Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pargoy


__ADS_3

Zaky


Selama ini hampir setiap permintaan Baby selalu aku turuti, namun kali ini rasanya aneh dan tak masuk akal. Aku tahu Baby sedang hamil anakku, tapi meminta aku untuk joget pargoy itu terlalu berlebihan menurutku.


"Pargoy?"


"Iya. Joget pargoy kayak di aplikasi itok-itok. Kamu mau 'kan? Aku pengen banget loh liat kamu joget kayak gitu. Please ya kamu mau," pinta Baby dengan suara manjanya.


Aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan pekerjaanku. Permintaan ngaco yang tak masuk akal. Masa sih CEO perusahaan disuruh pargoy?


"Enggak mau yang lain? Misalnya makan caviar gitu? Nanti aku belikan untuk kamu," bujukku.


"Yaudah kalau enggak mau!" Baby lalu mematikan sambungan telepon kami.


Aduh, gawat nih. Marah lagi.


Aku hubungi lagi telepon Baby tapi malah direject.


"Sayang, angkat dong teleponnya. Please ...." Kukirimkan pesan untuk Baby.


Tak ada jawaban. Marah beneran ini sih!


Perhatianku terpecah kala Papa menelepon ext-ku dan mengajak meeting. Ya Allah, waktunya mepet dan Baby masih marah. Aku harus apa?


Kembali aku menelepon Baby, berharap teleponku kali ini akan diangkat. Baby, please, jangan marah dulu ya.


"Sayang, aku mau meeting. Angkat dulu dong teleponnya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Please, Sayang! Kamu boleh deh tampol aku pakai Nutrijell!"


Kali ini aku yakin teleponku akan diangkat. Benar saja, Baby tak lagi mereject teleponku dan langsung mengoceh saat telepon kami terhubung.


"Mas gimana sih? Masa sih tampol pakai Nutrijell? Empuk itu sih enggak ada sakit-sakitnya. Kenyal lagi!" cerocos Baby.


Aku tertawa mendengar ocehan Baby. Begitu saja dia pikirkan, siapa juga yang mau ditampol pakai Nutrijell? Enakkan juga dibuat es lalu pakai susu dan sirup di atasnya. Yummy ....

__ADS_1


"Yaudah, cepetan pargoy! Jangan ketawa terus!" tagih Baby.


Aku pikir setelah mengalihkan perhatiannya dengan Nutrijell, Baby akan teralihkan. Ternyata tidak. Tetap saja Baby meminta aku untuk pargoy.


"Coba kamu kasih lihat deh kayak gimana. Nanti aku coba tiru," kataku pasrah.


"Mas ketik aja pargoy. Di Youcube juga ada."


Aku mengikuti apa yang Baby perintahkan. Mencari goyang pargoy yang ia mau. Setelah dapat, aku mengusap wajahku. Salah apa aku? Kenapa Baby meminta hal aneh ini? Apakah ini yang dinamakan ngidam? Aku jadi ingat perkataan Mama saat Mama hendak pulang sehabis menjenguk Baby.


"Istri kamu sedang hamil. Ada fase dimana dia menginginkan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Mungkin kamu menganggapnya aneh, bahkan menyebalkan dan tak masuk akal. Percayalah, itu bukan kemauan Baby. Itu kemauan anak kamu. Turuti selagi kamu bisa. Jangan sampai anak kamu terlahir ileran karena saat istri kamu ngidam tidak kesampaian!" pesan Mama.


Benar juga. Aku baru sadar. Baby sedang ngidam. Mana pernah dia menyuruhku berlaku aneh seperti ini. Saat seisi dunia mengejekku culun, hanya Baby yang bilang kalau aku tampan dan selalu membelaku. Baiklah. Demi anak dalam kandungan Baby, aku rela.


"Bagaimana Mas? Mudah bukan?" Baby menatapku penuh harap. Mana bisa aku mengecewakan dan menolak permintaan Baby?


"Iya. Mudah. Meskipun bukan gayaku."


"Kamu terinspirasi dari mana sih?" tanyaku seraya mengulur waktu, siapa tahu Baby berubah pikiran dan lebih memilih menampol wajahku dengan Nutrijell?


"Ya dari Itok-itok lah. Aku tadi bosan karena mengerjakan laporan terus, yaudah aku nonton Itok-itok deh. Pas aku lihat, kok seru ya? Aku jadi membayangkan Mas joget pargoy deh. Bagaimana ya jadinya kalau suamiku yang tampan itu joget Pargoy? Pasti tambah tampan deh!" kata Baby dengan mata berbinar-binar.


Tanpa sadar aku mencibirkan bibirku. Tampan darimana? Aneh iya!


"Tuh mukanya enggak dikondisikan deh! Pake cemberut segala!" tegur Baby.


"Enggak kok, aku senyum. Nih senyum nih!" Aku tersenyum lebar dan memamerkan deretan gigi putihku.


"Tambah aneh, Mas. Bener deh. Mas Zaky tuh biasa marah-marah dan judes, kalau senyum enggak pantes. Udah cepat Pargoy!"


Aku tak bisa lagi mengulur waktu. Aku harus melaksanakan perintah sang putri sebelum marah dan mengadu pada baginda raja pemilik pondok mertua indah nan kejam dan berhati baja.


"Oke. Siap ya?" Aku berdiri dan menaruh ponselku di atas meja. Aku mengganjalnya dengan tempat pensil besi agar berdiri tegak. Aku lalu memutarkan lagu untuk joget Pargoy seperti di aplikasi Itok-itok lewat komputerku.

__ADS_1


"Siap!" Baby tak sabar menanti aku berjoget. Matanya berbinar dan ia bertepuk tangan menyemangatiku.


Awalnya aku sungkan dan agak malu, namun sudah kadung aku makin cuek saja joget. Baby tertawa puas melihatku Pargoy.


"Zaky! Kenapa lama seka ... li?" Papa Damar yang tiba-tiba masuk ke dalam ruanganku bersama sekretaris pribadinya melihatku yang sedang Pargoy dengan tatapan heran bercampur geuleuh.


Kuhentikan joget Pargoyku dan Baby tertawa makin kencang saat tahu kalau aku ketahuan Papa sedang joget yang aneh-aneh. "Papa kenapa langsung masuk ruangan aku sih!" protesku.


Papa masih mencerna apa yang aku lakukan dan melihat layar ponselku yang sedang video call dengan Baby. "Kamu lagi ngapain sih?" tanya Papa.


"Lagi nurutin permintaan menantu Papa yang sedang ngidam, puas?" Kurapikan dasi milikku yang agak berantakan. Kulirik sekretaris pribadi Papa yang wajahnya merah menahan tawa.


"Oh ... Baby lagi ngidam nyuruh kamu joget? Kenapa muka kamu enggak terpaksa dan malah menikmati joget yang Baby suruh? Apa jangan-jangan kamu memang suka ya joget kayak gitu?" ledek Papa.


"Ih apaan sih, Pa. Jangan ngeledek aja bisanya. Aku tuh malu tau! Aku saja terpaksa. Kalau bukan karena Baby yang ngidam, mana mungkin aku lakukan? Di kantor pula!" kataku dengan gusar.


Papa kembali tertawa melihat kegusaranku. Papa mendekat ke kamera ponselku dan berbicara dengan Baby. "Kamu puas, Sayang? Mau suami kamu ngapain lagi? Suruh saja sesuka kamu. Dia rela kok!" Papa dan Baby kompak menertawakanku. Memang mereka menantu dan mertua kompak kalau jahil. Huh ....


"Belum aku pikirin, Pa. Tadi aku kepikiran Mas Zaky joget, setelah aku ngambek baru deh diturutin," adu Baby.


"Kamu begitu, Ky? Jangan gitu! Kalau istri ngidam, kamu sebisa mungkin menuruti! Baru joget saja kamu sudah nolak, apalagi yang lain?" omel Papa. Apes sekali nasibku hari ini.


"Iya ... iya ... aku turutin kok," kataku pasrah.


"Nah begitu dong! Baby, Papa dan suami kamu mau meeting dulu ya. Boleh 'kan?" tanya Papa dengan lembut. Papa memang sesayang itu dengan Baby, memanjakannya layaknya anak bungsunya.


"Boleh dong, Pa. Titip suami aku biar enggak centil ya, Pa," pesan Baby.


"Tentu. Papa jagain. Kamu mau suami kamu joget kayak tadi juga enggak di tempat meeting?" tanya Papa.


Pertanyaan Papa membuat jantungku serasa mau copot. Please Baby jangan ya, please ....


****

__ADS_1


__ADS_2