
Carmen
Semua mata kini menatap ke arah pintu masuk. Aku terkejut dengan pemandangan amazing di depan mataku. Reflek Mas Zaky mengusap perutku seraya berucap, "Amit-amit jabang bayi ... amit-amit jabang bayi ... amit-amit jabang bayi."
Aku tersadar dan melakukan hal yang sama. Mengusap perutku dan mengucap yang sama dengan yang Mas Zaky ucapkan. Yang lain masih terkesima, kami berdua menyelamatkan calon anak kami dari pemandangan yang terkutuk itu.
Di pintu masuk, dua om lucknut itu masuk sambil melambaikan tangan. Om Riko berjalan berisisian dengan Om Sony. Bukan hal itu yang membuat kami semua terkejut.
Om Riko dan Om Sony mengeluarkan kegilaan mereka malam ini. Acara couple digunakan untuk unjuk kemampuan mereka dalam ngebanyol. Membuat kami yang semula terpukau kini tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Bagaimana tidak, Om Sony mengenakan dress selutut warna merah maroon. Dadanya disumpel dengan bola kasti yang salah satunya menyembul keluar dan ia masukkan paksa. Aku tertawa sampai nangis melihatnya.
Dandanan Om Sony tidak rapi, pertanda mereka dandan sendiri. Lumayan sih untuk hasilnya. Pasti mereka melihat tayangan di Youcube dulu. Om Sony mengenakan sepatu boot panjang dan bergaya macam cewek Hollywood.
"Hi, Indonesian!" sapa Om Sony yang malam ini mengenakan rambut wig berwarna pirang.
Masya Allah ....
Tak kalah gila dari sahabatnya, Om Riko juga mengenakan dress. Kali ini ia memakai baju model sabrina alias bagian bahu terbuka. Berbeda dengan Om Sony yang menyumpal dadanya dengan bola kasti, Om Riko menyumpal dadanya dengan buah jeruk yang ia ambil dari prasmanan di aula. Diselipkan dadakan macam tahu bulat saja. Membuat tawa kami kembali ramai dibuatnya.
Om Riko mengenakan sepatu balet. Entah punya siapa. Eh tunggu, itu 'kan sepatu aku? Kok muat sih?
"Om! Itu sepatu balet aku!" protesku.
"Pinjem, Baby. Pinjem! Nanti Om balikkin, Sayang!" bujuk Om Riko.
"Ih ogah! Udah melar!" keluhku.
"Biarkan saja, Sayang. Nanti aku belikan lagi buat kamu ya. Sepuluh kalo perlu," bisik Mas Zaky mencoba menghiburku.
Mendengar akan diganti sepuluh, aku mengubah setelan wajahku yang semula ditekuk menjadi senyum kembali. Ah, mirip sekali aku dengan Abi yang mudah dibujuk dengan sesuatu.
Om Riko lalu menjentikkan jarinya dan bagian sound lalu memutar musik lagu Maria Mercedes, telenovela jaman aku masih bayi dulu mungkin? Om Riko lalu berdansa sambil mengibas-ngibaskan rok dress baju sabrinanya. Sesekali, kibasannya terlalu tinggi sampai celana boxxer yang dikenakannya kelihatan.
Kami semua kembali tertawa terbahak-bahak. Mas Zaky bahkan sampai menangis karena tertawa terlalu lama. Abi yang semula berdiri kini duduk sambil memegang perutnya dan tertawa ngakak. Benar-benar kedua Om lucknut ini kalau sudah berulah.
__ADS_1
"Hola, Amigos for siempre, Marimar .... aw! Rosalinda ... ayamor!" salam Om Riko sambil terus mengibaskan rok dress yang dikenakannya.
Om Riko lalu menggandeng tangan Om Sony. Mereka berdua berjalan menuju panggung kecil dan mendekati pemain organ tunggal. "Hi Boy! Mau sama Tante?" goda Om Riko.
Pemain organ tunggal mengernyitkan keningnya dan menatap kedua Om itu dengan tatapan jijik. Ekspresi wajahnya membuat kami kembali tertawa ngakak.
"Sama Tante saja, Boy! Punya Tante lebih gedong!" Om Sony mendekat dan menunjukkan dadanya yang disumpal bola kasti, pemain organ tunggal itu semaikin menatap jijik.
"Ha ... ha ... ha ... jadi cewek kw aja enggak ada yang mau, Om!" celetuk Abang yang sejak tadi terus tertawa sementara Kak Dewi membawa pergi Vino yang menangis ketakutan melihat Kakek angkatnya berulah tak normal.
"Hush! Kw juga kw super!" kata Om Sony dengan suara cowoknya. Mirip sekali dengan banci kaleng yang suka mangkal di lampu merah.
"Bang! Puter musik dong!" kata Om Riko membuat pemain organ bergedik ngeri. Kami kembali tertawa melihat reaksi pemain organ yang tak bisa berbohong.
"Ma-mau lagu apa?" tanya pemain organ.
"Jagung rebus, tau?"
"Ta-tau, Bang!" jawab pemain organ.
Tak mau menanggapi kedua banci kaleng di depannya, pemain organ pun memainkan lagu Jagung Rebus milik Maya Jasika tersebut.
πΆ Ketika dibuka bajunya, kelihatan bulunya
Idih, idih, terlihat pula bijinya
Bentuknya ada yang panjang, juga ada yang pendek
Idih, idih, tapi banyak yang suka
Bang, boleh, dong, aku nyobain, Bang
Bang, boleh, dong, ku pengin ngerasain
Ketika dibuka bajunya, kelihatan bulunya
__ADS_1
Idih, idih, terlihat pula bijinyaπΆ
Aku mengernyitkan keningku. "Mas, lagu apa itu?" tanyaku pada Mas Zaky.
"Entah. Mas juga baru denger. Asyik juga. Lihat aja tuh Abi kamu saja ikut turun untuk nyawer. Papa aku juga." Mas Zaky menunjuk ke arah Om Sony dan Om Riko yang bernyanyi dengan suara wanita tersebut.
Abang Wira yang ikut berjoget pun dipanggil Kak Dewi. Vino yang sudah berhenti menangis kembali menangis histeris melihat kedua kakek angkatnya yang bergaya bak perempuan tulen tersebut. Terpaksa Abang gantian menggendong Vino dan membujuknya agar tidak menangis. Selesai bernyanyi, kedua Om lucknut itu terlihat kelelahan. Mereka duduk dan terlihat kegerahan. Duduknya tidak rapi, salah satu kakinya di angkat, membuat boxxer mereka kembali terlihat.
Papa Damar naik ke atas panggung dan berbicara di mic. "Kayaknya enggak perlu dinilai lagi ya. Semua juga sepakat kalau pemenang best couple malam ini adalah .... Riko dan Sony!"
Om Riko dan Sony hanya melambaikan tangan karena sudah kelelahan. Papa Damar kembali berbicara di mic. "Untuk hadiahnya, masing-masing mendapat logam mulia 25 gram."
Om Riko dan Om Sony berjingkrak kegirangan. "Enggak sia-sia kita berdandan begini, Ko."
"Iya, Son. Lumayan dapat LM 25 gram. Ayo kita nyanyi lagi, siapa tau ditambahin sama Damar!" Mereka berdua melupakan rasa lelah dan berlari kembali ke panggung. Merebut mic dari Papa Damar dan kembali menghibur kami dengan bernyanyi tanpa henti.
Aku sampai lelah tertawa. Pipiku sakit. Malam ini begitu membahagiakan untuk semuanya. Ada Mas Zaky di sampingku. Abi dan Papa Damar yang akur dan asyik menyawer dua om lucknut. Abang Wira dan Kak Dewi yang kompak mengurus Vino yang ketakutan. Mama Tara dan Mommy Tari yang sejak tadi duduk bersebelahan seraya tertawa ngakak dengan ulah sahabat dari suami mereka.
"Kamu bahagia, Sayang?" tanya Mas Zaky seraya menggenggam tanganku dan menciumnya. Dan juga suami yang begitu sabar dan perhatian padaku.
Nikmat mana yang kudustakan?
Aku mengangguk. "Bahagia. Sangat bahagia."
"Aku pun demikian. Semoga kebahagiaan kita untuk selamanya ya. Walau badai dan cobaan datang, ingatlah aku akan selalu menggenggam tangan kamu dengan erat. I love you, Baby!"
"I love you, Mas Zaky!"
****
...TAMAT...
****
Terima kasih semuanya sudah mengikuti novel Perangkap Cinta Carmen sampai tamat. Nantikan novel aku selanjutnya ya!Makasih semua π₯°π₯°ππππππ
__ADS_1