Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Membuat Zaky Kesal


__ADS_3

Carmen


Mas Zaky datang dengan senyum yang lebar. Ia menyapaku seakan kami sudah sangat dekat dan tak ada permasalahan yang terjadi sama sekali. "Pagi, Baby!"


Tentu saja aku mengacuhkan sapaan yang diucapkan oleh Mas Zaky. Seperti baru menyadari kalau aku tidak seorang diri, Mas Zaky menatap Bahri dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang terlihat sekali kalau dia tidak menyukai Bahri. "Kamu lagi ngapain sama dia, Baby?"


Aku tak menjawab pertanyaan Mas Zaky. Sejak kapan aku wajib menjawab pertanyaan yang Mas Zaky ajukan? Kalau nggak penting seperti menjawab salam, aku nggak mau menjawabnya.


"Maaf Mas, dicuekin ya?" ledek Bahri.


Mas Zaky terlihat kesal diledek oleh Bahri namun ia berusaha menutupi kekesalannya tersebut dengan bersikap seolah dirinya baik-baik saja. "Kata siapa dicuekkin? Salah ngeledekkin orang ya? Aku nggak dicuekin kok. Kalau nggak percaya, ini buktinya!"


Aku sudah menduga kalau Mas Zaky akan menggunakan strateginya agar aku mau menjawab perkataannya. Untuk mencegah Mas Zaky melakukan hal tersebut, aku lalu berdiri dan pergi ke kasir. "Mbak, aku minta kopi dan croissant ya! Kirimin aja ke atas. Aku ada di lantai atas."


Sebelum aku naik ke lantai atas, aku masih sempat mendengar Bahri tertawa terbahak-bahak melihat ulahku. "Bagus, Baby. Kabur sana! Cuekin terus! Jangan lupa, dulu juga dia nyuekin kamu!" sindir Bahri sambil tertawa puas. Aku tak mendengar lagi apa yang dibicarakan oleh Bahri dan Mas Zaky.


Rupanya Mas Zaky tak langsung mengikutiku dan naik ke atas. Apa mungkin dia pulang? Ternyata tidak. Tak lama kemudian, dengan wajah kesal ia naik ke atas. Aku sedang memeriksa laporan salon yang sudah lama tidak aku sentuh karena sibuk mengurusi bisnis cafe milik Mommy, tiba-tiba ia berdiri di depanku.


"Baby, aku mau bicara!" kata Mas Zaky dengan tegas.


Untuk ketiga kalinya aku tak menanggapi omongannya. Aku fokus dengan pekerjaanku dan membuat Mas Zaky makin geram saja dicueki olehku. Ia lalu menarik kursi di depanku dan duduk sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa kamu akrab sekali sih sama Bahri? Anak itu nggak sopan tau nggak! Kenal enggak, tapi berani meledekku! Siapa sih dia? Baru adiknya Dewi saja sudah belagu!" kata Mas Zaky dengan sombongnya. Mndengar dia ngoceh seperti itu, aku semakin yakin untuk tidak menanggapi sama sekali semua perkataan yang keluar dari mulutnya. Seperti anak kecil saja. Kenapa harus mengadu padaku coba?


Tak lama kemudian, si pembuat onar datang. Bahri ternyata juga naik ke lantai atas dan menghampiriku. Kini ia duduk di kursi yang berada di sampingku dengan diiringi tatapan mata super sinis dari Mas Zaky.


"Baby," panggil Bahri.


"Yeh ... main panggil Baby aja! Carmen. Panggil Carmen aja! Jangan sok akrab, manggil-manggil Baby!" gerutu Mas Zaky.

__ADS_1


"Kenapa?" jawabku.


Kembali aku mendengar Mas Zaky menggerutu karena aku malah menyahuti Bahri dan menyueki dirinya. "Kenapa sama aku nggak dijawab sih, Baby? Kenapa kalau dia yang nanya kamu jawab?" kata Mas Zaki dengan wajah sebalnya.


Aku kembali mengacuhkan Mas Zaky dan mendengarkan Bahri bicara. "Nanti sore jalan yuk! Mumpung aku masih belum masuk kerja. Kita jajan sepuasnya!" ajak Bahri.


"Jangan seenaknya ngajak bini orang!" celetuk Mas Zaky.


"Bini? Bini siapa? Baby udah janda, Bos! Lupa kalau situ udah dicerein?" sindir Bahri. Aku sebenarnya mau tertawa mendengar Bahri dengan berani membalas Mas Zaky, namun aku tahan agar terlihat jaim dan keren gitu.


"Ya ... sebentar lagi juga jadi bini aku lagi!" balas Mas Zaky tak mau kalah.


"Nanti sore? Boleh aja. Aku kerjain laporan di salon dulu ya!" jawabku, membuat Mas Zaky makin sebal saja.


"Jangan mau dong, Baby. Meskipun sekarang kamu udah jadi janda, jangan mau diajak cowok sembarangan. Ingat, jadi janda yang terhormat. Lebih baik pergi sama aku aja! Aku antar kemanapun kamu mau pergi. Ke Bali? Ayo. Singapura lagi kayak kita honeymoon dulu juga boleh," sahut Mas Zaky.


"Habis ashar saja. Tidur sana kamu! Pasti di kereta tidurnya tidak nyenyak dan sibuk main games bukan?" tebakku.


"Sok tau!" celetuk Mas Zaky.


"Kamu tau banget deh tentang aku, Baby. Aku ngantuk nih mau bobo. Mau temenin?" goda Bahri lagi.


"Enak aja main temenin. Awas aja ya nyentuh Baby seujung kuku, aku pites!" kata Mas Zaky dengan emosi.


"Jangan sampai telat ya! Kamu mau aku bawain apa? Nasi goreng mau?" Aku jadi ikutan Bahri mengerjai Mas Zaky. Aku ingat Mas Zaky beberapa hari lalu bilang kalau kangen dengan nasi goreng buatanku.


"Buatan kamu?" Bahri tau kalau aku sedang ikut meledek. Ia memainkan perannya dengan sangat baik.


"Iya, dong! Nanti aku buat di dapur cafe," kataku lagi.

__ADS_1


"Enggak boleh! Jangan pernah buatin laki-laki lain nasi goreng buatan kamu selain aku! Ingat itu! Aku enggak suka!" omel Mas Zaky.


"Lah, situ siapa? Dari tadi orang ngobrol ikut-ikutan terus? Emangnya diajak?" ledek Bahri.


Sebelum Mas Zaky emosi, Kak Dewi datang dan memanggil Bahri. Aku melihat Kak Dewi agak kaget melihat Mas Zaky. Malah, Mas Zaky santai saja dan terkesan cuek.


"Dek, koper kamu singkirin dong! Pelanggan Kakak susah bawa cucian kotor banyak harus ngelewatin koper kamu yang gede itu!" ujar Kak Dewi.


"Iya, Kak. Aku mau pulang kok." Bahri berdiri dari duduknya lalu pamit padaku sebelum pulang. "Tunggu aku nanti sore ya! Jangan lupa nasi goreng buatan kamu! Ingat enggak, aku yang jadi bahan percobaan tiap kamu belajar bikin nasi goreng? Aku tuh yang pertama tahu perjuangan kamu belajar sampai jago buat nasi goreng! Babang Bahri mah selalu setia. Wait me ya Baby!"


Aku tersenyum mendengarnya. Anak itu masih saja jahil mengerjai Mas Zaky yang kini wajahnya sudah merah padam karena marah dan kesal bercanpur jadi satu.


Bahri lalu pergi meninggalkanku dan Mas Zaky. Aku kembali mengerjakan laporanku di bawah tatapan mata Mas Zaky yang terlihat emosi.


"Aku minta kamu jangan dekat dia lagi. Aku enggak suka!" Mas Zaky mulai berbicara.


Enggak suka? Kenapa? Memangnya siapa dia berhak melarangku? Semakin dia tak suka, aku malah semakin senang menggodanya!


"Aku mau kita balikkan lagi kayak dulu. Aku janji kita akan jadi pasangan yang sangat berbahagia. Aku akan beru-" Belum selesai Mas Zaky berbicara, ponselnya berdering. Dengan terpaksa Mas Zaky mengangkat teleponnya.


"Apa sih Pa? Aku lagi sama Baby nih!" kata Mas Zaky dengan gusar. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk turun ke bawah dan meninggalkan Mas Zaky.


"Baby! Mau kemana? Aku belum selesai bicara?" teriak Mas Zaky. Aku acuhkan dan meninggalkan dia yang marah-marah ke Papa. "Papa sih! Ganggu aja!"


****


Hi semua!


Maaf ya aku belum double up karena masih ada kesibukan lain. Aku selesaikan satu persatu ya. Jangan lupa yang belum follow, bisa follow IG aku: Mizzly_ dan Fb: Mizzly untuk tahu berita update tentangku. Akan ada novel baru tentunya. Yuk follow aku untuk tahu berita terbaru 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2