Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 60. HANYA PELAMPIASAN _ PDHP


__ADS_3

"Sabar, Mbak! mungkin ini sudah menjadi jalan yang harus Aldo lalui, yang terpenting sekarang kalau sudah tahu bagaimana latar belakang Vanessa, dan Mbak jangan lengah."


Mendengar percakapan mereka membuat kepala Vanessa semakin pusing, Vanessa bersandar di dinding dan perlahan luruh terduduk di lantai, rasanya begitu tersayat.


Vanessa meremas kuat pangkalan rambut di kepalanya, Vanessa memang mau menikah dengan Aldo bukan karena cinta, tapi mengapa sekarang matinya terasa nyeri saat Vanessa mengetahui kenyataan bahwa Aldo menikahinya sebagai pelampiasan.


"Va.... Vanessa! kamu kenapa? Tante Rina sudah berdiri di hadapan Vanessa, dan mengernyitkan keningnya melihat Vanessa terduduk di lantai, dan sedetik kemudian menarik sudut bibirnya.


"Owh, kamu mendengar percakapanku dengan mbak Alena, tadi ya?"


Vanessa hanya terdiam, mencoba bangkit untuk berdiri.


"Jangan kira saya tidak tahu perangaimu terhadap keluarganya Luna! Memang Luna tidak pernah cerita tentang keluarganya yang sudah berhasil kamu hancurkan. Tapi sebagai tetangga rumahnya, semua kegaduhan yang sempat kau ciptakan, sudah cukup membuat saya tahu, Siapa kamu! jadi jangan coba-coba untuk membuat kegaduhan di keluarga ini!" ancam Tante Rina.


Tante Rina berkata dengan tegas dan sorot mata tajam, membuat nyali Vanessa menciut. tenggorokannya tercekat, membuatnya kesulitan untuk menelan silvanya.


"Dan satu lagi, tak perlu kamu pura-pura sedih seperti itu, untuk menarik simpati kami. Aku tahu betul perempuan seperti apa kamu, yang ada di otakmu hanya uang, dan uang dasar wanita murahan," umpat Tante Rina.


Belum juga Vanessa mengeluarkan suara, Tante Rina kembali berucap dengan begitu pedasnya.


"Tante, Sa....Saya. "


"Nikmati hari-harimu di sini! Jangan harap kamu bisa merongrong harta dari keluarga ini, itu takkan pernah bisa terjadi. Mengerti kamu! cukup keluarga Luna yang menjadi korban, tak akan aku biarkan keluarga ini kau hancurkan! dasar sampah! kau jajakan kemolekan tubuhmu untuk menggaet laki-laki kaya, begitu menjijikan! ucap Tante Rina dengan tatapan nyalang. Meskipun yang dikatakan itu ada benarnya, tapi tetap Vanessa merasa terhina oleh kata-katanya.


Seketika tangan ini mengayun untuk menamparnya, ingin rasanya Vanessa sumpel mulut pedasnya itu. Tak peduli ia lebih tua darinya.


"Heh! Vanessa! apa-apaan kamu ini! mau tampar Tante Rina!"

__ADS_1


"Sial! belum sampai tangannya menyentuh tubuh wanita itu, Kini tangan Vanessa terhenti di udara karena berhasil dicekal oleh ibu mertuanya, yang kini sudah ada di dekat mereka. Kemudian menepis pergelangan tangan Vanessa dengan kasar.


"I....Ibu."


"keterlaluan kamu, Vanessa!"nggak punya sopan santun kamu! mau tampar tante Rina! itu sama saja kamu menampar ibu! dasar menantu kurang ajar! ingat kamu cuman numpang di sini! aku bisa saja mengusirmu kapan saja!" hardiknya dengan dada naik turun, sorot mata tajam dan memerah, menatap melekat ke arah Vanessa.


Vanessa semakin tersudut.


"Ingat ya, Vanessa! Ibu bisa saja meminta Aldo untuk segera mencarikan Kamu. Kapan saja, melihat sikap Aldo sekarang begitu acuh sama kamu!"


Ibu Alena berucap dengan tatapan nyalang, wajahnya memerah benar-benar sangat emosi, sepertinya kemarahannya kali ini tak main-main.


Vanessa semakin terpojok, tak ada yang membelanya melawan dua wanita yang ada di hadapannya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, kesal, marah, sebel, kecewa, semuanya campur aduk menjadi satu itu yang Vanessa rasakan.


Vanessa membuang nafas kasar, sambil berdecak kesal, Vanessa melongos meninggalkan mereka dan melenggang ke kamar tanpa permisi.


"Hey dasar menantu kurang ajar! nggak ada sopan santunnya!"


Sayup-sayup masih terdengar mereka membicarakan tentang Vanessa.


"Benar-benar, Mbak! menantumu itu perlu diajari sopan!"


"Hah, mimpi apa mendapatkan menantu seperti dia, Tak habis pikir sama Aldo mau menikahi wanita murahan seperti dia. "


Kembali terdengar Ibu Alena mengumpat Vanessa. Vanessa Hanya duduk di bibir ranjang, memijat lembut pelipisnya.


"Eh, tapi Mbak Bagaimana jika nanti Vanessa hamil, kamu mau punya cucu dari wanita seperti itu? dia makin besar kepala nanti jika dia hamil." suara tante Rina terdengar pelan di luar kamar, tapi masih terdengar jelas oleh telinga Vanessa.

__ADS_1


Vanessa cukup terperangah mendengar ucapannya kali ini. Tapi sedetik kemudian Vanessa membuang nafas kasar.


"Huh, bagaimana aku mau hamil, kalau setiap Aldo meminta haknya, dia selalu memakai alat kontrasepsi. Jika aku bertanya kenapa, selalu memakai itu, Aldo selalu bilang dia belum siap memiliki anak.


Membuat Vanessa tak bisa berkata apa-apa, memang sepertinya Aldo tak ingin memiliki anak dari Vanessa. Menyedihkan.


"Entahlah, sampai sekarang sih belum ada tanda-tanda dia hamil, semoga saja dia jangan sampai hamil,"ucap Ibu Alena menyahuti Tante Rina. Perlahan suaranya menjauhi hingga terdengar tante Rina pamit untuk pulang.


Keluarga ini sudah memegang kartu Vanessa. entah bagaimana nanti nasibnya ke depan. Apakah Vanessa masih sanggup bertahan di tengah tekanan batin seperti ini, atau Vanessa akan menyerah sebelum dapat apa-apa.


Mengambil simpati Ibu Alena, rasanya sudah tak mungkin lagi. Satu-satunya kini yang bisa Vanessa perjuangkan adalah Aldo. Semoga sikap cuek dan putusnya perlahan bisa memudar dan kembali lembut dalam pelukan Vanessa.


Vanessa rebahkan tubuhnya di samping suaminya yang kini masih terlelap, membelai lembut pipinya, merasakan hembusan nafas yang teratur, Ia pasti tengah mengarungi alam mimpinya. Vanessa mengusap lembut dada bidangnya, pikiran Vanessa melayang mencari cara untuk membuatnya kembali tertarik dan tergila-gila padanya.


Semenjak Vanessa dituntut untuk diam di rumah, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, Vanessa memang tidak bisa berbuat banyak. Perawatan gas salon yang dulu rutin ia lakukan pun kini hampir tiga bulan tak melakukannya.


Vanessa bangkit menatap penampilannya ke cermin, tak bisa dipungkiri penampilannya kini begitu berantakan, rambut acak-acakan wajah kusam dan berminyak, belum lagi ada sedikit beruntus jerawat di sekitar dahi.


"Ah, mungkin dengan Vanessa kembali melakukan perawatan, Aldo akan kembali menghangat setidaknya dengan merubah penampilan, Aldo tak lagi ketus, dan cuek ataupun kasar lagi.


Setiap minggu Vanessa hanya dijatah Aldo lima ratus ribu, itupun jika Vanessa tak memintanya dia akan pura-pura lupa dan tidak memberikan Vanessa uang saku, untuk urusan makan dan keperluan dapur lainnya itu urusan ibu Alena, uang segitu untuk kebutuhan dirinya saja, memang tak seberapa. Tapi tak masalah jika Vanessa menggunakannya untuk perawatan walau seminggu sekali.


Biar nanti sambil jalan Vanessa cari cara untuk meminta uang lebih pada Aldo, Vanessa nggak bisa kalau terus dijatah uang segitu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2