Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 43. DI PECAT_ PDHP


__ADS_3

Mendengar ucapan Maya, Vanessa tampak marah, raut wajahnya kembali memerah, dan hendak membalas perkataan Maya.


"Apa! mau marah! Hah? Memangnya itu semua kenyataannya, kan! Kamu itu sampah!"Belum sempat Vanessa berucap, Maya kembali meluapkan emosinya.


"Sudahlah Mas!p cepat kalian pergi dari sini! mana cepat kunci mobilnya!"


"Ta ...tapi, lun!"


"Nggak ada tapi-tapian! ini kopermu, dan sini kuncinya, cepat! aku mau jemput Khairul di sekolah."desaknya lagi.


Dengan berat hati Bram rogoh saku celananya, dan memberikan kunci mobilnya pada mantan istrinya. Bram melirik Vanessa di sampingnya, ia menggeleng dengan mata membelalak, tanda tak setuju. Namun, Bram tak punya pilihan lain, Bram menyerahkan kunci mobil pada lunak.


"Nah gitu dong dari tadi! jadi kan nggak buang waktu! cepat pergi sebelum aku panggil security komplek untuk mengusir kalian dari sini!"Luna menarik kasar kunci motor di tangan Bram.


Luna benar-benar seperti seorang rentenir yang sedang menagih hutang, Tak Terlihat Lagi senyum manis dan kelembutan seperti dulu.


"Heh, Bram! kamu nggak tuli kan? cepat pergi!"kali ini mantan Ayah mertuanya, mendorong pelan bahu.


"Ayo Mbak Rima, Vanessa kita pulang,"ucapkan datar pada dua wanita yang ada di depannya.


"Tapi Bram! gimana dengan Mbak, Mbak pulang naik apa! Mbak Rima terlihat bingung karena kini hanya ada motor Vanessa.


"Kita pesan ojek online Mbak, ayo kita keluar dari sini."


Bram menarik koper itu, dan meletakkannya di bagian depan motor matic milik Vanessa, tak lupa berapa mesen ojek online untuk Mbak Rima.


"Ayo masuk, Mbak!"terdengar Maya mengajak Luna yang masih menatap Bram, Vanessa dan Rima di ambang pintu itu, untuk masuk ke dalam rumah.


Luna beserta adik dan ayahnya masuk ke dalam, dan terdengar mengunci pintunya.


Bram menatap rumah itu, sederet kenangan saat Bram dulu membelinya, dan pertama kali pindah ke rumah, bayangan itu menari di kepala Bram. Ia mengusap wajahnya dan kenyataan pahit ini harus Bram telan, rumah ini sudah menjadi milik Luna sekarang. Semoga Bram bisa memulai semua dari awal bersama Vanessa. Mereka bertiga akhirnya kembali ke rumah.


Tiba di rumah, bukannya meredam, Vanessa justru semakin menjadi, kembali uring-uringan membuat Bram pusing.

__ADS_1


Keesokan paginya Bram berangkat ke kantor, Bram berharap perpisahannya dengan Luna tak membuatnya kehilangan pekerjaan, Bram berusaha rajin dan berangkat pagi ke kantor. Agar Luna tak marah dan kembali mengusirnya seperti kemarin.


Dengan mengendarai motor matic milik Vanessa, Bram meninggalkan rumah, saat Bram berangkat, Vanessa masih tidur lelap, Bram sengaja tak membangunkannya. Agar dia istirahat cukup dan bisa kembali tenang hari ini, setelah perseteruan di rumah Luna kemarin.


Bram tinggalkan sepiring nasi goreng dan segelas susu untuk sarapan, dan Bram meletakkannya di atas meja samping ranjang, Berharap Ia bisa langsung menyantapnya setelah bangun tidur. Tak lupa Bram berpamitan sebelum berangkat kerja yang ia sampaikan di memo yang terselip di sampingnya.


Bram melajukan kendaraannya membelah jalanan yang ramai, pikiran melayang, mulai memikirkan nasibnya yang tak lagi mujur seperti dulu.


Bagaimana jika suatu waktu Luna tak mengizinkan bekerja di kantor, haruskah Bram mulai mencari pekerjaan lain untuk jaga-jaga? tapi pekerjaan apa?"


"Oh, Tuhan Mengapa sekarang semuanya jadi seperti ini, niat hati ingin bahagia dengan memiliki keduanya, Tapi kini justru gram kehilangan semua hartanya dan istri mudanya kerap kali uring-uringan desis Bram dalam hati.


Bram langsung melangkah masuk sesaat setelah memarkirkan motornya di halaman kantor, Bram melenggang menuju ruang kerjanya, dan membuka pintu kaca berwarna hitam yang menjadi penutup ruang kerjanya.


Mata Bram terbelalak, melihat pemandangan di hadapannya, betapa kagetnya saat melihat meja kerjanya sudah bersih dan rapi. Tak ada lagi tumpukan file dan laptop di atas meja.


Bram bergegas menuju ke ruangan Luna, Ini pasti ulah lunak.


"Luna! Apa maksudmu membereskan meja kerjaku, di mana semua file dan laptopnya?"


"Mas, punya sopan santun nggak! bisa nggak sebelum masuk ketuk pintu dulu, aku ini atasan kamu, Mas!"


Bukannya menjawab pertanyaan Bram justru luna berkata dengan Ketus.


"Oke oke aku minta maaf, masuk tanpa ketuk pintu. Tapi Apa maksudnya semua ini?"tanya Bram meminta penjelasan.


"Apa! soal barang-barang di ruang kerjamu?"Luna menarik sudut bibirnya, dan menatapnya tajam. Bram hanya mengangguk


"Tuh! itu barang-barang kamu."Luna menunjukkan arah sudut ruangan, sebuah kotak kardus berisi barang-barang Bram teronggok di sana.


Bram menggeleng-geleng tak percaya, Apa maksudnya ini.


"Ada apa Lun, Kenapa barang-barang mas, kamu bereskan? tanya Bram tak mengerti.

__ADS_1


"Maaf Mas! mulai sekarang kamu tak perlu bekerja di kantor ini lagi, aku nggak bisa memperkerjakan seorang penghianat sepertimu, Mas! maaf,"jawab luna enteng.


"A... Apa? sungguh keterlaluan, Luna.


aku minta maaf atas semua kelakuanku yang menyakiti kamu, tapi tidak bisakah kita tidak menyangkut pautkan masalah rumah tangga kita dengan pekerjaan ini."


"Apa? mas bilang aku keterlaluan? Coba kamu lihat ini mas, Kamu pikir aku nggak tahu? saat kamu masih sah suamiku saja kamu bisa berbuat curang, demi wanita murahanmu itu mas! apalagi sekarang yang sudah jelas kita bukan siapa-siapa lagi! aku yakin kamu bisa berbuat lebih dari ini mas! aku nggak mau semua itu kembali terjadi."


Luna melempar sebuah file laporan dua bulan lalu di atas meja. Setelah Bram cek, ternyata laporan keuangan yang pernah dia manipulasi demi membelikan sebuah kalung untuk Vanessa dulu, Bram teringat saat Bram berpacaran dengan Vanessa.


Bram yang tak mengira Luna bisa sangat teliti, memeriksa semua laporan.


"Kamu sudah mengetahuinya?


"Maafkan aku Luna, Mas janji semua ini tak akan terulang lagi."ucap Bram memelas berharap Luna luluh dan melupakan tentang laporan itu, kemudian mengizinkan Bram tetap bekerja di sini.


"Kamu pikir aku bodoh Mas! Aku sudah mengetahui semuanya, sejak adanya duri dalam rumah tangga kita, mas!"tegasnya


Bram tercengang mendengar penuturan luna. Dia yang penurut di rumah, ternyata bisa mengetahui semuanya.


"Lu....Luna..."


"Sudah Mas! silakan kamu tinggalkan ruangan saya."Luna benar-benar mengusir Bram. Padahal baru tadi pagi bergumam sendiri, kini semua itu menjadi kenyataan.


"Kenapa masih bengong, Mas! silakan pergi, kamu sudah tidak ada hak lagi di kantor ini."Luna mengibaskan tangannya.


Bram tak menyangka jika Bram benar-benar terusir dari kantor itu. Dengan melangkah menuju sudut ruangan, tempat kardus berisi barang-barang miliknya, Memang sih itu barang receh, dan tak penting. Tapi syukur Luna Masih menghargai itu miliknya, dan tak membuangnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2