Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 97. KONDISI SEMAKIN MEMBURUK_PDHP


__ADS_3

Bram beranjak keluar untuk mandi. Bram tak akan bisa tidur jika badannya masih lengket.


Setelah mandi, Bram rebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Bram meraih ponsel miliknya yang sudah bersamanya beberapa tahun ini. Layarnya ada sedikit retak tapi semuanya masih berfungsi dengan normal.


Ada sebuah pesan dari Rini. Semenjak acara makan malam di rumah Rini, memang hubungan Rini dengan Bram semakin dekat. Mereka semakin intens berkomunikasi melalui seluler. Tak ada ikatan apapun mereka hanya berteman.


Rencananya Bram akan menceritakan tentang Rini pada Mbak Rima, jika Bram memiliki perasaan terhadap Rini. Jika Mbak Rina setuju, Bram akan mendekatinya dan pelan-pelan ia sampaikan sebuah rasa yang beberapa waktu terselip di dalam hatinya.


Namun, kondisi Mbak Rima yang masih sakit. akhirnya Bram mengurungkan niatnya. Bram menunggu Mbak Rima membaik agar tak menambah beban pikirannya.


"Mas, Semoga dilancarkan semua pekerjaan kamu hari ini."pesan Whatsapp dari Rini. Sore tadi Bram memang berkabar kalau ia mengambil Job dekor malam ini


"Iya terima kasih Rini. Ini aku baru sampai di rumah, Kamu belum tidur? balasan whatsapp dari Bram.


"Belum Mas."


"Tidurlah, ini sudah malam. Besok kamu kerja, kan! Rin Terima kasih ya."


Terima kasih mau berteman denganku meski kau tahu sebenarnya aku dulu Seperti apa. orang lain pasti lebih memilih mundur dan jaga jarak denganku, sebelum timbul adanya rasa diantara Kita. Tapi kamu masih mau berteman denganku di saat keadaanku susah seperti sekarang ini." batin Bram sesaat setelah membalas pesan Rini.


"Terima kasih? untuk?


"Untuk semuanya, meski kamu tahu masa laluku seperti apa, tapi kamu masih mau berteman denganku."balas Bram cepat.


"Semua orang berhak berubah dan berhijrah menjadi lebih baik Mas, jika masa kelamnya itu mampu mengubah menjadi sosok yang lebih baik, itu patut diancungi jempol."balas Rini disertai dengan emosian senyum dan Dua jempol.


Bram tersenyum membaca. Rini benar, Bram sedang berusaha, Bram sudah menyesali semua perbuatannya dulu. Dan kini Bram belajar kembali menata hidup. Bram bersyukur masih ada wanita baik yang mau dekat dengan Bram terlebih wanita itu tahu bagaimana perangainya dulu.


"Aku janji Rin, Aku bukan Bram yang dulu. Sudah cukup semua penderitaan yang aku alami ini Sebagai pembelajaran. Sekarang ini aku hanya ingin hidup damai, tentram, memiliki keluarga untuk menemani hari-hari tua aku nanti.


"Kamu tak malu berteman denganku? padahal kamu tahu bagaimana masa laluku dulu, Rin?"tanya Bram dalam pesan whatsapp-nya.


Mereka memang hanya lebih sering berbalas pesan ketimbang telepon atau bertemu langsung. Mereka sudah sama-sama berusia matang, tapi jika sedang begini, Bram merasa Tak ada bedanya dengan tingkah Sugi, ha ha ha.

__ADS_1


Bram lihat Rini sedang mengetik.


Ting!! sebuah pesan masuk dari Rini.


"Kenapa harus malu Mas, setiap orang punya masa lalu. Bukankah masa sekarang dan masa depan jauh lebih penting."balasan dari Rini.


Bram hanya mengangguk membaca pesan Rini. Dia benar, masa sekarang Bram sudah berubah dan masa depan tentunya jauh lebih penting. Masa lalu biarlah berlalu. Bram sudah menguburnya dalam-dalam.


Bram kembali mengetik kalimat untuk membalas pesannya. "Terima kasih Rin, bolehkah aku mengenalmu lebih dekat? belum Bram kirim Bram kembali menghapusnya.


"Terima kasih Rin, sekarang sudah malam istirahat lah."Bram mengirim pesannya.


Bram ingin mengenalnya lebih dekat, berarti ingin dia tahu Bram memiliki rasa terhadapnya. Tapi belum takut dia menolak Bram. Bram juga takut Rini hanya ingin berteman saja dengannya, dan bagaimana jika cintanya bertepuk sebelah tangan? apalagi kondisi keuangan Bram sekarang inim Ah sudahlah, biar waktu yang menjawab semuanya." gumam Bram dalam hati.


Hanya lewat doa Bram sebut namanya Semoga Allah berkenan menjodohkan nya dengan Rini.


"Iya Mas, selamat malam.


Semoga seiring berjalannya waktu, ia mulai paham jika Bram memiliki rasa terhadapnya, Bram pun tak ingin terburu-buru, biar cinta terjalin ini mengalir apa adanya.


Kembali Bram mengingat wajah cantiknya, mengingat Senyum manisnya, dengan gigi gingsulnya yang menambahkan keindahan senyum itu. "Ya Allah, izinkan aku untuk menghalalkannya."doa Bram dalam hati.


Pagi ini, seperti biasa Bram akan bekerja, sebelum berangkat Bram siapkan makanan untuk Mbak Rima sarapan, juga untuk Mbak Rima makan siang, semenjak dia sakit Bram memang harus ekstra melakukan ini dan itu agar Mbak Rima tidak perlu repot memasak untuk makan siangnya.


Setelah semuanya siap, Bram mengajak Mbak Rima sarapan, Bram tatap wajahnya yang pucat itu.


"Mbak, Hari ini kita ke rumah sakit aja yuk."ajak Bram.


"Ah, tak perlulah Bram, kamu juga kan harus kerja. Lagian obat Mbak yang dari klinik juga masih ada."tolak Mbak Rima.


"Mbak, soal kerjaan gampang, aku bisa izin datang siang hari, setelah mengantar Mbak Rima dari rumah sakit."lagi lagi Bram berusaha meyakinkan Mbak Rima, apapun alasannya kesehatannya adalah jauh lebih penting bagi Bram .


"Gampang nanti saja Bram, nunggu obat yang sekarang ini habis ya."

__ADS_1


"Hm, baiklah kalau begitu mbak. Bram cuma pengen Mbak bisa segera sembuh,"pungkas Bram.


Usai sarapan, Bram langsung berangkat ke tempat kerjanya. Entah Mengapa Bram merasa Mbak Rima seolah pasrah dengan penyakitnya itu, ia seolah tak bersemangat untuk sembuh.


Ada ide untuk mengajak Khairul main ke rumah usai pulang kerja nanti, Bram bisa menjemputnya dan membawanya ke rumah untuk bertemu Mbak Rima, Siapa tahu kehadiran Khairul di sini bisa sedikit membantu, membangkitkan semangatnya untuk sembuh.


Sejatinya kesembuhan itu juga terlahir dari dalam diri kita melalui rasa semangat yang timbul dari diri kita, sehingga fisik kita merespon dan membangkitkan aura positif yang baik untuk membantu kesembuhan.


Sesampainya di tempat Bram bekerja, Bram langsung merogoh saku celananya mencari benda pipih kesayangannya untuk menghubungi Luna.


"Halo assalamualaikum Lun!"sapa Bram pada mantan istrinya di seberang sana.


"Waalaikumsalam iya Mas!"


"Lun, saat ini kondisi Mbak makin menurun, tapi ia selalu menolak untuk ke rumah sakit. Kalau boleh usai pulang kerja nanti, aku ingin membawa Khairul untuk menemuinya, Semoga dengan kehadiran Khairul, Mbak Rima kembali bersemangat untuk sembuh." keluh Bram.


"Boleh, nanti aku sama Khairul saja yang ke sana mas, karena aku juga sekalian ingin menjenguk Mbak Rima, kalau boleh? tanya Luna di seberang sana.


"Oh tentu saja boleh,datanglah. Aku justru berterima kasih, kamu berkenan menjenguk Mbak Rima."


"Tentu Mas, bagaimanapun juga Mbak Rima itu kan budenya Khairul. Nanti sore aku ke sana. Kamu share lokasi aja ya.'


"Oke terima kasih ya, Lun." setelah selesai berbicara dengan Luna Bram memutuskan panggilan telepon selulernya.


Semoga dengan kedatangan Luna dan Khairul, Mbak Rima menjadi senang dan mau kembali semangat untuk sembuh.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2