
Zaky
Aku mengikuti Baby sampai masuk ke dalam cafe kembali. Ponselku berdering dan ada panggilan dari Papa yang memintaku segera kembali ke kantor karena ada hal mendesak yang harus aku kerjakan.
Dengan terpaksa, aku meninggalkan cafe tempat Baby bekerja. Tentunya, sebelum aku pergi aku membuat sebuah origami yang sudah aku tuliskan surat lalu aku titip kepada kasir cafe untuk diberikan kepada Baby nanti.
Pekerjaan yang harus aku kerjakan menumpuk karena aku lebih sering keluar kantor sekarang. Banyak yang harus aku kerjakan namun harus aku selesaikan sebelum malam agar aku bisa memberi surat baru untuk Baby saat ia pulang kelak.
Ternyata pekerjaanku lebih banyak. Terpaksa aku menyuruh orang suruhanku untuk mengantarkan origami yang aku buat beserta cokelat putih kesukaan Baby. Aku bersyukur setidaknya aku tahu sedikit informasi kalau Baby suka sekali cokelat putih dan cokelat bulat mahal bermerk FR.
Aku menyuruh orang suruhanku agar jangan sampai ketahuan oleh Abi. Bisa runyam urusannya kalau mantan mertuaku yang emosian dan bermulut pedas itu sampai tahu.
Setelah membersihkan diri, aku lalu tertidur pulas. Rupanya mengejar hati Baby membuatku tak lagi insomnia dan tidurku juga lebih lelap. Mungkin karena aku berdamai dengan keadaan dan menerima perkataan Mama kalau aku sebenarnya memang menyukai Baby namun terlalu takut dengan diriku sendiri yang menganggap Baby tak lebih dari sekedar adik.
Keesokan pagi, seusai sholat subuh aku bangun dan membuat origami beserta surat yang akan aku taruh di mobil Baby lagi. Kali ini aku menaruh isi yang berbeda di dalam paper bag. Semoga saja Baby suka.
****
Carmen
Kemarin saat aku mau pulang, lagi-lagi Mas Zaky menitipkan origami untuk diberikan padaku. Kali ini tak ada hadiah, hanya origami saja. Suratnya juga pendek. Aku rasa ia memang terburu-buru hendak balik ke kantor dan hanya mengucap selamat bekerja.
Namun saat aku pulang kerja, aku dikejutkan dengan munculnya seorang pemuda yang menaiki motor dan menyapaku dengan sopan. Pemuda tersebut lalu memberikan sebuah paper bag dan pergi begitu saja. Aku heran dan jadi curiga. Siapa pemuda tersebut?
Saat melihat origami di dalam paper bag aku jadi tahu siapa yang menyuruh pemuda tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan Mas Zaky? Aku membawa masuk paper bag tersebut dan berniat membacanya di dalam kamarku.
__ADS_1
Selesai mandi, aku melihat isi dalam paper bag. Kali ini adalah sebuah coklat putih kesukaanku. Aku tersenyum karena Mas Zaky masih mengingat apa yang aku suka. Meskipun hanya sedikit yang ia ketahui tentangku, hal yang sedikit tersebut rupanya begitu berarti daripada tidak sama sekali.
Aku mengambil origami yang terselip di dalam paper bag. Kali ini origaminya berwarna kuning, sepertinya Mas Zaky random saja memilih warna untuk origami. Semua origami pemberian Mas Zaky, aku kumpulkan dan aku taruh di dashboard mobil. Tujuannya adalah jangan sampai Abi mengetahui apa yang dilakukan mantan menantunya.
Aku membaca isi surat yang ia kirimkan.
Selamat malam, Gadis Cantik!
Maaf ya kurir yang mengantar cokelat ini membuat kamu terkejut. Dia orang baik kok. Aku tak bisa mengantar langsung ke kamu. Papa mengomel padaku karena banyak keluar kantor. Andai Papa tahu aku bertemu kamu, pasti aku akan dikasih ijin. Oh iya, cokelatnya dimakan besok saja ya! Sudah malam, nanti gigi kamu sakit.
Salam sayang, duda depan rumahmu.
Aku selalu tersenyum membaca kalimat duda depan rumahmu. Lucu. Memang sudah duda sih, tapi lucu aja. Mau dibaca berulang-ulang tetep saja membuatku tertawa. Gawat nih, kalau begini caranya aku nggak akan bisa move on.
Aku harus membuat batasan yang jelas mulai sekarang untuk Mas Zaky. Jangan sampai ia membuat aku kembali melayang dan banyak berharap lalu aku akan kecewa dengan harapanku sendiri seperti dulu. Sudah banyak yang sedih melihat keadaan kami seperti ini. Aku nggak mau mengecewakan banyak orang. Cepat-cepat aku lipat origaminya dan aku taruh dalam tas. Besok, aku akan menyembunyikannya di dashboard mobil. Jika tidak dibuka, tak akan ada yang tahu kalau origami ini adalah sebuah surat.
Selamat pagi, Gadis Cantik!
Hari ini suhu udara mungkin akan sangat terik. Jangan lupa pakai sunscreen dan bawa payung jika makan siang. Ingat, sinar matahari tak bagus dan bisa membuat flek di wajah.
Salam sayang, duda depan rumahmu
Duda depan rumah? Prett ah!
Kulajukan mobilku ke salon. Nampak Kak Dewi dan Abang sedang bermain bersama anaknya di depan ruko. Melihat kedatanganku, Vino langsung berbinar dan ingin aku gendong.
__ADS_1
"Hi Vino! Aunty Baby datang!" Aku gendong Vino dan aku cium wajahnya yang wangi bedak bayi.
"Onty tantik!" puji Vino.
"Iya dong Aunty Baby cantik. Vino mau roti? Aunty punya roti dan susu." Aku turunkan Vino dan kuberikan roti dan susu UHT pemberian Mas Zaky padanya.
"Bilang apa, Vino?" tanya Kak Dewi.
"Maacih, Aunty," kata Vino dengan gemasnya. Aku cubit pelan pipi gembilnya karena tak kuat menahan gemasnya keponakanku.
"Kamu jarang ke salon sekarang, Baby?" tanya Kak Dewi.
"Sibuk dia. Enakkan mengurus cafe bukan, Dek? Bisa sekalian cuci mata lihat cowok ganteng. Dek, kamu sekali-kali ke cafe Mommy yang di daerah Senopati deh. Banyak bule ganteng yang datang! Lumayan Dek, besaaar!" kata Abang sambil mengerling jahil.
"Apanya yang besar? Tekad? Semangat? Badannya besar, itunya besar tapi sebentar doang udah keluar ha ... ha ... ha ...." kunyanyikan lagu anak-anak yang sedang viral. Membuat Abang memanyunkan bibirnya.
"Serius, Dek. Kamu belum pernah sih main sama Bule. Mantap, Dek!" kata Abang yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya oleh Kak Dewi.
"Mentang-mentang kamu udah pernah ya? Jangan ngajarin Baby yang tidak-tidak!" omel Kak Dewi. "Jangan dengerin Abang kamu, Baby! Lebih baik sama yang lokal tapi tahan lama. Apalagi udah tahan lama, punya big gun lagi ha ... ha ... ha ...."
"Yeh ... dia malah ikut-ikutan! Jadi gimana? Baby mau sama bule atau lokal nih? Kenalan Abang banyak! Tinggal tunjuk langsung jadi, mau yang diplomat, pengusaha, wirausaha dan broker saham juga lengkap!" Abang Wira malah promosi padaku.
"Atau ... masih belum move on?" tebak Kak Dewi.
"Kata siapa belum move on? Baby udah lupa sama yang lama. Iya 'kan Baby?" ujar suara seseorang yang sangat aku kenal.
__ADS_1
Kami bertiga berbalik badan dan tak menyangka siapa yang datang.
****