
Zaky
Setelah bercerai, Carmen kembali ke rumah Abi. Entah dia pergi kemana selama ini. Keberadaannya sengaja disembunyikan agar tak goyah untuk bercerai denganku.
Pagi ini aku kembali melihatnya saat aku hendak berangkat kerja. Ia sedang memanaskan mobilnya. Penampilannya rapi dan terlihat lebih cantik dari biasanya. Kemeja putih dengan pita di bawah leher dan celana panjang cokelat.
"Pagi, Baby!" teriakku dari garasi rumah.
Baby hanya melihat sekilas lalu masuk ke dalam mobilnya. Tidak berbicara sama sekali. Aku juga melakukan hal yang sama. Masuk ke dalam mobil dan mengikuti kemana dia pergi.
Rupanya Baby mampir ke salah satu cafe milik Mommy Tari. Ia turun dari mobil sambil menenteng laptop miliknya. Baru kusadari kalau kini Baby terlihat begitu dewasa. Ia bak wanita karir lainnya yang terlihat keren saat menenteng laptop dan memakai pakaian kerja.
Aku cepat-cepat turun dari mobil dan menghampirinya. Baby terkejut mengetahui kalau ternyata aku mengikutinya sejak tadi.
"Hi, Baby!" sapaku.
Baby masih cuek. Ia terus berjalan melintasi halaman. Aku terus berjalan mensejajari dirinya.
"Pagi, Baby!" sapaku lagi dan Baby masih saja cuek.
Aku tak habis akal. Kali ini pasti dijawab. "Assalamualaikum, Baby!" kataku dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab Baby singkat.
Aku tersenyum mendengar suara Baby. Kenapa ya dengan aku ini? Dulu saja aku pusing mendengar kebawelannya tiap membangunkanku di pagi hari. Sekarang malah aku senang sekali mendengar suaranya meski hanya satu kata saja.
"Udah sarapan belum?" tanyaku.
__ADS_1
Sunyi. Baby diam saja. Ia membuka pintu cafe dan masuk ke dalam. Aku ikuti kemana ia pergi.
"Kamu enggak buat nasi goreng? Aku kangen masakan kamu nih!" kataku terus saja mengoceh sampai ia menjawab perkataanku.
Baby kembali diam. Ia malah bicara dengan salah seorang kasir yang habis melayani pelanggan. "Nanti tolong minta laporan stok barang ya sama Pak Ali!" perintahnya dengan tegas. Kasir tersebut mengangguk patuh.
Wow ... beda sekali Baby saat bekerja dengan sehari-hari. Terlihat tegas dan begitu dihormati anak buahnya. Kenapa aku baru menyadarinya ya?
"Kamu tegas banget sih? Keren ih! Aku baru lihat sekarang. Aku lapar nih, karena ikutin kamu, aku jadi tidak sarapan dulu deh. Kita sarapan yuk! Cari bubur ayam yang enak, mau?" Aku tetap mensejajari langkah Baby yang naik ke lantai 2. Baby tak menjawab pertanyaanku sama sekali.
Kugunakan lagi senjataku agar ia menjawabku. "Assalamualaikum, Baby? Sarapan yuk!"
Baby berhenti dan menghela nafasnya. Tangannya memegang gagang pintu dan membukanya. Sebelum masuk Baby menjawab, "Waalaikumsalam." Ia menutup pintu ruangan dan menguncinya.
Yah ... hanya sampai di sini saja perjuanganku. Tak apa. Perjuanganku belum berakhir. Aku pasti akan memenangkan hati Baby nanti!
****
Carmen
Abi sengaja menyembunyikan keberadaanku dan memintaku tinggal untuk sementara di salah satu cafe milik Mommy, tempat dulu Abang tinggal sebelum menikah dengan Kak Dewi. Ada ruangan dengan kamar dan kamar mandi tersendiri yang nyaman ditempati.
Alasan Abi adalah tak mau aku terus menangis sedih kala melihat Zaky dan pada akhirnya mencabut gugatan cerai karena iba, seperti kisah artis terkenal yang ramai diberitakan di TV. Aku berbeda. Keputusanku untuk bercerai sudah matang. Tak ada kompromi lagi.
"Pagi, Baby!" Suara teriakan Mas Zaky mengagetkanku yang sedang memanaskan mesin mobil sebelum berangkat kerja.
"Cuekkin aja, Baby! Anggap saja monyet peliharaan tetangga sebelah lagi minta pisang!" cibir Abi yang sedang makan pisang goreng di bangku teras rumah.
__ADS_1
"Iya, Bi. Aku jalan dulu. Assalamualaikum!" Aku salim pada Abi dan pergi bekerja. Aku acuhkan Mas Zaky seperti yang Abi minta.
Aku setel musik selama perjalanan ke cafe. Aku tak mau memikirkan Mas Zaky sama sekali. Aku harus move on!
Namun aku tak menyangka kalau ternyata Mas Zaky mengikutiku sampai ke cafe. Sesampainya di cafe, aku harus merapikan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas sebelum keluar dari mobil. Kutenteng laptop yang akan aku gunakan untuk audit cafe hari ini. Aku begitu terkejut saat mendengar sapaan dari Mas Zaky.
Aku kembali mengacuhkannya. Aku ingat pesan Abi dan menganggap kalau suara ocehan Mas Zaky seperti suara monyet yang sedang meminta pisang. Aku tak mau menjawabnya sama sekali.
Rupanya Mas Zaky tidak kehabisan akal. Ia malah mengucapkan salam yang wajib aku jawab sebagai seorang muslim. Terpaksa deh aku harus menjawab salamnya. "Waalaikumsalam." Aku jawab dengan singkat dan tidak ada kata-kata lain selain jawaban salam tersebut.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat dia tersenyum. Baru dijawab salam saja dia sudah senang sekali. Aneh. Dulu waktu aku membangunkannya di pagi hari, ia selalu marah-marah dan mengatakan kalau aku tuh berisik dan bawel, tapi kini? Biarlah, dia pasti cuma mencari perhatian saja! Lebih baik aku cuekin dan fokus dengan pekerjaanku di cafe hari ini.
Mas Zaky terus mengoceh yang tak jelas. Aku fokus bekerja dan meminta laporan pada kasir. Dia masih saja mengikutiku kemanapun aku pergi. Menanyakan tentang nasi goreng buatanku. Siapa juga yang mau membuatkan dia nasi goreng lagi? Tidak deh, daripada usaha aku sia-sia hanya demi laki-laki yang gagal move on seperti dia? Aku nggak mau!
Mas Zaki kembali mengeluarkan senjatanya. Ia kembali mengucapkan salam dan terpaksa aku menjawabnya. "Waalaikumsalam." Namun bagiku sudah selesai hari ini dikerjai olehnya. Kubuka pintu ruangan dan aku tutup lalu aku kunci. Kulihat Mas Zaky diam sejenak di depan pintu sebelum akhirnya dia pergi. Aku duduk di kursiku dan kembali merasa sedih. Air mataku kembali terjatuh. Rupanya aku masih merasakan rasa sakit itu.
Kuambil setumpuk berkas yang belum aku periksa dan kembali fokus bekerja. Aku nggak boleh memikirkan laki-laki itu. Aku harus bekerja, bekerja dan bekerja. Sampai tiba waktu makan siang dan aku merasakan perutku lapar. Aku ingin makan di warung ayam bakar yang terletak di sebelah cafe. Rasanya lumayan enak dan aku suka sambalnya. Aku mengambil dompetku dan saat aku turun ke bawah ternyata Mas Zaky sedang bekerja di belakang laptop.
"Hi Baby! Mau makan siang dimana?" tanyanya.
Aku terus berjalan dan mengacuhkannya. Mas Zaky menutup laptopnya cepat-cepat lalu menitipkan pada karyawanku sebelum akhirnya berlari mengerjarku.
"Kamu mau makan apa? Aku juga lapar nih. Dari tadi cuma ngemil kue aja di cafe kamu. Mau bawa mobil atau kita jalan kaki saja?" tanya Mas Zaky.
Tentu saja aku tak jawab. Aku hanya terganggu dengan kata-kata 'kita' yang ia katakan. Kita? Siapa? Sorry bos, enggak ada kata kita lagi dalam hubungan kita berdua!
****
__ADS_1