Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Sebuah Hadiah


__ADS_3

Zaky


Tak sabar rasanya aku menunggu hadiah yang akan Baby berikan untukku. Apa ya kira-kira?


Aku memarkirkan mobilku di parkiran rumah Mama. Tak akan cukup jika aku memarkirkan di rumah Abi. "Baby sudah pulang?" sambut Mama.


"Iya, Ma," jawab Baby.


"Alhamdulillah. Sehat-sehat ya, Sayang. Jagain cucu Mama baik-baik. Kalau kamu mau minta sesuatu, bilang saja sama Zaky. Biar dia yang belikan buat kamu!" kata Mama.


"Tentu dong, Ma. Kita berdua sudah serumah lagi sekarang. Aku akan minta apa aja sama Mas Zaky. Pokoknya Mas Zaky enggak boleh nolak!" gurau Baby.


"Tentu dong, Sayang! Ayo aku gendong lagi!" Aku kembali menggendong Baby ala bridal shower. Mama yang membantu menutup pintu mobil dan menguncinya. "Ma, aku langsung ke rumah Baby ya!"


"Sudah bawa baju ganti belum?" tanya Mama.


"Oh iya, lupa."


"Sudah Mama duga. Tunggu sebentar! Mama sudah siapkan." Mama lalu masuk ke dalam dan keluar dengan paper bag berisi baju ganti untuk hari ini dan baju kerja untuk besok.


"Mama baik sekali deh! Jangan lupa baju cadangan buat di kantor ya, Ma!" pesanku.


"Iya. Karena istri kamu sedang hamil, Mama akan bantu siapkan. Sudah sana, biarkan istri kamu istirahat!"


"Siap, Ma!"


Aku sedang menggendong Baby dan hendak menyebrang ketika mobil yang Abi kendarai sampai. Untunglah, jadi ada yang membukakan pintu.


"Kamu langsung bawa Baby ke kamarnya saja, Ky!" kata Mommy Tari.

__ADS_1


Abi tak berkomentar apapun. Beliau langsung masuk ke dalam kamar. Untunglah. Aku mengajak Baby ke kamar. Tak sabar mau menerima hadiah darinya.


"Jadi, hadiah buat aku apa?" tanyaku setelah menurunkan Baby di atas tempat tidur.


"Pasti Mas suka deh," kata Baby.


"Iya dong. Sebentar, Mas kunci pintu dulu!" Aku berdiri dan berjalan menuju pintu. Kukunci pintu kamar agar tak ada yang mengganggu.


"Kenapa harus kunci pintu, Mas?" tanya Baby.


"Biar lebih surprise. Apa hadiahnya?" tanyaku lagi.


Baby lalu membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Ia memberikan sesuatu padaku. "Buat Mas."


Aku menerima hadiah pemberian Baby sambil mengerutkan keningku. "Gantungan Hp?"


"Iya. Gantungannya sama kayak aku. Aku pesan khusus loh buat kita berdua. Bagus enggak?" Baby mengambil ponsel miliknya dan memamerkan gantungan ponsel yang ia pakai.


"Mas enggak suka?" tanya Baby dengan wajah yang mulai sedih.


"Bukan. Bukan enggak suka." Aku melihat Baby masih sedih, aku kembali menghiburnya. "Aku cuma terkejut saja. Ini bagus sekali. Aku suka. Suka banget. Nanti kalau ada yang lihat, pasti berpikir kita suami istri yang kompak, sampai gantungan Hp saja sama, iya 'kan?"


Baby kembali tersenyum. "Iya. Aku saat memesannya ingat kamu. Pasti lucu deh kalau kita kompakkan."


Aku meletakkan kepalaku di pangkuan Baby. Nyaman sekali rasanya bisa berduaan tanpa takut ketahuan oleh orang lain. "Iya dong. Kita adalah pasangan yang kompak. Apalagi sekarang kita akan bertiga. Jadi makin kompak."


Baby mengusap rambut hitamku dengan penuh kasih. Aku suka dengan perhatian kecil seperti ini. Membuat aku merasa dimanjakan sebagai seorang suami. "Mas, jangan marah sama Abi ya? Abi itu sangat sayang sama aku. Abi mau yang terbaik buat aku. Abi hanya mau aku bahagia."


"Mas mengerti kok. Abi itu adalah seorang ayah yang sangat sayang dengan anak-anaknya. Wira dididik keras agar tumbuh jadi lelaki mandiri. Kamu dididik dengan limpahan kasih sayang, agar suami kamu juga menyayangi kamu seperti yang Abi lakukan. Mas mengerti kok. Bahkan Mas ingin meniru gaya mendidik Abi."

__ADS_1


"Masa sih? Bukannya Mas ingin meniru Papa Damar? Papa berhasil mendidik anaknya menjadi pemimpin perusahaan loh! Papa hebat!" puji Baby dengan tulus.


Aku tersenyum sinis. "Kamu tak tahu saja penderitaan yang aku rasakan. Aku selalu dituntut nilai bagus dan sempurna. Aku diharuskan belajar lebih keras dibanding anak-anak lainnya. Usiaku masih muda namun ilmu yang kupelajari melebihi anak seusiaku. Terlihat hebat sih, namun aku tidak menikmatinya."


"Tidak menikmati?" tanya Baby heran.


"Iya. Aku suka iri saat Abi mengajak kamu dan Wira jalan-jalan ke Ragunan di hari sabtu. Menikmati libur bersama dengan Abi yang memasukkan bekal buatan Momny ke dalam bagasi mobil. Seharusnya hari libur tuh seperti itu, bukan seperti aku yang malah di ajak ke pameran lukisan dan diajari bagaimana arti seni. Aku masih terlalu kecil, aku ingin bermain. Aku ingin melihat hewan, bukan terus belajar." Aku menumpahkan perasaan yang selama ini aku pendam. Betapa irinya aku dengan Wira yang bisa bebas menikmati hidupnya sementara aku bak burung dalam sangkar.


"Ya Allah Mas, aku tak tahu kamu menderita seperti ini. Aku sering mengajak kamu, namun Abi melarang. Abi bilang Papa Damar akan mengajak kamu pergi, karena itu kami tak lagi mengajak kamu. Andai aku tahu, pasti aku akan mengajak kamu pergi dan mengomeli Papa Damar agar memberi kamu waktu libur!" kata Baby dengan emosi.


Aku duduk dengan tegak dan menenangkan Baby. "Tak apa, Sayang. Aku tahu niat Papa juga baik. Ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan yang Papa bangun. Aku yang seharusnya mewarisi apa yang sudah Papa kerjakan. Kalau aku terlalu banyak bermain, kapan aku belajarnya? Setidaknya pengorbananku tidak sia-sia. Aku bisa membuka lapangan pekerjaan lagi yang lebih besar untuk orang lain."


Baby memeluk tubuhku dan menepuk punggungku dengan lembut. Benar-benar memberiku semangat. "Kamu hebat, Mas. Kamu hebat! Aku bangga sama kamu!"


Aku melepaskan pelukan Baby dan mencium keningnya agak lama. Aku suka kebersamaan kami seperti ini. Kini aku menatap ke dalam mata Baby. "Semua karena kamu, Sayang! Kamu yang selalu menemani Mas. Ingat tidak saat Mas dihukum karena nilai Mas turun? Kamu diam-diam ke kamar Mas dan membawakan Mas es krim? Mas senang sekali saat itu. Rasanya Mas seperti ada sekutu. Cuma kamu yang perhatian sama Mas. Maaf ya, Mas terlambat mencintai kamu. Mas janji, mulai sekarang Mas akan belajar lebih mencintai kamu lagi."


Baby tersenyum dan mengusap wajahku dengan tangannya yang lembut. "Mas belum cukuran, tapi aku suka. Terlihat lebih seksi dan menggoda."


"Oh ya? Mau Mas goda sekarang?" Aku memainkan kedua alisku. Menaik turunkan sambil tersenyum penuh maksud.


"Ih Mas ah, aku malu," Baby mencubit pelan pinggangku. Menggemaskan sekali dia. Cium ah.


Kuangkat wajah Baby dan mulai mencium bibirnya yang manis dengan lembut. Baby membalas ciumanku. Ciuman yang manis berubah menjadi gairah yang menuntut disalurkan namun ....


"Baby! Ayo turun! Kita makan malam dulu!" Suara Abi yang berat dan ketukan di pintu membuat gairah kami harus dipadamkan dengan segera. "Kamu dengar tidak?" tanya Abi sekali lagi.


"Iya, Bi. Aku turun sekarang!" jawab Baby.


Yah ... gagal ini mah! Nasib ... nasib!

__ADS_1


****


__ADS_2