Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Membantu Abi


__ADS_3

Zaky


Semenjak tinggal di rumah Abi, aku sudah terbiasa dengan ketukan di pintu kala subuh hari. Pasti Abi ingin mengajakku shalat subuh berjamaah di masjid. Awalnya aku agak terpaksa melakukannya, namun lama kelamaan aku jadi terbiasa dan bahkan sebelum Abi membangunkanku, aku sudah bangun duluan. Aku sudah siap dengan baju koko dan sarung serta sajadah yang kusampirkan di bahuku, sementara istriku tersayang masih tertidur lelap.


Semenjak hamil, Baby jadi mudah mengantuk padahal usia kehamilannya juga masih tergolong hamil muda. Baby bilang, dia suka tidur. Kalau disuruh memilih antara makan atau tidur, Baby akan memilih untuk tidur.


Kami sudah konsultasi ke dokter, dokter bilang semua ini masih normal. Hanya saja Baby yang biasanya rajin bekerja, membuat laporan dan suka wara-wiri ke salon jadi males keluar rumah. Baby lebih suka mengerjakan laporannya dalam kamar dan tak lama kemudian dia akan tidur lelap karena kelelahan.


Aku pergi ke masjid bersama Abi dan Om Bastian seperti biasa. Aku hanya seperti obat nyamuk yang mendengarkan obrolan Abi dengan Om Bastian yang begitu seru. Mau ikut gabung, takut dibilang menantu yang suka ikut campur. Diam adalah pilihan terbaik. Kalau ditanya, aku jawab. Kalau tidak, ya aku diam saja.


Hari sabtu ini aku berencana mengajak Baby jalan-jalan ke Mall. Aku mau membelikan Baby apapun yang ia minta. Aku akan menjadi seorang suami yang siap melayani istrinya ngidam. Namun, karena masih subuh aku ingin tiduran dulu sebentar. Baby juga demikian. Sehabis shalat subuh, ia menarik selimut kembali sama sepertiku. Kami pun tertidur lelap, namun belum lama kami tertidur, sudah ada ketukan lagi di pintu. Sudah pasti pelakunya adalah Abi.


"Zaky. Ayo turun! Bantuin Abi!" perintah Abi tanpa bisa aku bantah.


Aku melepaskan pelukan Baby yang super nyaman dan membiarkannya tidur lebih lama. Aku menghampirimu Abi namun ternyata Abi sudah pergi ke taman depan rumah.


"Zaky, kamu bantuin Abi merapikan rumput nih! Sudah mulai panjang. Selanjutnya jangan lupa tanaman-tanamannya dikasih pupuk," perintah Abi.


Aku terdiam. Aku tidak mengerti tentang tanaman seperti ini. Yang punya hobi bercocok tanam dan merawat tanaman itu adalah Mama. Aku mana pernah mengurusi hal seperti ini. Apa yang harus aku lakukan ya? Sudahlah, nekat saja. Yang penting, apa yang Abi suruh aku lakukan.


Aku pun mengambil gunting rumput yang terletak di pinggir taman. Aku mulai memotong rumput sampai menjadi rumput yang sangat pendek. Layaknya potong rambut, sisakan sedikit saja agar tumbuh lagi lama. Selanjutnya, aku mengambil pupuk kering yang ada di tempat penyimpanan. Aku taburkan sebanyak mungkin ke dalam koleksi tanaman hias milik Abi. Beres. Mudah sekali hanya mengerjakan begini saja.

__ADS_1


Aku pun masuk ke dalam rumah, rencananya setelah cuci tangan aku akan kembali ke pelukan Baby dan tidur lagi dong. Ternyata, rencanaku hanya tinggal rencana. Abi memanggilku.


"Udah?" Abi menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti orang yang curiga dan tidak yakin dengan pekerjaan yang kulakukan.


"Udah, dong. Rumput sudah aku gunting. Pupuk pun sudah aku sebar. Semua beres deh sesuai perintah Abi," jawabku dengan bangganya.


"Kok Abi nggak yakin ya? Cepat sekali kamu mengerjakannya, belum lama Abi selonjoran kamu sudah selesai. Coba Abi lihat hasil pekerjaan kamu!" Abi menutup koran yang sedang ia baca lalu pergi ke halaman depan.


Aku mengikuti dari belakang, aku siap menerima pujian dari Abi. Pasti, Abi tak akan menyangka kalau CEO hebat seperti aku bisa juga melakukan pekerjaan tukang kebun. Abi pasti berpikir, aku hanyalah seorang anak manja. Abi salah. Aku bisa melakukan segalanya. Kita buktikan saja!


"Astaghfirullah!" Abi tiba-tiba mengurut dadanya. Perasaan aku tidak enak nih. Apa yang salah ya? Hilang sudah semua kepercayaan diriku.


"Kenapa, Bi?" tanyaku dengan pelan dan agak sedikit takut.


Aku tak bisa membantah. Aku diam saja. Aku salah besar nih. Aku pikir, semakin botak sebuah rumput itu semakin bagus. Bukankah rumput hanya tanaman liar yang justru malah mengganggu tanaman yang lain? Itu sih yang aku pelajari di sekolah. Kenapa ya Abi malah membela rumput-rumput ini dan malah menyalahkanku? Apakah rumput-rumput ini lebih penting dariku?


"Kamu memang tidak mengerti tentang rumput?" tnya Abi lagi.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku cuma tahu kalau rumput itu salah satu hama tanaman yang mengganggu tanaman yang lain untuk tumbuh. Karena itu, lebih baik rumputnya dihabisi saja agar tidak mengganggu tanaman yang lain," kataku menyuarakan isi hatiku.


Abi terlihat mengepalkan tangannya dan menarik nafas beberapa kali. Aduh, Abi marah nih. Apa jawaban aku salah ya? Apa aku akan dapat bogem mentah lagi karena masalah rumput?

__ADS_1


"Itu bukan rumput yang seperti ini. Beda jenis. Rumput yang seperti ini gunanya untuk mempercantik taman, kita harus merawat dan menjaganya agar taman kita indah. Kalau seperti ini yang kamu lakukan, taman Abi jadi seperti kepala orang yang pitak! Ada yang rata, ada yang dicukur sampai ke akarnya. Apakah seperti ini bagus dilihat?" tanya Abi sambil menahan kesabarannya.


Kali ini aku menjawabnya dengan menggelengkan kepalaku. Pengalaman mengajarkanku untuk tidak banyak berbicara dan lebih baik menurut jika Abi sudah marah. Abi kini menghembuskan nafas dengan kesal. Apa Abi tambah marah ya padaku?


"Pokoknya, Abi nggak mau lagi kayak gini ya! Kamu harus belajar cara merawat rumput!" kata Abi setelah berhasil meredam emosinya dengan istighfar.


"Iya, Bi. Maaf ya Bi. Aku kurang tahu. Aku akan mempelajarinya nanti agar tidak salah lagi," kataku dengan menyesal.


"Iya. Mau bagaimana lagi," jawab Abi datar. Abi lalu pergi ke area tanaman hias miliknya. Kali ini, aku yakin pasti aku benar. Pupuk yang ditaburkan itu adalah pekerjaanku yang paling sempurna.


"Astaghfirullahaladzim, Zaky!" Nada suara Abi mulai naik. Abi kemudian terlihat menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kesal. Wajahnya memerah menahan kesal padaku. "Kenapa pot tanaman Abi isinya pupuk semua?"


"Biar sehat, Bi. Tanaman yang sehat itu 'kan yang sering dikasih pupuk. Kalau aku memberi pupuknya banyak, Abi nggak perlu sering-sering lagi kasih pupuk. Menghemat tenaga. Sekali saja sudah cukup. Bisa untuk stok sebulan atau tiga bulan lagi," jawabku dengan bangga. Aku terlihat pintar bukan?


"Iya kalau tanaman Abi jadi subur, kalau marah keracunan karena kebanyakan pupuk bagaimana? Aduh, nggak Ada yang beres nih pekerjaan kamu! Cukup memberinya sedikit saja lalu disiram air. Ini kenapa cuma kamu tuang pupuk saja lalu kamu pergi meninggalkan pekerjaan kamu? Kalau rumit, kamu bisa pakai semprotan yang sudah diisi pupuk itu. Lebih mudah lagi. Ada tulisannya kok, pupuk," omel Abi panjang lebar.


Aku menunduk dan diam saja. Aku tahu kemarahan Abi semakin berlipat ganda, kalau aku sampai angkat bicara bisa tambah marah nanti.


"Sudah, biar Abi saja yang kerjakan! Kamu cuma membuat pekerjaan Abi jadi lebih banyak saja! Kamu minum kopi saja sambil melihat Abi bekerja!" kata Abi.


"Iya, Bi."

__ADS_1


****


__ADS_2