
Pagi hari usai sarapan pagi, Bram putuskan untuk menunggu angkutan umum di tepi jalan tak jauh dari kos, dengan naik angkutan umum Bram merasa bisa sedikit berhemat dari naik ojek.
Bram turun dari angkutan umum di kawasan perkantoran. Deretan gedung dan ruko perkantoran satu persatu Bram masuki..Siapa tahu mereka membutuhkan karyawan.
Namun, jawaban mereka sepertinya kompak "Maaf tidak ada lowongan kerja di kantor kami." itu yang selalu didengar oleh Bram saat dirinya bertanya kepada beberapa perusahaan dan toko-toko.
Mencari pekerjaan memang tak mudah, tapi Bram dengan mudahnya menyia-nyiakan keadaan yang sudah enak sebagai pimpinan perusahaan dengan bermain api seorang wanita seperti Vanessa. Kini Bram merasa betapa susahnya memulai semuanya dari nol, ditambah lagi di usianya yang tak muda lagi.
Sungguh semua tak mudah. Peluh mulai membasahi tubuhnya. Hingga kini kakinya berhenti di sebuah restoran. Tak ada salahnya Bram bertanya, barangkali restoran itu membutuhkan seorang pegawai kebersihan ataupun itu, asalkan Bram bisa dapat pekerjaan.
Pandangannya lurus ke depan menuju bagian kasir. Karena di sana Bram melihat seseorang yang sedang berdiri mengawasi para karyawannya, ia berpakaian rapi yang seperti ia ketua pengelola restoran.
Brugh!
Tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang wanita. Seketika map dokumen jatuh ke lantai.
"Ma....maaf Mbak, maaf Mbak. Bram spontan tanpa menoleh wajahnya, karena langsung fokus memungut map dokumen yang terjatuh.
"Mas Bram!"
Sepertinya Bram mengenali suaranya.
"Vanessa!" Bram sedikit terkejut bertemu wanita itu di sini. Terlihat Vanessa menggandeng seorang laki-laki. Tapi tunggu, lelaki itu bukanlah lelaki yang ia lihat kemarin. lelaki mana lagi yang akan menjadi targetnya? Vanessa menatap Bram dengan sinis.
"Kau mengenalnya?" tanya lelaki itu pada mantan istri Bram.
"Iya, tapi sudahlah, itu tidak penting. Dia bukan siapa-siapa." Vanessa menjawabnya dengan tetap menatap ke arah Bram
"Dasar wanita murahan." desis Bram.
"Tutup mulutmu, dasar laki-laki miskin." balasnya dengan suara pelan.
"Hidupku hancur gara-gara kamu!" balas Bram
laki-laki di sampingnya tampak bingung melihat mereka dengan tatapan aneh. Kemudian Vanessa menarik lengan lelaki itu berjalan menjauh ke arah pintu keluar.
Setelah memutar-mutar seharian Bram belum juga dapat kerjaan. " Oh Tuhan Kenapa hidupku jadi sesulit ini." gumamnya dalam hati
Hari sudah semakin sore. Bram putuskan untuk kembali ke kos dan mulai mencari kerjaan besok. Tak lupa Bram mampir ke warung nasi untuk membeli sebungkus nasi, perutnya terasa lapar karena dari pagi baru terisi nasi waktu sarapan. Siangnya ia tidak makan agar sedikit berhemat.
__ADS_1
Usai membeli nasi di warteg tak jauh dari kos-kosannya ponsel Bram berdering yang ada di saku celananya sambil bergetar Bram bergegas merogohnya. Tertera nama Mbak Rima di layar pipih yang masih bergetar itu. ia menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada mbak Rima.
"Hallo Mbak! Mbak ada di mana? tanya Bram langsung dengan rasa kesal membara
"Bram, Aku tadi dari rumahmu sama Vanessa tapi kok sepi? Kamu di mana? bukannya menjawab pertanyaan Bram justru Ia baru bertanya
"Aku sekarang udah nggak tinggal di sana
Mbak, aku sudah bercerai sama Vanessa." jawab Bram lesu karena harus membahas wanita murahan itu.
"Apa?
"Kok bisa?
"Ada masalah apa?" suaranya Mbak Rima sepertinya terkejut mendengar ucapan Bram.
"Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan semua. Mbak juga harus jelaskan semua sama aku tentang rumah Ibu." ucap Bram.
"Ru...umah Ibu?
"Iya mbak, sekarang aku tinggal di kosan. Mbak datang ke sini. Aku tunggu! aku segera kirimkan share lokasinya." ucap Bram di dalam sambungan telepon selulernya, lalu langsung memutuskan sambungan telepon selulernya, kemudian Ia pun mengirimkan share lokasi di mana tempat tinggal saat ini.
Bram merebahkan tubuhnya di kasur tipis angan Bram menerawang sambil menatap langit-langit kamar. Ada rasa rindu terselip di hati pada Khairul, anak semata wayangnya. Tapi ia juga ada rasa malu saat Bram bertemu mereka. Karena kini wanita yang Bram Banga banggakan lebih baik dari Luna, kini Tak ubahnya hanya pelacur
Drrrrrt
suara getar ponsel berada di sampingnya mengagetkannya.
"Bram Mbak sudah di depan kos, kamu keluar."
Bram bergegas keluar kamar dan melihat di depan, terlihat Mbak Rima sudah ada di luar pagar. Dengan langkah cepat Bram Jalan menemuinya
"Ayo masuk mbak, kita bicara di dalam. meskipun Bram kesal padanya, tapi Bram harus tetap berusaha bersikap baik padanya, bagaimanapun juga dia adalah saudara kandungnya satu-satunya.
"Apa tak apa-apa Bram?" tanyanya sambil melihat-lihat ke semua arah.
"Nggak apa-apa. Ayo, yang punya kos baik kok."
Mereka pun jalan beriringan masuk ke dalam, letak kamar yang berada pada paling ujung.
__ADS_1
"Jadi Mbak sebenarnya tinggal di mana sekarang?" tanya Bram mulai membuka percakapan.
Sejenak suasana hening. Mbak Rima hanya diam sambil memainkan ponselnya. Sepertinya ada yang disembunyikan darinya.
"Mbak Sekarang jujur sama Bram , Kenapa rumah itu disita? Sebenarnya apa yang terjadi?Bram bertanya pada wanita yang duduk di depannya, kali ini dengan nada penuh ketegasan.
Mbak Rima menghirup nafas panjang. kemudian dihembuskannya dengan kasar.
"Maafkan Mbak Bram, rumah itu memang sudah disita bank sejak dua minggu lalu." Mbak Rima tertunduk. Jawabannya membuat alis Bram bertaut.
"lalu sekarang Mbak Rima tinggal di mana?
"Mbak tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari rumah Ibu Bram."
Bram menggelengkan kepala, masih tak mengerti. Semua masih belum jelas, ia ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Coba Mbak ceritakan semuanya, Kenapa rumah itu sampai disita bank? Bram membuang nafas dengan kasar melihat gelagat Kakak perempuannya ini.
Sebenarnya suami Mbak kenapa PHK. tak lama setelah Mbak ikut pindah ke luar kota Bram. Dan suami Mbak berencana untuk mendirikan sebuah perusahaan baru bersama temannya. Mendirikan sebuah perusahaan itu bukan hal yang mudah, butuh dana yang tidak sedikit. Semua tabungan kami keluarkan, itu pun masih kurang. akhirnya Mbak menyetujui usul suami Mbak untuk pinjam ke bank, dan rumah itu sebagai jaminannya." Rima menjelaskan dengan tatapan nanar. Kemudian terdiam.
"Terus? tanya Bram. Bram yakin mbak Rima belum selesai bercerita.
"Ternyata, kami kena tipu sama temannya suami Mbak. Semua uang kami raib dibawa kabur, habis semua." ucapnya lirih kedua netranya berkaca-kaca dan perlahan membasahi pipinya.
Bram terenyuh melihat kesedihan yang dialami Kakak perempuannya.
"Kenapa Mbak menyembunyikan ini dariku Mbak? Kenapa Mbak nggak cerita sama aku dari awal? tanya Bram pada Mbak Rima menangis terguguk.
Mbak Rima hanya menggeleng sambil terus-terus terisak. Bram menghela napas panjang.
"Lalu di mana suami Mbak sekarang?
"Suami Mbak pergi entah ke mana, setelah berhasil menjual rumah yang kami tinggali di sana. Dan pergi membawa uang hasil jual rumah itu. Bahkan suami Mbak tak peduli dengan mbak, dan dengan semua hutang di Bank. Hingga pada akhirnya rumah Ibu itu disita Bank." ucap Mbak Rima dengan suara parau.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN