
Carmen
"Cintaku yang ketinggalan." Mas Zaky tiba-tiba menggandeng tanganku tanpa ijin dan mengajakku membeli tiket. Antrian belum terlalu panjang. Aku berusaha melepas tangannya namun Mas Zaky tak membiarkanku melepasnya.
"Takut hilang," Begitu alasan Mas Zaky.
"Memangnya aku anak kecil?" cibirku.
Mas Zaky tersenyum dan mengeluarkan dompet lalu mengulurkannya padaku. "Tolong ambilkan ATM dong!"
Aku mengernyitkan keningku. "Ambil aja sendiri!" tolakku.
"Susah," jawab Mas Zaky.
"Ya lepasin tanganku dulu dong!" kataku dengan kesal.
"Enggak mau. Takut kamu hilang. Udah cepat ambilin!" paksa Mas Zaky.
Tak mau membuat antrian makin panjang, terpaksa aku mengambil ATM dari dompet Mas Zaky sementara Mas Zaky memegang dompet tersebut agar aku gampang mengambilnya. "Ribet!" omelku.
Mas Zaky tersenyum. "Ada tujuannya nanti aku kasih tau. Udah ambil saja!"
Kuambil ATM dari deretan kartu yang ia miliki. Ada black card, titanium card, platinum, corporate redit card dan aneka kartu lainnya. Kuambil kartu yang dulu sering Mas Zaky pakai untuk mentraktirku jajan lalu memberikan pada Mas Zaky.
"Tolong pegang dompetku dulu. Aku mau masukkin PIN," kata Mas Zaky.
Aku menurut karena sudah malu dilihat orang lain yang mengantri. Lebay banget Mas Zaky, mengantri saja pakai gandengan tangan, ambil ATM minta diambilin. Bagaimana tidak jadi pusat perhatian?
Saat hendak menutup dompet, mataku melihat ATM yang dulu Mas Zaky berikan untuk mentransfer uang belanja bulanan padaku. Masih tersimpan dengan rapi dan aku juga melihat foto pernikahan kami. Rupanya, Mas Zaky tidak pernah menghilangkan foto tersebut dari dompet miliknya. Aku pikir, pernikahan kami tak pernah berharga di matanya, namun ternyata ia masih menyimpannya meskipun aku sendiri sudah menaruhnya di dalam gudang.
Setelah mendapat tiket, Mas Zaky mengajakku masuk ke dalam. Kami menukarkan tiket dan mendapat stempel di tangan bergambar maskot Dufan. "Mas, lepasin dong tangannya! Gerah nih. Keringetan!" protesku. "Ini dompet kamu masih aku pegang. Bawa sendiri ah!"
"Mas bilang tadi kalau gandengan tangan ada gunanya bukan?" tanya Mas Zaky seraya mengambil dompet yang aku berikan lalu menaruhnya di saku celana.
"Apa gunanya? Biar enggak terpisah dan hilang di keramaian? Hallo ... aku tuh udah dewasa. Aku bisa telepon Mas Zaky dan kita janjian untuk ketemu di suatu tempat. Aku hafal dimana lokasi seluruh permainan. Lebay banget sih!" omelku.
"Bukan itu, Baby. Itu hanya salah satu tujuan. Ada yang utama," jawab Mas Zaky dengan santai.
"Iya, apa alasannya? Kayak rombongan nenek-nenek jompo yang harus pegangan tangan saja!" omelku lagi.
__ADS_1
"Kamu marah-marah terus ih! Malah bilang kita kayak jompo, ya meski aku mau berdua sama kamu sampai kita jompo dan hanya terpisahkan oleh maut sih, tapi kita masih muda. Bukan jompo!" omel Mas Zaky.
"Yaudah kenapa?" tanyaku lagi.
"Ini tuh namanya pelekatan. Teknik pelekatan yang baik bisa membuat hubungan kita makin erat," jawab Mas Zaky.
"Pelekatan? Kayaknya aku pernah denger dimana ya?" Aku berusaha mengingat apa yang aku dengar. Oh iya, dari Kak Dewi.
Mas Zaky senyum-senyum saat tahu kalau aku sudah mengingat apa yang pernah kudengar. "Ngaco!" semburku.
"Loh, ngaco dimana? Kita tuh sama kayak ibu menyusui dan bayinya. Posisi menyusui yang benar merupakan teknik pelekatan yang membangun chemistry dan kedekatan anak dan ibunya," kata Mas Zaky makin ngaco saja.
"Heh, aku enggak lagi menyusui ya!" jawabku.
"Gampang itu. Bisa diatur. Kamu bisa kok menyusui aku kapan saja dan dimana saja!" jawab Mas Zaky sambil tersenyum menggoda.
"Dih!" Kulepas dengan paksa tangan Mas Zaky dan berhasil. Aku lalu berjalan cepat dan meninggalkan Mas Zaky yang menyusul di belakang.
"Baby! Bagaimana dengan teknik pelekatan kita?" tanya Mas Zaky.
"Mas Zaky pakai lem Korea aja sana! Lekatin kedua tangan Mas Zaky jangan sampai lepas!" jawabku. Aku lalu mengantri untuk naik Kora-kora sebelum antrian semakin panjang.
"Bodo!"
"Kalau peluk dari belakang sambil antri boleh?" tanya Mas Zaky pelan di belakang telingaku.
Hampir saja aku meloncat kaget. Merinding rasanya tubuhku mendengar suara Mas Zaky di titik kelemahanku. Belakang telinga. Aku suka geli kalau ada yang berbicara di belakang telingaku.
"Ih apaan sih? Ngagetin aja!" omelku.
"Ngagetin? Aku ngomong pelan sama kamu. Kalau ngomongnya kencang, bisa didengar banyak orang!" Mas Zaky membela dirinya.
Kami langsung maju ke antrian depan karena memakai fast track. Aku memilih tempat duduk di paling belakang, Mas Zaky pun mengikuti. Sambil menunggu wahana siap dan pengunjung lain naik, Mas Zaky kembali menanyakan hal yang tidak penting.
"Kamu geli ya aku bisik-bisik di sana?" tanya Mas Zaky. Aku tak mau jawab. Aku diam saja.
"Oh berarti benar. Nanti kalau kita sudah resmi balikan aku akan sering ah bisik-bisik di tempat tadi," bisik Mas Zaky.
"Ngarep!" cibirku.
__ADS_1
"Memang," jawab Mas Zaky.
Wahana Kora-kora yang kami naiki sudah mulai dijalankan. Pertama kami berayun pelan namun makin lama makin kencang. Suara jeritan dari pengunjung yang menaiki wahana mulai terdengar kencang. Aku pun ikut berteriak.
Di tengah teriakan kencang dan degup jantung yang tak kalah kencang aku mendengar Mas Zaku berteriak. "Baby! I love you!"
Aku tak melihat ekspresi Mas Zaky. Aku sibuk dengan debaran jantungku saat Kora-kora naik dan turun dengan kecepatan sangat cepat, sampai akhirnya kecepatan di turunkan dan aku bisa menghela nafas lega.
Mas Zaky membantuku turun selesai bermain. Aku kembali menyambut uluran tangannya. "Kamu dengar tidak, aku tadi teriak kencang loh!"
"Enggak denger," kataku berbohong.
"Masa sih? Aku teriak kenceng sambil ngatur degupan jantung loh. Susah itu," kata Mas Zaky lagi.
"Yaudah kalau enggak dengar," Mas Zaky terlihat sedih. "Padahal tadi aku puji kamu cantik loh!"
"Bohong! Puji cantik dari mana? Tadi bilang Baby I lo-" Aku yang terpancing jadi berkata jujur kalau aku mendengar apa yang dikatakan Mas Zaky. Ah bodoh! Memang aku ini susah sekali berbohong!
"Tuh 'kan dengar?! Berarti perjuangan aku tidak sia-sia. Lain kali jangan bohong lagi ya!" Mas Zaky mengusap rambutku seperti mengusap rambut anak anjing yang lucu dan menggemaskan.
Kembali kutepis tangannya. "Enggak janji ya!" jawabku.
Aku berjalan menuju wahana roller coaster. Masih mau berteriak rupanya. "Kali ini kamu mau aku teriak apa?"
"Sok banget. Kayak bisa aja?!" cibirku.
"Bisa dong! Udah cepetan mau aku teriak apa?"
"Yakin?" tanyaku, sebuah ide jahil melintas di kepalaku.
"Yakin. Semua untuk kamu, apa sih yang enggak," gombal Mas Zaky.
"Oke. Jangan menyesal ya!" ancamku.
"Iya. Apa? Coba bisikkin!" Mas Zaky menurunkan sedikit tubuhnya agar aku yang hanya setinggi bahunya bisa mudah membisiki dirinya.
Aku pun membisikkan sesuatu di telinga Mas Zaky. Senyum di wajahnya menghilang. "Berani enggak?"
****
__ADS_1