
Mereka memang seperti ini , suka bercanda agar suasana di tempat kerja tidak terasa jenuh.
"lha terus ada apa? kok tumben paman telepon mas Bram?"
"Ada deh! kamu nggak usah tahu." Bram masih saja betah membuat Sugi penasaran.
"Ah mas Bram tidak asik ah!" gerutu Sugi.
Bram kembali merenung, terbayang saat-saat waktu di kantor. Rini begitu cekatan ramah dan profesional dalam bekerja. Ah kenapa lagi-lagi pikiranku mengarah kepada hari ini? apa ini akibat aku lama sendiri, jadi pikiranku pun seperti anak muda yang sedang memikirkan lawan jenis. Bram mengusap kasar wajahnya
"Kenapa sih Mas? gusar banget kayaknya?
"He....he...he Sugi, Oh ya kamu sudah makan?" tanya mengalihkan pembicaraan.
"Sudah tadi di rumah."
hari ini berlalu seperti biasa tak ada yang spesial.
hingga sore menjelang dikejutkan oleh seseorang yang datang, seseorang yang Sejak pagi sempat mengganggu pikirannya.
Rini. wanita cantik berusia 3 tahun lebih muda dari Bram mungkin baru pulang dari kantor, Karena untuk sampai ke rumahnya iya pasti akan melewati jalan di mana tempat Bram bekerja.
"Rini!"mau makan tanya Bram ketika ia telah berdiri di depan etalase.
"Ngak Pak, Masih kenyang kebetulan lewat sini jadi mampir. sebenarnya kemarin malam saya kemari bawakan martabak buat Pak Bram karena sekedar untuk rasa Terima kasih saya, tapi ternyata pak Bram sudah pulang sampai jam empat sore saja katanya di sini." ucap Rini.
"Oh iya kebetulan aku semalam shift pagi jadi jam kerjaku hanya sampai jam empat sore, tak perlu berterima kasih berlebihan Rin, saya juga cuman nganterin dompet kamu yang ketinggalan kemarin, sudah sewajarnya karena kamu rekan kerja saya dulu. iya walaupun keadaannya sekarang aku bukan siapa-siapa lagi."
"Tak perlu merendah begitu Pak, kerja apapun yang penting halal, dan ambil pelajaran dari semua yang telah terjadi." Bram mengangguk mendengar ucapannya. Rini menanggapinya dengan mengulas senyum di bibirnya.
"Jangan panggil saya pak lagi ya Rin! sekarang saya bukan atasan kamu lagi,"ucap Bram terkekeh. Karena sekarang aku sudah bukan siapa-siapa di kantor itu jadi tak sepatutnya Rini masih memanggil Bram dengan sebutan, Pak.
"Oh, baiklah Pak. Ehm maksud saya,"ucap Rini dengan sedikit salah tingkah.
Bram tersenyum melihatnya, Mengapa saat ia Salah tingkah terlihat begitu menggemaskan. Ah Bram kamu ini apa-apaan sih, rutuknya dalam hati. tapi sungguh Mengapa Bram jadi merasa begitu senang melihat senyuman itu, padahal beberapa tahun berapa di kantor bertemu setiap hari. tapi kenapa sekarang rasanya berbeda.
"Mau duduk dulu di depan?"tower Bram karena merasa nggak enak saat ada kawan yang datang harus bicara sambil berdiri di depan etalase begini.
__ADS_1
"Ehm, nggak perlu mas. ini juga sudah sore, Saya hanya mampir sebentar saja. ini jadi nggak bawa apa-apa sebagai ucapan terima kasih saya,"Rini Ternyata enak hati karena gagal memberikan makanan untuk Bram semalam, dan sekarang Ia datang Tak membawa apapun.
"Tak apa. tak perlu repot-repot Rin," sahut Bram.
"Ehm gini aja. Kalau Mas berangkat keberatan sepulang kerja mampir ke rumah, untuk makan malam di rumah Bagaimana Mas? Itu juga kalau Mas Bram mau. Kalau tak mau juga tak apa, saya mengerti," ucap Rini.
Ada rasa membuncah di dalam dada mendengar tawaran ini, terselip di dalam hati sebait doa. "Ya Allah jika engkau mentakdirkan kita untuk berjodoh maka mudahkanlah kami untuk bersama."
Bram mengangguk.
"Iya nanti saya mampir ke rumah." ucapkan sambil tersenyum, Dan disambut Senyum mereka di bibirnya.
"Okey mas. sekarang Saya permisi pulang ya,"pamit Rini.
"Iya, hati-hati Rin." Rini mengangguk tersenyum.
Ada rasa bahagia dan juga rasa malu terus di dalam hati. Yah, drama lu karena Rini juga orang yang tahu bagaimana Bram dulu saat berselingkuh dengan Vanessa.
Tapi dia berusaha bersikap profesional, dia tak pernah ikut campur dalam urusan pribadi Bram antara Bram dan Luna dan juga Vanessa. iya tetap bekerja dengan semestinya sesuai kerjanya.
"Cie cie ada yang abis disamperin cewek cantik nih!" Sugi meledak Bram saat Rini sudah berlalu dan tak terlihat lagi.
"Ih, ini anak apaan sih, ngiri ya! Hayo....! Bram balas meledeknya. karena Bram tahu kalau Sugi juga jomblo.
"Ngak lah, walau aku jomblo tapi aku sudah punya gebetan mas!" sungut Sugi.
"Oh ,ya mana Aku nggak pernah lihat."
"Ada lah, Nanti kalau udah jadian aku kenalin." kelakarnya.
Dasar anak ABG labil ada-ada saja. Bram menggeleng sendiri melihat Sugi.
Akhirnya jam kerja Bram selesai, Bram pun pamit, kepada orang yang akan menggantikan dirinya melanjutkan pekerjaan mereka.
Bram lajukan kuda besinya menuju rumah Rini. Nanti aku beranikan diri untuk meminta nomor ponselnya deh." gumam dalam hati.
Tak menunggu lama berantem sampai Di pelataran rumah teduh dan asri itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ucapkan Seraya mengetuk pintu rumah Rini.
"Waalaikumsalam, Maaf Mas cari ibu ya?" jawab seseorang yang berdiri di rumah sebelah.
"Iya Bu, sahut Bram, mungkin ibunya Hesti pikir Bram.
"Oh, tunggu sebentar mungkin lagi dapur Jadi nggak dengar orang ketuk pintu. sebentar ya saya panggilkan dari pintu belakang ya Mas." gram mengangguk tersenyum, baik juga tetangganya Rini ini.
Bram duduk menunggu di kursi teras rumahnya. suasana sore 6 sejuk begitu terasa di sana, lokasi tempat tinggal Rini yang agak jauh dari kota, menyuguhkan suasana berbeda, Adam dan tidak begitu ramai.
Bram sekeliling tampak sepi. hanya terlihat beberapa orang lalu lalang, kemudian menoleh dan mengangguk tersenyum ke arah Bram sungguh di lingkungan yang damai dan penghuninya ramah.
"Mas Bram, Maaf Mas tadi aku sama mama lagi di dapur, jadi nggak dengar Mas Bram datang. Maaf ya Mas! yuk mari masuk Mas ajak Rini.
Sekilas Bram pandang wajahnya. Cantik lembut ,senyum yang begitu manis meluluhlantahkan hati Bram. denyut jantung terasa memompa lebih cepat dari biasanya, Kenapa jadi guguk seperti ini sih! padahal dulu Bram sudah biasa ketemu Rini, bahkan sering sekali bertemu dengan kolega dan rekan bisnis baru, dan orang-orang baru tapi mengapa kini rasanya berbeda.
Bram mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah dan mendaratkan bobotnya di sofa.
"Jadi ini toh, calonnya Rini, wah ganteng ya!" ucap wanita paruh baya yang merupakan tetangganya Rini. yang tadi bertemu di depan rumah.
Bram, tercengang dan seketika membuat dahinya menggereyit mendengar ucapannya. lirik Rini hanya menggaruk alis matanya.
"Bude, apaan sih! ini teman Rini Bude!" sahul kredit yang terlihat salah tingkah.
"loh teman terus lama-lama jadi teman Iyo ndak apa-apa toh!" kekeh wanita yang dipanggil Bude oleh Rini. usianya memang terlihat lebih tua dari ibunya Rini.
"Sudah Bude, Jangan gitu sebentar ya Mas saya buatkan minum dulu." Bram hanya mengangguk tingkah Rini saat ini diledek Budenya, membuat Bram senyum-senyum sendiri.
Rini pun melenggang masuk ke dalam. Dan Budenya kini mendaratkan bobotnya di sofa. duduk berhadapan dengan Bram, terhalang oleh meja.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1