Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Beda Pendapat


__ADS_3

Tari


Wajah Baby terlihat pucat. Sangat pucat. Aku yang memangku putriku di bangku belakang sangat cemas dengan keadaannya.


Tangan Baby begitu dingin. Anak ini sedang sakit. Aku seharusnya peka terhadap perubahan dirinya. Dia muntah. Baby tak mau memberitahu kami apa yang ia rasakan. Sekarang, ia jatuh pingsan dan aku rasanya menyesal sekali.


Coba tadi aku langsung membawanya ke rumah sakit seperti permintaan Abi. Ya Allah, jangan sampai Baby kenapa-napa. Aku mengusap lembut rambut Baby seraya tangan satu lagi aku pakai untuk menyeka air mataku yang terus menetes.


Di kursi pengemudi, suamiku mengemudikan mobil dengan kencang. Ia sama sepertiku. Panik dan khawatir. Rasa cemas yang kami rasakan sebagai orang tua kini begitu besar. Kami takut dengan keadaan putri kami. Sepertinya dia begitu terguncang saat melihat lelaki yang dicintainya dipukul sampai tak bisa bangun oleh Abi.


Rasa marah tiba-tiba menyelingkupiku, jangan-jangan Baby pingsan karena syok melihat kekasih hatinya dipukulin Abi? Apakah bebar penyebab Baby pingsan adalah lelaki yang sedang ngebut di depan sana?


"Semua karena Abi! Kenapa sih Abi juga ikut membentak Baby?" Aku tak kuasa menahan kemarahanku. Kuomeli suamiku yang sedang fokus mengemudi.


Kulihat stir kemudi dicengkramnya dengan kuat. Ia menahan amarahnya untukku. Aku tahu. Ia tak pernah menyakitiku sekalipun.


"Bicarakan semua baik-baik, Bi. Bukan dengan jalan kekerasan. Sekarang lihat, putri kita sendiri yang kena batunya! Lihatlah bibirnya yang pucat dan jari tangannya yang dingin! Kenapa Abi tega sama anak sendiri sih?" Aku mengomel makin panjang, meski sambil menangis tak mengurangi keinginanku menyuarakan isi hatiku.


Suamiku tetap terdiam. Aku tahu ia ingin memarahiku balik namun sadar kalau penyebab putrinya pingsan adalah karena dirinya juga. Ia tak membalasku dan malah membelokkan mobilnya ke Rumah Sakit langganan kami. Rumah Sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting.


Abi berhenti di UGD dan langsung meminta security membantunya. Abi menggendong Baby dan menaruhnya di brankar yang disediakan security dengan sigap. Abi hendak masuk ke dalam namun aku tarik tangannya. "Parkirin mobil dulu!" perintahku.


Sambil menghembuskan nafas kesal, Abi berbalik dan masuk kembali ke dalam mobil. Aku masuk ke dalam ruang UGD dan menemani anakku. Tak lama seorang perawat datang menanyakan apa sakit anakku.


"Dia tiba-tiba pingsan," jawabku.


"Baik, saya panggilkan dokter dahulu!" Perawat tersebut pergi dan kembali tak lama kemudian dengan dokter yang akan memeriksa.

__ADS_1


Dokter lalu memeriksa Baby. Keningnya berkerut. Aku makin khawatir dengan anakku. Apa yang sudah terjadi?


"Bagaimana dokter? Anak saya sakit apa?" tanyaku dengan khawatir.


"Sepertinya anak Ibu pingsan karena syok dan stresa berlebihan. Anak Ibu juga kelelahan. Maaf, apakah anak Ibu sudah menikah?" tanya dokter.


"Memangnya kenapa, Dok?" tanya Abi yang sudah memarkirkan mobil dan menyusul ke ruang UGD.


"Kami perlu tes urin untuk memastikan lebih jauh. Kemungkinan putri Bapak ... sedang hamil."


"Hamil?" tanyaku dan Abi kompak.


Dokter tersebut terlihat kebingungan. "Maaf, Bapak dan Ibu belum tahu?"


Aku dan Abi kompak menggelengkan kepala kami. Dokter pun mengambil alih situasi. "Kami akan periksa urin saat putri Bapak sudah siuman. Untuk sementara kami hanya memberi cairan infus dan melihat perkembangannya lagi. Permisi."


"Zaky sialan!" maki Abi.


Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Menyalahkan orang saja bisanya. Hamil tuh tak akan terjadi kalau bukan karena dua pihak!" omelku pelan. Tak mau pasien lain terganggu dengan percakapan kami.


"Bukankah tadi Zaky sudah bilang kalau mereka memang sudah rujuk secara agama? Berarti Baby tidak melakukannya di luar nikah dong? Mereka belum tiga bulan bercerai, masih bisa rujuk dengan kata-kata kalau secara agama. Zaky juga bilang dia sedang memproses secara hukum. Biarkanlah!" kataku pasrah.


"Biarkan? Enak aja! Kamu lupa bagaimana Zaky menyakiti Baby? Kamu lupa wajah terluka dan tersakiti anak kita karena kelakuan suaminya? Kamu biarkan saja begitu? Enak saja! Tidak bisa bagiku!" tolak Abi.


"Ya lalu kamu maunya gimana? Memisahkan mereka lagi? Aku enggak lupa bagaimana wajah terluka Baby. Aku pun ikut terluka waktu itu. Namun entah kenapa aku hanya mengingat wajah Baby belakangan ini. Hidupnya kembali ceria. Hidupnya kembali bahagia. Senyum di wajahnya kembali ada. Mana yang lebih penting? Mengingat masa lalu atau melihat Baby tersenyum bahagia?" tanyaku balik.


"Sayangnya Baby tersenyum pada sesuatu yang salah!" jawab Abi.

__ADS_1


"Tak ada kebahagiaan yang salah!" balasku.


"Sudahlah. Jangan terus menerus membela anak sepupumu itu! Dia bukan lelaki yang baik buat Baby!" Abi membuatku ingin membalasnya tapi aku memilih diam.


Cukup lama Baby pingsan. Tak lama Wira datang dan terlihat khawatir. Untunglah kami langsung dipindahkan ke kamar rawat karena tak nyaman sejak tadi aku berdebat terus dengan dirinya di UGD. Aku putuskan keluar ruangan dan mencari udara segar.


"Baby gimana, My? Belum sadar?" tanya Wira yang berkeringat karena saking khawatirnya berlari dari parkiran. Aku sedang berada di balkon dan melihatnya berlari dari atas.


"Tenanglah dulu, baru masuk ke dalam. Adik kamu masih pingsan. Dokter bilang karena stres atau ...." Aku menggantung perkataanku. Aku takut Wira sama emosiannya dengan yang ada di dalam dan sedang mengaji sejak tadi. Mungkin merasa bersalah karena putrinya pingsan karena shock.


"Atau apa My? Jangan buat aku penasaran dong!" tanya Wira tak sabaran.


"Atau adik kamu hamil," jawabku.


"Hamil? Sama siapa? Zaky?" tanya Wira lagi.


Aku mengangguk. "Kamu pasti sudah tahu bukan kalau mereka memutuskan untuk rujuk?" tebakku.


"Aku tahu tapi aku larang. Baby malah nasehatin aku. Bilang kalau memperbaiki rumah tangga lebih baik daripada bercerai. Pakai nyindir kalau aku hampir gagal berumah tangga pula. Pokoknya sudah aku larang dia malah ceramah balik. Akhirnya aku akui kalau aku kalah. Ya aku ijinkan, tapi aku tidak menyangka Baby akan hamil secepat ini!" kata Wira dengan jujur.


"Mommy juga belum lama tahu. Mommy awalnya tak mau mendukung mereka tapi Mommy suka mendengar Baby tertawa saat menelepon Zaky. Hal yang sudah lama tidak kita lihat dari Baby kita yang hanya tahu bekerja. Kita semua tahu, yang Baby cintai selama ini hanya Zaky. Kini saat Zaky sudah mencintai Baby, Mommy merasa egois jika memisahkan mereka."


"Maksud Mommy, Abi yang sekarang egois begitu?" tanya Abi yang tiba-tiba datang dari belakang.


"Sudah ah aku mau lihat Baby. Kalian lanjutkan aja deh pertengkaran kalian. Ingat, ini rumah sakit. Jangan akhiri pertengkaran kalian dengan adegan mesum yang membuatku malu nantinya!" sindir Wira sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Baby.


****

__ADS_1


__ADS_2