Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan

Pengorbananku Di Hargai Pengkhianatan
BAB 57. RAHASIA TERBONGKAR _ PDHP


__ADS_3

Pengendara ojek itu pun hanya mengangguk pelan sambil pandangannya fokus mengikuti mobil Ibu Alena.


Motor yang ditumpangi Vanessa melaju membelah jalanan ibu kota yang lumayan macet, sesekali Vanessa menyerukan agar jangan sampai kehilangan jejak.


Dengan seksama Vanessa memperhatikan laju mobil itu, hingga setengah jam lamanya Vanessa berjalan menyusuri jalanan ibukota dengan menggunakan objek, mobil itu terlihat memasuki sebuah perumahan yang tak asing bagi Vanessa.


Perumahan di mana rumah Mbak Luna berada, tapi untuk apa ibu masuk ke perumahan ini, dan mau cari siapa Ibu Alena ke perumahan ini." pertanyaan demi pertanyaan timbul di hati Vanessa.


Mobil mulai berjalan lambat Saat memasuki perumahan, Tak sedikitpun Vanessa melewatkan pandangannya dari mobil Ibu Alena, karena tak mau kehilangan jejak.


Vanessa pun menepuk bahu pengendara ojek, mengingatkan agar tak terlalu dekat jarak dengan mobil Ibu Alena, takut kalau Vanessa ketahuan telah mengikuti Ibu Alena.


Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah Mbak Luna, membuat hati Vanessa semakin bertanya-tanya, Apa beliau kenal dengan dengan Mbak Luna, Vanessa memperhatikan dari jarak yang cukup jauh, selang dua rumah.


Terlihat Ibu Alena turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju sebuah rumah, yang terletak tepat di depan rumah Mbak Luna, tak Berapa lama seorang wanita paruh baya keluar membukakan gerbang, Vanessa memperhatikan dari kejauhan ini. Ternyata wanita paruh baya itu adalah Tante Rina.


Terlihat Tante Rina menyambut kedatangan Ibu Alena dengan ramah, sampai di sini Vanessa bisa menyimpulkan sendiri jika Ibu mengetahui masa lalunya dengan Bram dari Tante Rina, karena tante Rina ternyata tetangganya Mbak Luna, Apa mungkin Mbak Luna pernah bercerita tentang masalah rumah tangganya dengan tante Rina itu?"


"Aargghh! sial! Vanessa berdecak kesal .


"Mbak! Sekarang kita ke mana lagi? tuh ibu Alena masuk ke rumah itu, apa Mbak mau samperin ke sana?" tanya tukang ojek itu sambil menunjukkan rumah Tante Rina.


"Ah, ngak! ngak! kita pulang aja sekarang,"jawab pada Vanessa ketus.


"Aneh, Mbak ini, katanya tadi mengkhawatirkan Ibu Alena, kok sekarang minta pulang." tukang ojek itu terdengar menggerutu .


"Heh! aku nggak minta kamu berkomentar, ya! Yang penting kan kamu saya bayar!'tukas Vanessa kesal. Nggak tahu apa orang lagi pusing, malah bikin tambah bad mood." gerutu Vanessa.


Akhirnya Vanessa putuskan untuk kembali ke rumah. Bisa jadi Tante Rina itu pernah lihat Vanessa datang ke rumah Mbak Luna, makanya pas melihat Vanessa di pelaminan bersama mas Aldo di tampak kaget. Sepanjangan perjalanan Vanessa hanya bisa menerka-nerka. Hingga akhirnya Vanessa sampai di rumah.


"Nih! ongkosnya. Kembaliannya ambil aja!" Vanessa menyodorkan selembar uang berwarna biru pada tukang ojek itu, sesaat setelah motor berhenti di depan rumah.

__ADS_1


"Yaelah, judes amat istrinya Mas Aldo ini!"ucapnya sambil cengengesan.


Bukannya bilang terima kasih malah ngatain Vanessa judes lagi, seketika Vanessa mendelik padanya.


"He he he, anu, Terima kasih Mbak! Saya permisi!" tukang ojek itu segera menyalakan mesin motornya dan berlalu begitu saja meninggalkan Vanessa yang masih berdiri mematung di sana. Sepertinya dia takut melihat Vanessa mendelik.


Vanessa masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya, Vanessa lempar tas tangannya ke sembarangan arah, dan duduk ditepi ranjang. Kedua tangan yang memijat lembut pangkal rambut kepalanya. Duh, rasanya sakit pening.


Bagaimana jika tante Rina itu menceritakan yang tidak-tidak tentang aku, secara kan aku beberapa kali datang ke rumah Mbak Luna bersama Mas, bahkan sampai terjadi Aduh mulut Antara Aku dan Mbak Luna.


sekarang saja hubungan aku dengan ibu mertuaku tak kunjung. gumam Vanessa dalam hati.


Vanessa merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran King size itu. Terasa nyaman, untuk tubuh yang lelah,


Tok...


Tok...


"Vanessa!"


Vanessa terbangun kaget mendengar ketukan pintu kamarnya. suara Ibu Alena dari balik pintu menggema cukup keras, membuat Vanessa kesal, baru juga merem sebentar, Huh!. Vanessa berjalan gontai ke arah pintu dan membukanya.


"Iya,Bu!"Ibu sudah pulang?" Vanessa tersenyum tipis, berucap jangan selimut mungkin, Karena kini Vanessa harus berusaha lebih ekstra untuk menarik kembali simpati ibu Alena.


Meskipun hati Vanessa berkata lelah dan ingin menyerah, tapi otaknya berkata tidak sebelum sampai ke tujuannya tercapai, meskipun untuk sampai ke sana ,terlihat begitu sulit.


"Kamu tidur? enak sekali kamu, lihat ini sudah jam jam dua belas siang, belum ada makanan apapun di meja!"ketus Ibu Alena. Vanessa hanya melihat nafas panjang.


"cepat siapkan makan siang!"


"Iya, Bu! sekarang juga vanesha siapkan makan siang."Vanessa berjalan dengan gontai ke dapur. Terlihat Ibu Alena kembali masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Hari ari ini Vanessa benar-benar lagi bad mood. "Ah Lebih baik aku pesan makanan online, Ibu juga pasti tak curiga." gumamnya dalam hati


Vanessa kembali masuk ke kamar mengambil ponselnya, dan memesan beberapa menu makanan, dengan begini pasti ibu Alena akan memuji masakanku karena rasanya pasti enak gumam Vanessa.


Usai memesan menu makanan, Sekarang tinggal menunggu, Vanessa buka dompetnya, masih ada uang simpanan yang diberikan Aldo beberapa minggu yang lalu, Vanessa bisa pakai dulu uang itu untuk membayar makanan yang ia pesan melalui online.


Aldo sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya, daripada bersama Vanessa, ada sedikit kesedihan di hati Vanessa. Ternyata secepat itu sikap manisnya berubah.


Vanesha kembali Menatap layar pipihnya. terlihat pesan makanan sedang diantar, Vanessa berjalan keluar agar begitu pesanan sampai, Vanessa langsung bisa menerimanya.


Benar saja, tak lama setelah Vanessa duduk di teras, sebuah motor berhenti di depan rumah, membawa makanan yang dipesan oleh Vanessa.


Vanessa menerima, dan tak lupa memberikan uang sesuai nominal yang tertera di aplikasi pemesanan.


Dengan langkah cepat Vanessa menuju dapur, dan menempatkan semua makanan ke dalam piring, Setelah semuanya selesai Vanessa menutupnya dengan tujung saji.


Udah beres deh, sekarang Vanessa tinggal panggil Ibu mertuanya untuk makan bersama.


"Bu! makan siang udah siap, Ayo makan dulu, Bu!" seru Vanessa setelah sebelumnya Vanessa terlebih dahulu menutup pintu kamarnya.


beberapa saat tak terdengar suara dari dalam, Vanessa kembali menutup pintu kamar beliau.


"Bu..."


"Iya! sebentar lagi Ibu menyusul, kamu makan dulu, Vanessa!" sahut ibu Alena dengan suara berat.


Sepertinya Ibu Alena sedang tidak baik-baik saja, terdengar suaranya sedikit serak, seperti habis menangis. Kenapa dengan beliau?


Vanessa memutuskan untuk makan dulu, karena perutnya juga sudah lapar Setelah dari pagi berberes-beres.


Vanessa pun makan sendiri di meja makan, kondisi perutnya yang sudah lapar, Tak butuh banyak waktu untuk menghabiskan makanan di piringnya.

__ADS_1


"Tumben kamu masak banyak Vanessa?" tanya ibu Alena yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya dan menarik kursi di depan Vanessa. Menatap makanan yang sudah tersaji di meja. Ayam goreng, rendang sapi, sayuran dan nasi putih terhidang di atas meja. Masih mengabulkan uap panasnya.


__ADS_2