Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pembalasan Zaky


__ADS_3

Carmen


Mendengar Mas Zaky melarangku untuk berdekatan dengan lelaki lain, seakan Mas Zaky cemburu tapi itu nggak mungkin. Kalau cemburu, berarti dia punya perasaan terhadapku sedangkan selama ini yang ada dalam hatinya Mas Zaky cuma Kak Dewi seorang. Aku jadi kesal dibuatnya. Lihat saja, aku akan membuat Mas Zaky merasakan apa yang dulu aku rasakan!


"Kamu dari mana Baby? " tegur Mommy yang kebetulan berpapasan denganku. Mommy membawa segelas air, biasanya untuk Abi yang suka haus di malam hari namun tak mau pergi ke dapur.


"Habis pergi jalan-jalan, My. Aku dan Bahri habis hunting makanan di festival makanan yang ada di salah satu Mall. Karena penuh, jadinya aku pulang agak malam deh," jawabku jujur.


"Lalu kenapa wajah kamu kesal begitu? Nggak kebagian makanan di sana?" Rupanya Mommy sangat peka melihat ekspresi wajahku meski aku sudah sembunyikan.


"Kesel aja, My, " jawabku lagi-lagi dengan jujur.


"Kesal kenapa? Mau cerita sama Mommy? Mommy antar minum dulu ya ke kamar nanti Mommy nyusul ke kamar kamu dan kita cerita apa yang sudah terjadi, oke?"


"Iya, My."


Aku pun pergi ke kamar dan membersihkan diriku lalu menunaikan shalat Isya. Mommy sudah masuk ke dalam kamar dan menungguku selesai shalat untuk mendengarkan apa yang menjadi kekesalan hatiku hari ini. Selesai melipat mukena, aku duduk di atas tempat tidur di samping Mommy.


"Jadi, kali ini kesal karena siapa?" Mommy tak sabar untuk mendengar ceritaku.


"Tuh, kesel sama duda depan rumah!" kataku sambil mencibirkan bibirku.


"Memangnya Zaky berbuat apa sama kamu sampai kamu kesal begitu?" tanya Mommy.

__ADS_1


"Aneh tau nggak, My. Aku baru pulang dari jalan-jalan dan Mas Zaky menghadang aku di depan rumah. Aku dinasehati untuk tidak pergi bersama laki-laki yang bukan mahramnya," keluhku.


"Anehnya dimana? Yang Zaky katakan bener kok. Kamu memang tidak seharusnya pergi berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram kamu tanpa ada orang lain yang menemani. Kamu tahu sendiri, berduaan dengan yang bukan mahramnya bisa menimbulkan fitnah." Mommy malah membela Mas Zaky, membuatku semakin sebal saja.


"Ya nggak usah ikut campur urusan aku kali, My. Kita berdua tuh udah bercerai, ngapain sih dia ikut campur terus dengan kehidupan aku? Kesannya tuh, dia kayak lagi cemburu, padahal nggak mungkin. Mommy tau sendiri siapa yang ada dalam hatinya Mas Zaky kalau bukan Kak Dewi?" aku semakin kesal saja rasanya karena aku kembali membayangkan bagaimana Mas Zaky yang gagal move on dari Kak Dewi.


"Mungkin saja memang benar dia cemburu? Selama ini, kamu tuh sudah menjadi istrinya. Kalian berpisah juga dia nggak mau menceraikan kamu, tapi kamu, Wira dan Abi yang begitu keukeuh dengan pendirian kalian dan akhirnya kalian bercerai bukan? Siapa tahu, memang sebenarnya Zaky itu cemburu melihat kedekatan kamu dengan laki-laki lain."


"Aku nggak mau, My. Aku nggak mau berharap seperti itu. Selama ini, aku selalu hidup dengan harapan dan harapan dan berakhir dengan kekecewaan. Aku nggak mau lagi berharap, My. Kalaupun memang Mas Zaky benar-benar cemburu, aku tak mau peduli lagi. Bagi aku, hubungan aku dan Mas Zaky sudah berakhir," kataku tegas.


Mami tersenyum mendengar perkataanku. Dengan lembut, Mommy pun menasehatiku. "Terserah kamu, Sayang. Lakukan yang menurut kamu benar. Kalau kamu memang tak mau lagi dengan Zaky ya kamu bisa sama Bahri. Kalaupun kamu nggak mau Zaky dan Bahri ya kamu bisa dengan cowok lain. Jangan karena trauma masa lalu membuat kamu tak bisa melangkah ke depan. Kamu masih muda. Jalan kamu masih panjang. Cari laki-laki yang benar-benar menyayangi kamu dan bisa membahagiakan kamu."


Aku mengangguk dengan patuh. "Tidurlah! Sudah malam. Besok kamu harus bekerja. Mimpi yang indah. Jangan lupa baca doa dulu ya!" Mommy mematikan lampu kamarku lalu pergi keluar setelah menutup pintu.


****


"Kenapa kaki kamu?" tanya Mama yang kali ini sedang memegang raket nyamuk. Wah bahaya nih, apapun yang Mama pegang bisa saja digunakan untuk memukulku. Lebih baik aku kabur saja.


"Kepentok, Ma. Aku tidur dulu!" Aku berjalan sambil merasakan kakiku yang masih sakit.


"Enggak nunggu Carmen dulu?" sindir Mama.


"Enggak. Ngantuk!" jawabku, cepat-cepat masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Kuperiksa kakiku yang berwarna agak biru. Rupanya, Baby menendangku dengan sekuat tenaga. Benci sekali dia padaku. Sekali tendang, kakiku langsung biru!


Ah, aku kesel. Kenapa sih Baby susah banget untuk diatur? Apa salahnya nurut sama aku coba? Ini tuh demi kebaikannya dia juga. Pergi pulang malam, ngapain sih? Hanya karena mau jajan kuliner saja? Oke, akan aku buat komplek ini jadi tempat jajanan kulinernya Baby. Jangan sampai dia jalan kemana-mana weekend ini!


Aku pun membuat strategi baru. Pagi-pagi, aku sudah menyuruh asistenku untuk mendata jajanan di tempat SD yang paling laku dan paling enak. Weekend ini, Baby akan sangat terkejut dengan surprise yang aku berikan. Namun, sebelum weekend aku sudah menyiapkan origami dan cemilan untuknya.


Pagi ini, aku memberikan puding buatan Mama yang aku ambil dari dalam lemari es. Baby sangat menyukai puding buatan Mama. Tak lupa aku juga memberinya coklat untuk cemilan nanti siang. Aku menaruh di atas mobilnya lalu pergi dengan kakiku yang pincang ini.


Untuk origami kedua, aku mengirimkan satu paket nasi tumpeng lengkap dengan lauknya. Di atas tumpeng tersebut, sebuah origami sengaja aku taruh. Tujuanku adalah, baby nggak pergi keluar untuk istirahat makan siang. Aku ada meeting hari ini, jika aku bolos lagi pasti Papa akan marah besar.


"Nah, begitu dong! Jangan kerjaannya kabur terus dari pekerjaan!" sindir Papa yang melihatku begitu tekun mengerjakan pekerjaanku hari ini.


"Iya. Aku lagi sibuk nih. Jangan gangguin. Aku mau free weekend ini. Tak ada pekerjaan ataupun kunjungan ke luar kota maupun luar negeri. Aku mau libur!"


"Memangnya kenapa kamu mau libur?" tanya Papa lagi.


"Karena weekend ini kita enggak akan bisa keluar komplek!" Papa menatapku dengan bingung namun pada akhirnya tak berani bertanya karena aku sibuk dengan pekerjaanku.


Akhirnya, weekend yang aku nantikan datang juga. Pada subuh hari semua tukang jajanan yang sudah aku pesan datang berbondong-bondong ke dalam komplek. Surat izin sudah aku kantongi, para pedagang tersebut datang dengan tertib dan mulai berbaris di depan rumahku sampai ke ujung komplek.


Aneka makanan sudah tersedia. Semuanya adalah kesukaan Baby mulai dari cilok, kentang goreng spiral, bakso aci telur gulung, es podeng, es cendol bubur ayam, jajanan pasar dan masih banyak lagi. Aku tersenyum dan membayangkan Baby akan bingung mau makan yang mana. Depan rumah isinya tukang dagangan, bahkan mobil pun untuk keluar saja sulit. Kali ini, aku akan menahan Baby dengan makanan kesukaannya ha ... ha ... ha ....


****

__ADS_1


__ADS_2