
Carmen
Keesokan harinya Mas Zaky menepati janjinya untuk makan siang bersamaku. Mas Zaky menjemputku sebelum jam 12.00 agar tidak macet di jalan. Aku meminta Mas Zaky untuk tidak turun dari mobil, tak mau sampai karyawanku ada yang melihat dan menimbulkan rumor yang pada akhirnya akan sampai ke telinga Abi. Bermain aman itu lebih baik saat ini.
"Assalamualaikum istriku sayang!" sambut Mas Zaky saat aku masuk ke dalam mobil. Aku juga meminta Mas Zaky jangan keluar dari mobil untuk membukakan pintu. Pokoknya, Mas Zaky cukup menunggu di tempat yang tidak jauh dari cafe milik Mommy, biar aku sendiri yang datang menghampiri.
"Waalaikumsalam," jawabku datar.
"Ih jawabannya nggak ada senyum-senyumny sama sekali sih, kenapa? Nggak kangen ya sama aku?" tanya Mas Zaky yang kini sudah melajukan mobilnya
"Aku lagi banyak pikiran, Mas. Salah satunya adalah tentang Abi," kataku jujur.
"Memang Abi kamu kenapa? Abi kamu belum tahu 'kan tentang hubungan kita?" tanya Mas Zaky.
"Belum tahu sih. Aku cuma kepikiran aja, kalau Abi sampai tahu bagaimana nanti? Aku yakin Abi akan marah besar. Bukan hanya sama Mas Zaky saja, pasti akan marah sama aku juga. Aku pasti akan dianggap sebagai anak yang telah berkhianat pada orang tuanya. Ah, Mas Zaky sih. Coba kalau malam itu Mas Zaky tidak memancingku, pasti kita nggak akan serumit ini masalahnya!" gerutuku sambil memanyunkan bibir.
"Justru kalau tahu masalah ini akan jadi rumit, sudah sejak lama aku pancing kamu. Kamu saja yang selalu menghindar sama aku dan selalu pergi saat aku dekati. Aku ajak kamu ngobrol saja, kamu nggak mau. Sudah kamu tenang saja. Masalah Abi kamu, biar aku yang hadapi. Kamu mau kapan aku bicara dengan Abi kamu? Malam ini? Aku siap kok!" kata Mas Zaky dengan penuh keyakinan.
"Aku yang tidak siap, Mas. Aku terlalu takut jika Abi marah. Aku bingung akan berkata apa di depan Abi. Nanti saja deh menjelaskannya. Kita tunggu momen yang tepat baru bisa berkata jujur sama Abi."
__ADS_1
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Oh iya, Mas udah nyari restoran yang bisa kita gunakan untuk makan siang dengan tenang tanpa ada yang tahu. Kamu pasti suka deh!" Aku menanggapi omongan Mas Zaky dengan tersenyum dan menggangguk patuh.
Aku lalu membuang pandanganku dan melihat pemandangan di luar jendela. Jaranan sudah mulai macet, kalau kami pergi telat sedikit saja, pasti kami akan terjebak macet dan aku akan kembali ke cafe lebih lama lagi.
"Kok diem aja sih? Memang nggak kangen apa sama Mas? Mas tuh nggak bisa tidur semalam, padahal Mas sudah tidur di tempat tidur kita, tapi masih aja nggak bisa tidur. Mas kangen banget sama kamu, Cantik. Kapan ya, kita bisa tinggal satu rumah lagi? Kamu nggak bisa gitu minta izin sama Abi? Bilang mau pergi ke rumah teman kamu gitu? Bilang aja seminggu, nanti kita honeymoon. Kamu mau nggak?"
Aku menghela nafas dalam mendengar permintaan Mas Zaky. Pergi seminggu? Untuk honeymoon? Aku nginap semalam saja sudah ketakutan memberi alasan pada Abi, bagaimana kalau seminggu? Aduh, aku nggak tahu deh bagaimana menghadapi Abi.
"Nanti aja deh, Mas. Aku takut minta izin sama Abi. Mas tau sendiri, aku ini nggak jago berbohong. Kalau aku memberi alasan dan berbohong, Abi pasti langsung tahu. Nggak usah deh, Mas. Aku takut."
"Yah ... padahal Mas pengen jalan-jalan sama kamu. Mas nyesel, dulu waktu kita honeymoon Mas tidak menyentuh kamu sama sekali. Sekarang, Mas malah pengen kita honeymoon lagi dan menikmati waktu berdua. Bodoh ya suami kamu ini?" tanya Mas Zaky.
"Ya namanya juga penyesalan, Sayang. Penyesalain itu datang belakangan. Kalau yang datangnya duluan itu namanya kepagian. Kalau datangnya siang, namanya kesiangan."
"Lalu kalau yang datangnya malam, namanya kemaleman? Garing banget ih!" protesku sambil menahan senyum.
Aku nggak kuat kalau Mas Zaky sudah mulai mengatakan kata-kata yang garing. Bahkan aku malah pengen tertawa terbahak-bahak tapi aku menghargai usahanya.
"Tuh 'kan sekarang udah mulai rileks dan tidak khawatir lagi kayak tadi. Kita udah sampai." Mas Zaky memarkir mobilnya lalu membukakan pintu untukku.
__ADS_1
Dari luar restoran Jepang ini tidak terlihat seperti restoran yang memiliki fungsi khusus, nampak normal saja. Mas Zaky bilang, restoran ini biasa dipakai untuk orang-orang yang ingin melakukan perselingkuhan dengan aman. Aneh banget. Awas aja kalau sampai makanannya enggak enak dan lebih enak bakso tusuk di depan SD!
Kami lalu disambut dengan pelayan restoran yang mengantarkan kami ke sebuah ruangan kecil di mana terdapat meja dan kursi yang nyaman. Rupanya, ini seperti konsep restoran Jepang yang ada di film-film. Setiap ruangan berhadapan namun privasinya benar-benar terjaga. Entah berapa harga sewa restoran ini, yang pasti ini sesuai dengan keinginan Mas Zaky.
Setelah memesan makanan, kami mengobrol tentang keadaan rumah yang kata Mas Zaky seperti kehilangan pemiliknya saat aku pergi. Mas Zaky nggak suka kalau rumah tiba-tiba kosong karena aku sudah pulang. "Enggak enak banget aku, Baby. Sepi. Aku sih bukan takut, hanya rasanya kosong seperti kehilangan jiwanya kalau kamu nggak ada."
"Sampai sebegitunya? Padahal, Mas Zaky suka sekali loh dengan ketenangan apalagi kalau sedang fokus bekerja." Aku jadi teringat dulu alasan Mas Zaky minta pindah kamar karena ingin fokus bekerja. Kenapa sekarang malah ingin terus bersamaku yang bawel ini?
"Itu 'kan dulu, sebelum aku tahu kalau suara bawel kamu itu lebih merdu daripada piano yang dimainkan oleh pianis terkenal. Sebelum aku tahu, kebawelan kamu lebih membuatku kecanduan. Sekarang, aku nggak suka dengan suasana sepi seperti itu. Aku pencinta suara bawel kamu nomor satu. Makanya, kamu cepat pulang ya!"
"Kalau mau aku cepet pulang, hadapi Abi dulu tuh! Aku aja nggak berani. Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Aku lapar. Aku mau makan. Awas ya kalau rasa masakannya nggak enak dan lebih enakkan kue cubit di pasar!" ancamku.
Mas Zaky tertawa mendengar ancamanku. "Ancaman macam apa itu? Kenapa sih selalu harus dibandingkan dengan makanan SD? Itu beda konsep, Sayang. Kita makan di restoran Jepang dengan ruangan yang private, kamu lihat saja nggak ada CCTV di sini. Bukan hanya digunakan untuk selingkuh saja, restoran ini juga digunakan untuk bisnis penting. Aku sih belum pernah, aku nggak suka tempat terlalu privat begini. Aku lebih suka membicarakan bisnis di tempat yang santai dan restoran keluarga gitu."
"Lalu tau dari mana tempat ini?" tanyaku penasaran.
"Dari rekan bisnis aku yang suka selingkuh," jawab Mas Zaky dengan polosnya.
Ya ampun Mas Zaky ....
__ADS_1