Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Persiapan Jalan-jalan


__ADS_3

Zaky


Wira sejak pagi sudah berteriak-teriak melalui toa. Membangunkan kami semua yang ingin pergi jalan-jalan jangan sampai telat. Aku sih sudah bangun karena kebiasaan pagi aku dan Abi yang sholat subuh berjamaah di masjid.


Aku sedang menunggu Baby yang bersiap-siap sambil menyeruput kopi susu di atas balkon. Melihat pemandangan dari atas. Nampak Wira sedang wara-wiri dari rumah Om Sony ke rumah Om Riko untuk membangunkan kedua gurunya tersebut. Wira juga pergi ke rumah Mama dan Papa. Beberapa kali memencet bell sampai kedua orang tuaku bangun.


Aku tak kuasa menahan tawa melihat Papa yang mendumel saat suara toa Wira seakan disengaja di depan rumahnya.


"Ayo bapak-bapak dan ibu-ibu, bangun! Sholat subuh! Om Damar, cepat bangun! Matanya melek, nanti kesiangan sholat subuh. Ayo bangun ah!" teriak Wira dari toa yang ia bawa. Entah dapat darimana anak itu. Memang tepat menyuruhnya sebagai seksi disiplin. Om Sony dan Om Riko saja sudah bangun dan mandi lalu membawa tas dipunggungnya.


Papa dan Mama juga sudah rapi. Mama membawa koper kecil berisi pakaiannya dan Papa. Mana mau Mama ribet menenteng tas?


Baby pun demikian. Aku yang menyuruhnya membawa pakaian kami dalam koper. "Sayang, tolong kopernya dibawa ke bawah!" pinta Baby.


"Siap, Sayang! Kamu masih mau di atas atau mau turun sekalian?" tanyaku.


"Aku mau periksa dulu apakah ada yang tertinggal. Nanti aku turun sendiri," jawab Baby.


"Yaudah, aku turun duluan ya. Aku di bawah. Enggak enak yang lain sudah berkumpul di depan." Kuturunkan koper dengan satu tanganku.


Di bawah harum masakan langsung memenuhi penciumanku. Mommy Tari sejak tadi sibuk di dapur. Memasak makanan untuk kami di bus dan sekarang sudah banyak makanan yang terhidang di meja makan. Semuanya terlihat lezat dan membuatku ingin memakannya.


"Ambil saja, Ky. Mommy lihat kamu sudah ngiler begitu," kata Mommy.

__ADS_1


"Iya, My. Aku minta ya. Kayaknya lezat banget." Kucomot sebuah pastel yang masih hangat. Baru satu gigitan, aku sudah jatuh cinta dengan rasanya. "Memang enggak mengecewakan deh masakan Mommy!" pujiku.


"Bisa saja kamu! Kopernya dimasukkan dulu sana ke dalam bus. Abi juga lagi masukkin koper ke dalam bus. Nanti kamu balik lagi ya dan bantu Mommy masukkan kue dan makanan ini ke dalam bus," pinta Mommy.


"Iya, My. Tunggu sebentar ya, My!" Aku pergi ke depan dan nampak Wira sedang mengobrol dengan Om Sony dan Om Riko sambil merokok. Wira tidak merokok, malah menasehati kedua gurunya untuk berhenti merokok, itu yang aku dengar saat melintas.


Aku memasukkan koper Baby ke dalam bagasi bus. Sudah ada koper Mama dan Abi di dalamnya. Dua koper lainnya mungkin milik Wira dan Om Bastian.


"Bi, Mommy bilang kita harus balik lagi ke dalam dan membantu membawa makanan," kataku menyampaikan pesan Mommy.


"Iya. Ayo!" Abi yang sedang mengobrol dengan Om Bastian pun pulang ke rumah. Aku dan Abi lalu membawa makanan yang Mommy siapkan. Wira inisiatif membantuku dan Abi. Semua makanan dan air mineral kami taruh di salah satu kursi khusus untuk aneka makanan. Maklum, yang pergi jalan-jalan hanya kami saja. Banyak kursi kosong yang masih tersedia untuk ditaruh makanan, gitar, perlengkapan snorkling, alat panggangan dan lainnya. Jangan tanyakan siapa saja yang membawa, aku tak tahu pasti. Semua inisiatif ingin membuat acara kami meriah dan seru.


Makanan sudah diantarkan, aku kembali ke atas dan menjemput bidadariku tercinta. Baby nampak bingung mau pakai baju apa. Rupanya sejak tadi bukannya mengecek apa yang tertinggal, istriku itu malah sibuk memilih pakaian yang cocok.


"Pakai saja yang membuat kamu nyaman. Pakai celana training juga boleh. Perjalanan kita jauh. Jangan memaksa memakai baju yang mungkin terlihat bagus namun tidak nyaman dipakai. Ingat, calon anak kita juga perlu ruang untuk bergerak bebas." Aku mengambil kaos dan cardigan panjang serta celana bahan dengan pinggang karet. "Pakai ini juga nyaman kok."


"Cantik kok. Kata siapa tidak cantik? Mau pakai baju apapun atau tidak pakai baju juga kamu cantik. Aku suka. Yang perlu kamu pikirkan adalah pendapat aku. Aku suka, pasti kamu cantik. Jadi, ayo lekas pakai baju dan kita jalan-jalan. Nanti abang kamu masuk ke kamar ini bawa toa loh! Papa saja sampai bete dibangunin dengan toa berisik itu!" Aku memberikan baju pilihanku pada Baby. Aku bantu memakaikan meski aku agak tergoda sedikit melihat sugan alias susu gantung miliknya yang terlihat makin kencang dan montok.


"Tuh 'kan cantik? Apa aku bilang? Oh iya, jaket dan bantal mana? Biar kamu tidak kedinginan dan pegal," tanyaku.


Baby menunjuk bantal dan jaket yang ditaruhnya di atas tempat tidur. Aku memberikan lenganku untuk Baby gandeng. "Are you ready?" tanyaku.


"Ready dong," jawab Baby.

__ADS_1


Kami pun turun ke bawah. Tak lama Om Bastian mengajak kami berkumpul. Kami berdoa bersama, Om Bastian juga menyebutkan peraturan-peraturan selama berjalan-jalan. Salah satunya adalah tak boleh telat agar acara yang sudah disusun bisa berjalan sesuai rencana.


"Ingat ya, yang telat bayar denda! Kita mau ke banyak tempat, jadi jangan coba-coba telat kalau tidak mau bayar denda!" ancam Om Bastian.


"Siap," jawab semuanya.


Kami pun lalu masuk ke dalam bus. Tempat duduk untuk Baby khusus sudah kusediakan. Kursi nyaman dengan bagian kaki yang bisa diluruskan. Aku menaruh bantal dan selimut di samping tempat duduk Baby. Pokoknya ibu hamil yang satu ini harus nyaman.


Kami kembali membaca doa sebelum akhirnya berangkat. Mommy selaku seksi konsumsi mulai membagikan makanan untuk sarapan dan cemilan. Nasi box berisi nasi kuning dengan lauk yang lezat sudah tersedia. Semua kompak langsung sarapan karena tak tahan melihat lezatnya masakan Mommy.


Selesai makan, Om Sony mulai memainkan gitar. Om Riko membawa kecrekan dan mengiringi permainan gitar Om Sony. Om Bastian yang suaranya agak merdu sedikit dibanding teman-temannya pun bernyanyi. Istrinya yang cantik ikut bernyanyi bareng. Kami terhibur dengan hiburan sederhana ini. Termasuk Baby yang saat kulirik ikut sesekali menyanyi sambil menggerakkan kepalanya.


Bosan dengan bernyanyi, Wira menyuruh Om Sony untuk stand up comedy. Wah makin seru saja acara di dalam bus ini. Membuat perjalanan makin tidak terasa dengan sahabat Abi yang lucu dan menghibur.


"Kalau gue stand up, jangan baper loh!" ancam Om Sony sebelum memulai stand up.


"Iya," jawab semuanya.


"Kalau baper gimana?" tanya Om Sony lagi.


"Enggak bakalan! Udah cepetan!" kata Papa.


"Bener ya? Baiklah, gue akan stand up, yang enggak suka, bayar denda. Enggak perlu mahal, cukup janda kampung sebelah saja eaaa." Om Sony membuka stand up miliknya.

__ADS_1


Kami pun kompak menyorakinya. "Huuuuu, maunya!"


****


__ADS_2