
Carmen
"Ah enggak kok, Bang. Aku lagi lihat pemandangan di luar. Untung tidak terlalu macet," kataku beralasan.
"Oh, kirain Abang bilang apa."
Huft, untunglah Abang tidak mendengar keluhanku. Abang Wira lalu membelokkan mobilnya ke sebuah hotel bintang lima yang sangat terkenal. Acara penghargaan antar pengusaha ini rupanya diselenggarakan tidak kaleng-kaleng. Wajar, sponsornya pengusaha kelas atas yang mencari bibit baru bertalenta yang bisa diajak kerjasama nantinya.
Sesampainya di lobby, ada petugas vallet parkir yang bertugas. Aku turun di lobby dengan dibukakan pintu dan menggandeng lengan Abang Wira. Mungkin orang berpikirnya kami sepasang kekasih karena wajah kami yang tidak begitu mirip. Abang mirip dengan Abi, sedangkan aku mirip Mommy.
Kami memasuki area ballroom hotel yang luas dengan banyak pasang mata melihat. Banyak pengusaha dengan jas mahal dan sepatu mengkilap hadir dan menatap ke arahku. Sementara para wanita kelas atas yang bergaun seksi dan memakai perhiasan mahal menatap ke arah Abang yang memang punya banyak pesona di mata kaum Hawa.
"Senyum, Dek!" kata Abang Wira sambil berbisik.
Aku menurut dan tersenyum ramah. Aku membawa nama baik Abang. Abang sedang merintis usaha dan aku harus mendukungnya menggantikan Kak Dewi malam ini. Banyak cowok-cowok tampan yang membalas senyumku sampai senyum di wajahku menghilang ketika kurasakan hawa dingin dan tatapan setajam pisau menusuk ke dalam tulangku.
Di sana, di tengah ruangan. Seorang lelaki paling tampan di mataku memakai tuksedo hitam dan terlihat amat gagah dan menarik perhatian menatap tajam ke arahku yang seakan sedang tebar pesona ke lelaki lain. Tatapannya begitu tajam, perpaduan antara tatapan kesal karena aku memakai pakaian seksi dan tatapan marah karena aku senyum pada lelaki lain.
"Dek, mantan suami kamu tuh!" bisik Abang Wira. "Ngeliatin kamu terus. Menyesal pasti deh dia kehilangan kamu!"
Aku tersenyum. Kalau Abang tahu kami sudah rujuk secara agama dan sebentar lagi secara hukum bagaimana ya? Pasti aku akan dikatai bodoh seharian.
"Dia nyamperin tuh, Dek! Mau pergi ke tempat lain enggak?" tanya Abang lagi masih sambil berbisik.
"Terserah Abang saja," jawabku. Jangan sampai ketahuan. Pura-pura saja acuh.
"Kita ke sana aja, Dek!" Abang lalu mengajakku berbelok, membuat Mas Zaky kaget dengan perubahan rencana Abang Wira.
"Dia kaget, Dek. Biarin aja. Ayo, di sana ada pengusaha batu bara. Dia juga duda. Gosipnya dia lagi nyari istri. Kamu Abang kenalin ya sama dia. Siapa tau kalian berjodoh!" Abang Wira menunjuk ke arah seorang laki-laki tinggi dan tampan yang terlihat jutek. Banyak wanita cantik yang mengelilinginya.
"Hi, Bro!" sapa Abang Wira pada lelaki gagah tersebut.
__ADS_1
Lelaki tersebut tersenyum melihat Abang. Rupanya mereka sudah berteman akrab. Mereka bersalaman dan tos layaknya sahabat akrab. "Muka manyun aja!" sindir Abang.
"Bosen. Enggak ada yang seru!" jawab lelaki tersebut seraya melihat ke arahku. "Bini ganti?"
"Enak aja ganti. Lo tau bini gue cantiknya kayak gimana, bisa bahaya kalau dibawa ke acara kayak begini. Ini adik gue, Carmen." Abang Wira menarik tanganku agar mendekat. "Kenalin teman Abang. Pengusaha batu bara dan minyak yang sukses, Angkasa Djiwa."
"Panggil aja Djiwa." Lelaki tersebut mengulurkan tangannya padaku untuk berkenalan sambil tersenyum.
"Carmen." Kusambut uluran tangan Djiwa dan membalas senyum ramahnya. Kami hanya bersalaman sebentar saja karena aku tahu ada mata setajam pedang yang mengawasiku dari belakang.
"Djiwa ini duda yang terkenal di mata cewek-cewek cantik," puji Abang Wira.
"Ah bisa saja. Masih kalah dengan Abi kalian, The Legend Duda Nackal," puji balik Djiwa.
"Weits, itu julukan tak mudah lekang di makan waktu." Abang lalu mulai menyampaikan maksudnya. "Jadi begini, Bro. Gue denger lo lagi nyari pasangan. Kebetulan Adik gue janda. Bisa kali kalian kenalan dan jadi lebih deket."
Aku menunduk malu dengan ulah Abang. Mau marah tapi aku tahan. Seenaknya saja mengenalkanku pada temannya dan memberitahu statusku sebagai janda. Memang secara hukum aku masih janda, namun secara agama aku sudah rujuk.
"Kenalan aja dulu, Bro. Ngobrol. Gue mau ke sana dulu. Biasa, safari bisnis. Siapa tau ada yang nyangkut dan mau invest?" Abang lalu pamit dan meninggalkan kami.
Aku terdiam, tak berani berkata apapun. Djiwa yang mengajakku bicara duluan. "Tertekan banget kayaknya kenal sama aku. Santai saja. Kamu bukan yang aku cari. Kamu terlalu lemah. Bisa habis kamu sama keluargaku."
Aku mengangkat wajahku dengan cepat dan tersenyum senang. "Beneran?"
Djiwa tersenyum. "Beneran. Dulu istri gue kayak lo. Lemah lembut. Kalem. Eh, habis sama keluarga gue yang serakah. Jangan deh, lo enggak akan kuat. Gue tadi iyain aja permintaan Abang lo, daripada lo dikenalin sama pengusaha lain."
"Makasih banyak ya, Djiwa. Kamu sudah menolong aku," kataku sungguh-sungguh.
"Satu lagi, itu mantan suami lo?" Djiwa menunjuk ke belakangku. Reflek aku menoleh dan melihat Mas Zaky mendekat. "Serem banget ngeliat gue kayak begitu. Untung kita rekan bisnis, jadi gue tau sifat aslinya kayak gimana."
"Jangan deket-deket sama bini gue!" omel Mas Zaky. "Inget ya, dia bini gue!"
__ADS_1
Djiwa tertawa mendengar sikap Mas Zaky yang posesif. "Kata Abangnya dia udah cerai?"
"Kita udah rujuk. Ini gue mau deketin Abangnya dulu. Titip bini gue sebentar ya. Gue mau ngomong sama Abangnya. Jangan lo sentuh seujung kuku ya! Awas lo!" ancam Mas Zaky membuat Djiwa makin tertawa mendengarnya.
Mas Zaky lalu pergi menghampiri Abang dan menitipkanku pada Djiwa. Entah apa rencananya, aku ikut saja. Djiwa ternyata orangnya asyik. Ia senang karena saat bersamaku, para gadis yang mendekatinya pergi.
****
Zaky
Menitipkan Baby pada Djiwa adalah tindakan yang aman. Aku kenal siapa Djiwa dan bagaimana kisah kelamnya. Kini aku harus fokus dengan tujuanku. Mendapatkan hati Wira agar mau merestuiku kembali.
Aku mendekati Wira yang baru saja turun sehabis mendapat penghargaan. Wajahnya tersenyum bahagia, pertanda suasana hatinya sedang baik. "Selamat ya, Bro! Lo memang inovatif orangnya!" pujiku dengan tulus.
"Yoi, makasih!" jawab Wira datar.
"Ngapain lo deketin gue? Mau dapet restu buat deketin adek gue? Jangan harap ya!" ketus Wira lebih pedas daripada biasanya.
"Enggak, kok. Mau nawarin lo kerjasama," kataku.
"Ogah!" tolak Wira tanpa pikir panjang.
"Yakin? Proyek yang gue tawarin nilainya fantastis loh!" pancingku.
"Ogah!" tolak Wira lagi.
"Yaudah kalo lo enggak mau, gue tawarin ke Dewi aja!" pancingku dan langsung kerah kemejaku ditarik oleh Wira.
"Berani lo usik bini gue lagi, habis lo!"
****
__ADS_1
Siapa sih Angkasa Djiwa? Tenang, ada kok jawabannya nanti. Sekarang, mau baca Bu Sri gratis tidak? Aku lagi adain giveaway untuk 6 orang pemenang yang akan memenangkan baca Bu Sri gratis. Caranya ada di Group Chat Mizzly. Kalian bisa ketuk dulu, tapi syaratnya komen di salah satu novel aku ya biar Mimin Cantik bukain. 🥳🥳🥳