Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Mencari Keberadaan Baby


__ADS_3

Zaky


Aku berjalan menuju dapur dan bukannya mendapati Baby sedang memasak sambil bernyanyi riang seperti biasanya melainkan seorang ibu-ibu yang biasa membersihkan rumah kami.


"Pagi, Pak. Bapak mau saya siapkan sarapan?!" tanya ibu tersebut padaku.


Sarapan?


Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku makan. Bunyi perutku yang keroncongan menyadarkanku kalau aku lupa mengisinya.


"Iya. Buatkan saya nasi goreng saja!" pesanku lalu pergi ke kamarku.


Kamarku kosong. Tak ada pakaian kerja yang Baby siapkan seperti biasanya. Aku merindukan Baby. Aku merindukan keceriaannya di rumah ini.


Kuurungkan niatku untuk pergi bekerja. Buat apa? Toh aku tak akan bisa konsentrasi. Tunggu, aku harus ke cafe dan melihat apakah mobil Baby sudah diambil. Aku sudah titip pesan pada salah satu karyawannya agar mengabariku secara diam-diam. Apakah Baby sudah datang atau apapun tentang Baby.


Aku menyambar handuk dan mandi. Setelah sarapan nasi goreng yang rasanya tak seenak buatan Baby, aku pergi ke cafe yang semalam kukunjungi. Masih terparkir mobil Baby di sana. Artinya ia belum mengambilnya.


Aku harus mencari Baby dimana?!


Dewi.


Ya. Hanya Dewi yang bisa kumintai tolong. Aku tak peduli kalau Dewi marah. Aku hanya harus menemukan Baby dan menyelesaikan masalah kami. Aku tak mau berpisah dengan Baby. Bagaimana hidupku kelak tanpa Baby?!


Aku pun mengemudikan mobilku menuju rumah baru Dewi. Tak ada mobil Wira di rumahnya. Aman. Aku bisa bicara dengan tenang dan menjelaskan semuanya pada Dewi.


Asisten rumah tangga Dewi mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah mereka yang nyaman dan penuh cinta tersebut. Aku iri. Bukan karena Wira mendapatkan Dewi, tapi karena aku tak bisa menjadi seperti mereka. Rumah tanggaku saja tak bisa aku pertahankan. Bodoh sekali bukan?!


Tak lama Dewi keluar sambil menggendong anaknya. Melihat keberadaanku ia terlihat kesal dan tak repot-repot menyembunyikan kekesalannya padaku.


Dewi menitipkan anaknya pada sang asisten rumah tangga lalu duduk di depanku dengan wajah juteknya. "Ada apa lagi?!" tanyanya dengan ketus.


"Maaf aku mengganggu waktu kamu, Wi. Aku bukan mau membicarakan tentang kita, tapi tentang Baby." kataku langsung pada intinya.


Dewi terkejut mendengar perkataanku. "Baby? Memangnya kenapa dengan Carmen?"


Aku mengisi paru-paruku dengan banyak udara sebelum omelan kuterima. "Baby tahu semua tentang perasaanku sama kamu."


"Hah? Baby tahu? Gila sih! Aku sudah duga kalau malam itu Baby mendengarnya! Lalu bagaimana? Baby nangis? Marah?" ia memberondongku dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Baby menutupi semuanya setahun ini dan Baby ... juga mendengar apa yang aku katakan saat makan malam kemarin. Baby marah dan ... pergi dari rumah."


"Apa? Kamu sih, Mas! Udah aku bilang kalau apa yang kamu lakukan itu gila! Obsesi kamu tuh enggak masuk akal! Pergi kemana dia? Di rumah Abi enggak ada tuh saat aku kesana."


"Aku tahu, aku memang salah. Aku terlalu terobsesi. Aku menyesal. Aku enggak tau kemana Baby pergi. Semua panggilan aku dialihkan olehnya. Aku baru menyadari kalau aku enggak tau sama sekali tentang Baby. Siapa temannya, kemana dia pergi, juga aku tak tahu akan mencari kemana. Tolong bantu aku, Wi. Bantu cari Baby sebelum Baby mengirimiku gugatan cerai."


Dewi kembali terkejut. "Baby mau menggugat cerai kamu? Ya Allah Baby ... Pasti kamu sakit hati banget ya?! Maafin aku, Baby!"


Dewi kini menatapku dengan tatapan yang lebih marah dan menyeramkan lagi. "Aku bantu kamu sekali ini. Ingat, hanya sekali saja! Aku tak mau bantu lagi! Apa yang kamu lakukan sudah sangat menyakiti hati Baby! Aku tak akan ikut campur lagi. Mau Baby menggugat cerai kamu juga aku tak peduli! Kamu layak mendapatkannya! Baby yang tak layak disakiti kamu!"


Aku mengangguk dan pasrah diomeli Dewi. Ia masuk ke dalam dan baru kembali agak lama. Matanya memerah sehabis menangis. Pasti ia sudah berbicara pada Baby.


"Bagaimana? Apa kata Baby? Dimana dia sekarang?!" tanyaku tak sabaran.


Dewi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tatapannya terlihat sangat membenciku. "Baby tak mau memberitahu dirinya dimana. Baby hanya pesan kalau dalam beberapa hari lagi ia akan pulang dan mengatakan semuanya pada Abi. Baby tak bisa aku bujuk. Ia sudah bulat ingin menggugat kamu cerai." kata Dewi dengan dingin.


Aku menggelengkan kepalaku. Jangan sampai semua ini terjadi. "Aku tak mau bercerai dengan Baby, Wi. Bantu aku bicara dengannya. Aku mohon!"


"Kenapa? Kamu takut orangtua kamu akan memarahi kamu? Kamu takut sama Abi? Pengecut! Aku sudah bilang kalau aku hanya akan sekali membantu kamu bukan? Urus sendiri rumah tangga kamu! Urus sendiri masalah yang kamu buat sendiri! Pulanglah sebelum Wira pulang dan memberi kamu bogem mentah di wajahmu seperti dulu!" usir Dewi.


"Wi, tolong. Bantu aku, Wi! Aku tak mau bercerai dengan Baby. Aku mau minta maaf sama dia. Aku mau memperbaiki semua kesalahanku, Wi. Aku mohon! Bantu aku lagi!" ucapku dengan sungguh-sungguh.


Aku keluar dari rumah Dewi dengan langkah gontai. Aku hanya tinggal menunggu hari sampai bom itu akhirnya akan meledak sambil tinggal di rumah yang kosong dan sepi ini.


🎶Ku terbangun lagi di antara sepi


hanya pikiran yang ramai


Mengutuki diri tak bisa kembali


tuk mengubah alur kisah


Ketika mereka meminta tawa


ternyata rela tak semudah kata


Tak perlu khawatir, ku hanya terluka


Terbiasa tuk pura-pura tertawa

__ADS_1


Namun, bolehkah sekali saja ku menangis?


Sebelum kembali membohongi diri🎶


(Feby Putri dan Fiersa Besari- Runtuh)


****


Carmen


Aku terbangun dengan mata sembab. Kamar hotel ini tempat aku bisa menangis puas. Suara ketukan di pintu kamarku membuat aku melangkah malas dan membukakan pintu.


Bahri.


"Pagi, Bidadariku! Sarapan yuk!" ajaknya dengan senyum merekah di wajahnya.


"Males. Kenyang." tolakku.


"Eh enggak boleh males! Ayo cepat cuci muka dan pakai baju training! Kita olahraga sekalian nyari sarapan. Aku tunggu di lobby!" Bahri pergi dan membuatku tak bisa menolak permintaannya.


Dengan terpaksa aku mencuci wajahku, menyikat gigi dan turun dengan memakai kaos serta celana training. Kukuncir tinggi rambutku.


"Nah begitu dong! Ayo kita jalan sehat dan mencari udara segar!" Bahri mengulurkan tangannya dan menggandengku menyusuri Jalan Malioboro di pagi hari.


Toko-toko di sepanjang jalan masih banyak yang tutup. Udara pagi masih bersih, tak seperti di Jakarta. Beberapa tukang becak menawarkan kami untuk mengantar ke tempat tujuan.


"Kapan pulang?" tanya Bahri memecah kesunyian di antara kami.


"Rencananya besok pagi."


"Udah siap meledakkan bom di ketentraman keluarga kamu?"


Aku tersenyum mendengarnya, "Siap tak siap, aku harus lakukan."


"Bagus! Jangan khawatir, selalu ada aku di sisi kamu. Aku akan menemani kamu kapan pun. Dua minggu lagi aku akan ditugaskan di Jakarta. Kapanpun kamu sedih, aku akan ada di sampingmu."


"Makasih ya! Kamu memang baik sekali sama aku!"


***

__ADS_1


__ADS_2