Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Abangku Rese, Abangku Baik


__ADS_3

Carmen


Aku masih tak percaya kalau kini aku sedang mengandung anak Mas Zaky. Namun bukan itu yang harus aku pikirkan sekarang. Raut wajah Mommy yang menggambarkan kalau Abi tidak sedang baik-baik saja.


"Abi ... terlihat masih kesal. Mommy sudah berdebat sejak di UGD sampai sebelum kamu siuman, tetap saja Abi masih keras kepala seperti itu. Sudah, kita keluar dulu." Mommy membantuku berdiri.


Kami keluar dari kamar mandi. Aku menggenggam test pack di tangan kananku dengan erat. Seakan takut diambil Abi yang masih menatapku dengan tatapan seram.


Abang membantu Mommy memapahku ke tempat tidur. Abang sudah menaikkan tempat tidurku agar aku lebih nyaman saat duduk sambil bersandar. Abang melihat apa yang kupegang.


"Apa hasilnya?" tanya Abang Wira, membuat tatapan mata Abi semakin menyeramkan saja.


"Baby positif hamil," ujar Mommy menggantikanku menjawab pertanyaan Abang.


Kulirik Abi yang mengusap kasar wajahnya dengan kesal. Abang Wira malah membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang didengar. "Secepat itu? Abang saja butuh waktu lama. Kamu mainnya berapa kali sehari? Abang ada rencana mau kasih Vino adik lagi. Siapa tau tips dari kamu bermanfaat buat Abang."


Abang Wira sih mengucapkannya dengan santai. Aku yang mendengarkan pertanyaannya yang deg-degan. Mata Abi terus mengawasiku, membuat aku memilih untuk menunduk saja daripada membalas tatapannya yang menyeramkan itu.


Abang Wira kembali menjadi sosok Abang yang menyebalkan, tidak peka kalau aku sedang ditatap tajam oleh Abi. "Jadi jawabannya berapa kali nih? Abang mau bilang nih sama Dewi. Kita mau coba dari sekarang, agar jarak usia Vino dengan adiknya kelak tidak akan jauh."


Ya Allah Abang, tidak bisakah kau melihat situasi dahulu? Itu singa sudah menatapku sejak tadi. Kalau aku jawab pertanyaan Abang, singa itu pasti akan marah besar.


"Kamu mau tahu aja deh, Bang. Biarkan saja-lah, itu urusan Baby." Mommy membelaku agar Abang tidak terus bertanya hal yang memalukan tersebut.


"Aku penasaran, My. Siapa tahu, aku kurang banyak atau mungkin juga aku terlalu banyak? Aku 'kan penasaran, kok Baby baru sebentar sudah hamil saja?" kata Abang dengan nada iri. Memang sih, Abang dan Kak Dewi sempat lama tidak punya anak. Karena itu, Abang bertekad ingin punya anak banyak namun masih belum juga diberikan oleh Allah.


"Itu namanya rezeki Baby bagus. Semoga saja, anak dalam perut baby bisa terlahir sehat dan kuat serta bahagia memiliki kedua orang tua yang saling mencintai. Sudah, kamu jangan tanya Baby lagi! Kamu usaha sajalah, bikin terus sampai kamu sendiri bosen. Nanti, bikin lagi. Pokoknya sampai dapat ya!" pesan Mommy.

__ADS_1


"Iya, My. Itu sih enggak usah dibilangin. Ada waktu senggang juga aku usaha. Jadi gimana, Si Culun udah ke rumah?" tanya Abang Wira lagi tanpa lihat situasi.


Mommy melotot ke arah Abang dan seakan baru sadar kalau Abang baru saja menyalakan api di tempat yang banyak bensinnya. "Ups, keceplosan!"


"Zaky sudah ke rumah dan sudah dikasih bogem mentah sama Abi kamu. Puas?" sindir Mommy. Sebenarnya sindiran tersebut untuk Abi, aku tahu itu.


"Kena bogem dia ha ... ha ... ha ... aku udah bilang, bandel sih! Bonyok enggak?" tanya Abang lagi seakan tak ada kapoknya membuat aku menahan nafas karena tegang.


"Pakek nanya lagi kamu. Siap-siap saja keluarga kita mendapat tuntutan hukum. Mudah sekali memukuli anak orang tanpa memikirkan akibatnya. Yang dipukuli itu adalah seorang pengusaha sukses di mana wajahnya adalah wajah perusahaan. Bagaimana kalau media sampai tahu? Bukankah media akan mengulik lebih dalam dan mencari tahu siapa yang sudah melakukan hal tersebut? Kalau dilaporkan ke polisi, bagaimana ya nasib dari orang yang sudah membuat wajah pemimpin perusahaan tersebut bonyok?" Mommy kembali menyindir Abi. Abi kembali mengusap wajahnya dengan kesal.


Akhirnya, Abi berdiri dan keluar dari ruanganku. Setelah Abi pergi, aku dan Mommy tertawa pelan. Jangan sampai suara tawa kami terdengar Abi yang berada di luar.


"Sudah puas ya My, pura-pura menyindir aku padahal tujuannya ke Abi? Bisa banget deh Mommy kalau masalah menyindir orang!" protes Abang Wira.


"Habisnya Abi kamu tuh ngeselin banget. Emosional aja bawaannya. Sama kayak kamu. Seharusnya tuh dengerin dulu apa maksud dan tujuan keluarga Zaky datang. Mereka 'kan ingin Zaky dan Baby rujuk secara baik-baik. Baru menjelaskan sedikit saja, Abi kamu sudah ngamuk. Entah gimana keadaan Zaky sekarang," kata Mommy.


Seakan tahu apa yang aku pikirkan, Abang memberikan ponsel miliknya padaku. "Nih! Telepon suami kamu sana!"


Aku tersenyum dan menatap Abang dengan sorot mata berbinar-binar. "Makasih ya Abangku terganteng!" Aku mengambil ponsel miliknya dan mulai mencari nama Mas Zaky, tidak ada nama tersebut di kontaknya Abang. Coba Zaky, namun juga tidak ada. Sepertinya aku tahu nih dinamakan apa. Aku ketik Si Culun. Benar saja, nama tersebut langsung keluar.


"Kenapa sih namain suami aku dengan nama Si Culun?" protesku.


"Suka-suka Abang, itu kan handphone punya Abang. Mau Abang namain Si Culun, laki-laki nyebelin, Si Licik kek, terserah Abang."


"Dasar nyebelin!" cibirku. Aku pun menelpon Mas Zaky. Tak lama kemudian, teleponku diangkat.


"Assalamualaikum," jawab Mas Zaky dengan suara lemah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Mas! Ini aku, Baby!" kataku.


Suara Mas Zaky berubah menjadi lebih segar sekarang setelah mendengar kalau aku yang menelpon. "Baby? Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Kamu di mana? Tadi kamu pingsan, aku khawatir banget, tapi aku nggak tahu harus hubungi siapa?" Mas Zaky langsung memberondongku dengan banyak pertanyaan.


"Aku di rumah sakit, Mas. Aku baik-baik saja kok. Aku kangen sama Mas Zaky. Keadaan Mas bagaimana? Tadi aku lihat Mas dipukuli sama Abi. Aku sedih, pasti sakit ya? Udah ke dokter belum?" Sekarang gantian aku yang memberondong Mas Zaky dengan banyak pertanyaan.


"Lebay banget sih!" cibir Abang Wira yang mendengar percakapan kami.


"Hush! Jangan ganggu!" omel Mommy.


"Mas baik-baik saja, kok. Kamu tenang saja. Hanya beberapa luka lebam di wajah. Nanti juga hilang." Aku tahu Mas Zaky menyembunyikan keadaan yang sebenarnya padaku.


"Tetap saja, pasti sakit sekali kena pukulan Abi," kataku dengan sedih.


"Sudah jangan dipikirkan. Kamu sendiri bagaimana? Kata dokter apa? Kecapekan, stress atau ada sakit lain?" tebak Mas Zaky.


"Bukan karena itu, Mas." kataku.


"Yaelah, lama banget sih jawabnya. Diputer-puter terus!" protes Abang Wira yang sejak tadi terus menguping percakapan kami.


"Abang ih ngeselin!" protesku.


"Biarin. Kamu muter-muter. Bilang sama Si Culun. Kamu hamil anak dia!" ujar Abang agak kencang.


"Apa? Kamu hamil anak aku?"


****

__ADS_1


__ADS_2