengan apalagi ia meyakinkan bahwa cinta yang bersemi di hatinya begitu tulus dari dia yang paling dalam.


Luna membuka pesan yang dikirimkan oleh lelaki yang tak pernah lelah mendekatinya dalam kurun waktu hampir tiga tahun.


"Lun, Jangan lupa makan, ya. Aku sudah kirimkan makanan ke kantor buat kamu dan Khairul."pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Kia kepada Luna.


Sesungguhnya di hatinya telah timbul rasa yang ia sendiri tak mengerti, ada rasa senang dan nyaman saat dia memberinya perhatian, walau hanya sekedar lewat pesan.


Kia. lelaki teman masa kecilnya itu pun seakan tahu kesibukan Luna jika sedang di kantor menjadikan luna sering lupa makan.


"Terima kasih Kia. Maaf selalu merepotkan mu."balas Luna


"Aku tidak merasa repot sama sekali kok."Kia kembali membalas pesan Luna.


Sejak pertemuan Pak Karyo setahun yang lalu, di rumah Luna. Kia membuka cabang restoran di kota Jakarta, keberhasilannya dalam mengelola bisnis kuliner di kota Jakarta, membuatnya memiliki inisiatif membuka cabang baru di berbagai wilayah. agar ia lebih dekat dengan sang pujaan Hati.


Dewi almarhumah mantan istrinya, yang sudah lebih dulu menghadap ilahi, masih tetap tersengat di dalam hatinya, Hingga saat ini. Namun, pertemuannya dengan Luna kini mampu membuka ruang baru di hatinya untuk kembali melakukan cinta. Meskipun cinta itu belum bersambut, tapi ia selalu berusaha meyakinkan luna bahwa dirinya begitu tulus.


Ia juga belajar bersabar dan memahami trauma yang dialami oleh Luna. Mungkin Luna berbeda dengan dirinya, jika dirinya mampu membuka hatinya setelah ditinggal pergi oleh istrinya, karena lebih dulu menghadap sang ilahi. Luna akan sedikit sulit membuka hatinya karena disakiti oleh mantan suaminya.


Sang resepsionis Rini langsung menerima makanan yang diantar oleh kurir, ia sudah hafal karena jika bosnya sedang berada di kantor, ia seringkali menerima kiriman makanan.

__ADS_1


Tok ....


Tok ...


Tok ....


Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga luna.


"Masuk!" teriak Luna dari dalam ruangannya


Rini membuka knop pintu ruang kerja luna. ia mengembangkan senyumnya sembari berjalan menghampiri luna


Wanita yang sedang sibuk Menatap layar komputernya itu pun menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa Rin? tanya Luna.


"Ini Bu, ada kurir antar makanan,"ucap wanita cantik itu setelah membuka pintu ruang kerja luna.


"letakkan di sana saja, Rin. Terima kasih ya." Ia menunjuk meja di sudut ruangannya.


Ia duduk dan membuka makanan yang dikirimkan oleh Kia. Senyum mengembang di bibirnya setelah melihat makanan yang dibukanya itu adalah makanan kesukaannya.


Namun, sebelum ia ingin memakannya, ia melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya ini sudah jam Khairul pulang sekolah. Khairul anak lelaki yang kini sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Luna memutuskan menjemput Khairul kemudian mengajaknya ke kantor agar bisa makan sama-sama di sana. mengingat pekerjaannya masih ada yang harus dia selesaikan.


"Ma, Khairul boleh minta sesuatu nggak?"tanya Khairul di sela-sela mengunyah makanannya.


"Apa sayang?


"Khairul mau ngucapin Terima kasih sama Om Mala. Dia baik banget ya Ma. Ini kan salah satu menu makanan di restorannya Om Mala Ma."Luna mengerutkan keningnya.


Anak laki-lakinya itu memang sudah sangat dekat dengan Kia, dan Khairul juga pernah diajak Kia jalan-jalan dan kemudian mampir ke restoran Kia.


"Boleh sayang, sebentar Mama telepon Kia ya,

__ADS_1


"Kok Om Kia, sih? Kan aku bilang Om Mala!"


"Iya, itu sama. Nama om Mala itu kan Malakiano. Jadi mama senang aja manggil Om Kia.


"Oh berarti ada nama panggilan khusus Mama untuk Om Mala? Luna hanya tersenyum menatap putranya Khairul seolah ingin mengetahuinya.


Luna tidak menjawab. Ia memilih merogoh ponselnya yang tersemat di sakunya, kemudian memenuhi permintaan anak semata wayangnya.


"Tak Berapa lama telepon panggilannya pun tersambung. Terdengar suara laki-laki yang selalu menunggu hatinya di seberang sana.


"Assalamualaikum selamat siang, Kia."


"Waalaikumsalam, Luna."


"Terima kasih atas makanannya ya, Oh iya ini Khairul ingin bicara dengan kamu. Luna sengaja menekan tombol loudspeaker pada ponselnya, sebelum memberikannya pada Khairul.


"Halo jagoan, lagi ngapain?"


"lagi main Om. Om Terima kasih ya, makanannya enak banget Khairul suka." ucap bocah sembilan tahun itu dengan sumringah.


Sesungguhnya di lubuk hati Luna, telah hadir getar-getar cinta, apalagi jika melihat kedekatan antara Kia dan Khairul putranya. Luna melihat dengan jelas ketulusan Kia yang sudah menyayangi Khairul seperti layaknya anaknya sendiri.


Namun, rasa trauma itu seringkali mengalahkan semuanya, membuatnya terus-menerus mengatakan belum siap. Karena rasa takut akan kembali gagal, dan rasa takut akan kembali tersakiti Jika ia membina rumah tangga lagi dengan pria lain.


Memang tidak semua lelaki sama. Tapi setelah Luna lihat-lihat di dunia nyata ternyata lelaki tidak banyak yang setia kepada istrinya. banyak pengkhianatan yang terjadi bukan hanya luna yang mengalaminya. Salah satu sahabatnya juga menjadi korban penghianatan oleh suaminya.


Beruntung Desi sahabat dekat Luna memiliki suami yang sangat baik dan setia. Desi juga memiliki suami seorang pengacara membuat Desi benar-benar bahagia. Walaupun dirinya menikah sedikit terlambat. Itu tidak masalah baginya, yang penting kehidupan rumah tangganya baik-baik saja dan jauh dari masalah yang namanya pengkhianatan.


Kini Luna benar-benar bingung mengambil keputusan. langkah apa yang akan ia ambil kelak. Ia belum bisa memutuskannya sekarang, Padahal Kia sudah sangat lama menanti jawaban Luna.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2