Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
In Jogja With Bahri


__ADS_3

Carmen


Aku memesan tiket pesawat dadakan ke Jogja. Kukabari Bahri saat aku baru saja sampai di Jogja. Bahri menyuruhku menunggunya datang menjemput.


Aku menunggu sambil meratapi nasibku yang akan segera menjadi janda dalam usia muda. Miris sekali. Menyedihkan.


Benar apa yang dikatakan oleh Abi. Berdasarkan pengalaman Abi dan Abang Wira yang menikah muda dan berujung dengan banyak masalah dalam hidup. Seharusnya aku mendengarkan nasehat yang Abi berikan, tapi aku malah ngeyel dan merasa diriku ini lebih pintar.


Kini, aku merasa pernikahanku mungkin sebentar lagi hanya menjadi kenangan yang menyisakan banyak luka. Entah kapan bisa sembuh karena kali ini bukan hanya goresan luka yang kurasakan tapi sudah sayatan tajam.


Aku mengangkat wajahku dan melihat Bahri sedang berlari sambil mencari keberadaanku. Bahri tersenyum menyambutku namun tidak dengan diriku yang lansung menangis dan menghambur ke pelukannya.


Aku tak peduli jika aku menjadi pusat tontonan banyak orang. Persetan dengan semua itu. Aku hanya ingin menangis dan meluapkan perasaan sedih yang selama ini menderaku.


Bahri tak banyak bicara. Ia mengusap rambutku dengan lembut dan membiarkan kemejanya basah dengan air mataku.


Puas sekali aku menangis dipelukannya. Kini aku sadar kalau aku kembali mempermalukan diriku di depan umum. Kulepaskan pelukanku dan menghapus air mata yang membuat mataku bengkak.


"Udah lega?" tanya Bahri dengan lembut.


Aku mengangguk lemah. "Sudah."


"Bagus. Sekarang kita ngobrol di tempat tenang. Itu, ada kedai kopi. Kita bicara di sana aja ya!"


Aku kembali mengangguk. Aku pasrah saja saat tangan Bahri menuntunku yang sedang linglung. Sementara tangan Bahri yang lain membawakan koperku.


Ia menyuruhku duduk tenang di kedai kopi lalu memesankan minuman untukku. "Bagaimana kalau ice chocolate? Katanya cokelat bagus untuk menenangkan dan memberi rasa bahagia. Aku pesankan ice chocolate aja ya buat kamu?!


Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa suara. Bahri lalu memesan minuman dan tak lama kembali dengan minuman dan makanan yang ia pesan. "Ayo, kamu minum dulu! Biar kamu lebih tenang, lalu bisa cerita semuanya sama aku."


Aku menurut apa yang Bahri minta. Aku meminum es coklat yang ia pesankan dan hal tersebut membuatku sedikit lebih tenang dan tidak menangis sedih seperti tadi.


"Udah bisa cerita?"


Aku mengangguk. Kuceritakan semua yang terjadi. Semua. Tanpa ada yang aku sembunyikan. Hanya Bahri sahabatku saat ini. Sahabatku yang lain sibuk dengan kehidupannya masing-masing.


"Serius? Mau cerai? Baguslah!" jawabnya dengan jujur.


"Kok bagus sih?" tanyaku kesal. Kesannya Bahri memang menginginkan rumah tanggaku berantakan.


"Ya bagus dong! Kamu hitung aja sendiri, sudah berapa kali kamu kecewa? Kamu hitung sendiri, sudah berapa kali kamu menangis? Kamu hitung sendiri, sudah berapa kali kamu disakiti? Jawabannya ... banyak. Satu tahun loh! Itu bukan waktu yang sebentar untuk membuktikan usaha kamu menjadi istri yang baik. Aku saksinya!" Bahri melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Kamu berubah, dari Carmen si gadis manja jadi perempuan yang penuh tanggung jawab. Kamu belajar membuatkan suami kamu sarapan, kamu belajar menjadi istri yang baik. Kamu itu udah cukup berusaha! Dia aja yang nggak pernah menyadari semua usaha yang kamu lakukan! Tinggalin aja-lah suami kayak begitu. Toh masih ada aku kok yang menunggu janda kamu!"


"Kamu senang aku jadi janda? Kamu senang melihat aku sedih?!" kataku sambil kembali berlinang air mata. Kata-kata Bahri ternyata mampu menyamai level pedas ucapan Abang.


"Bukannya aku senang, aku tuh sedih malah melihat kamu disakiti seperti ini. Aku bisa apa selain jadi pendengar setia kamu? Kamu udah usaha banyak tapi memang suami kamu saja yang tak tahu diri! Kamu berhak bahagia! Jangan lagi terbelenggu dengan lelaki seperti itu! Aku yang tak rela melihat kamu menderita. Jangan nangis lagi, aku sudah bilang bukan kalau bersama aku kamu harus bahagia? Ayo kita jalan-jalan ke pasar malam! Kamu jajan semua yang kamu mau, aku traktir!"


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku enggak mau! Aku tuh lagi sedih mau bercerai, masih aja diajakkin jajan! Aku kenyang!"


"Ih kok ngambek?!"


"Enggak ngambek kok. Lagi sedih aja!"


"Kalau kamu sedih, ayo kita nyanyi!"


"Nyanyi?!"


"Iya. Kita ke cafe kamu lalu nyanyi live musik. Gimana?"


"Ide kamu gila ya?"


"Gila kenapa? Lebih baik begitu bukan?"


Bahri pun melakukan hal gila. Ia mengajakku ke salah satu cafe milik Mommy dan menguasai area panggung. Ia mengambil gitar dan membisikkan lagu untuk kunyanyikan.


🎶Do you ever feel like breaking down?


Do you ever feel out of place?


Like somehow you just don't belong


And no one understands you


Do you ever want to run away?


Do you lock yourself in your room?


With the radio on turned up so loud


That no one hears you screaming


No you don't know what its like

__ADS_1


When nothing feels alright


You don't know what its like to be like me


To be hurt, to feel lost


To be left out in the dark


To be kicked when you're down


To feel like you've been pushed around


To be on the edge of breaking down


And no one there to save you


No you don't know what its like


Welcome to my life🎶


(Simple Plan- Welcoma to my life)


Suara tepuk tangan riuh dari para penonton membuatku tanpa sadar meneteskan air mata. Aku bernyanyi sambil menahan tangis sejak tadi akhirnya pecah juga. Semua memberiku semangat termasuk Bahri yang tersenyum ke arahku.


****


Zaky


Aku pulang dengan tangan hampa. Carmen tak juga kutemukan. Kemana ia pergi?


Tak terhitung berapa kali aku menghubungi ponselnya namun panggilanku malah dialihkan. Ia tak mau menerima panggilanku.


Aku berjalan tanpa sadar masuk ke dalam kamar milik Baby. Nampak kamarnya ditinggalkan dalam keadaan rapi. Tas yang kuberikan tak ia bawa. Beberapa dress pemberianku juga ia tinggal. Hal ini membuatku sedih.


Sesakit itukah aku telah menggoreskan luka untuknya? Sejahat itukah aku?


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang masih tercium aroma parfum milik Baby. Belum ada sehari Baby pergi dan aku sudah merasa kehilangannya. Baby... Kamu dimana?


Apa yang akan aku katakan pada Mama dan kedua orang tuanya? Semua karena kebodohanku! Semua karena keegoisanku! Bagaimana aku bisa membayar semua dosaku pada Baby? Ya Allah ....


Tanpa sadar aku tertidur di kamar Baby dan saat aku terbangun, aku mendengar suara yang berasal dari dapur. Baby?

__ADS_1


****


__ADS_2