Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Video Call Semalaman


__ADS_3

Zaky


Melihat Baby tertawa rasanya lelah seharian bekerja jadi hilang. Baby bercerita tentang dirinya yang membujuk Wira sampai berdebat dan akhirnya Wira menyerah. Baik sekali Baby mau membantuku.


"Nanti aku akan mendekatkan diri lagi sama Wira. Dia juga setuju dengan rencana bisnis yang aku tawarkan. Kamu tenang saja. Tinggal Abi kamu yang jadi batu loncatan besar kita," kataku.


Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur hotel yang nyaman. Lelah sekali rasanya namun mau tidur aku tak rela karena masih mau melihat wajah Baby lebih lama lagi.


"Aku tak yakin kalau Abi, apakah aku bisa bantu atau tidak. Aku takut. Sudah malam, Mas. Tidurlah. Aku juga sudah mengantuk nih." Baby membereskan tempat tidurnya yang semula ada laptop dan banyak kertas agar bisa tidur.


"Aku masih mau melihat kamu, Sayang," kataku dengan manja.


"Sudah malam. Besok kamu kesiangan!" Baby kini mematikan lampu kamarnya.


"Jangan dimatikan. Aku mau kita teleponan sampai pagi."


"Yaudah. Aku bobo ya. Met bobo Mas." Baby menarik selimutnya dan mulai tertidur.


"Met bobo, Baby!"


Aku terus menatap Baby dari layar ponselku sampai mataku terasa berat dan mengantuk. Ponsel kami tetap terhubung meski kami berdua tertidur lelap. Biasanya aku sulit tidur kini aku mudah sekali terlelap.


"Mas, bangun! Mas!"


Aku pikir ada Baby yang memanggil namaku. Masa sih? Bukankah Baby di Jakarta? Aku membuka mataku dan mataku langsung tertuju pada ponselku. Wajah Baby yang memakai mukena membuatku tersenyum.


"Pagi bidadariku! Cantik banget sih kamu. Enak deh pagi-pagi udah disajiin wajah kamu bangun tidur yang cantik alami," godaku dengan suara serak khas bangun tidur.


"Gombal aja kamu, Mas. Bangun. Sholat subuh dulu sana, nanti matahari keburu terbit," omel Baby.


"Iya, Sayang. Jangan dimatikan ya ponselnya!"


"Iya, Mas. Ini aku sambil charge. Tenang saja."


Kuregangkan tubuhku lalu mengambil wudhu dan sholat subuh. Setelah sholat, aku mendengarkan Baby yang mengaji Al-Quran sehabis sholat dengan suaranya yang merdu. Adem sekali melihatnya. Aku makin menyadari kalau aku memang bodoh. Wanita solehah seperti ini aku sia-siakan selama setahun lebih demi obsesi bodohku. Pantas Allah marah dan membuatnya pergi dari sisiku.

__ADS_1


"Mas, kok kamu nangis? Kenapa? Sakit?" tanya Baby tiba-tiba.


"Hah? Enggak kok." Ternyata tanpa kusadari air mataku menetes. Rupanya penyesalan itu begitu membekas dalam diriku.


"Mas sarapan dulu lalu minum obat. Perutnya sakit? Coba ke dokter, aku takut Mas kenapa-napa." Baby menatapku dengan khawatir.


"Aku ... suka begini kalau mendengar orang mengaji. Terharu. Aku tak apa-apa kok. Sehat. Kamu sudah mengajinya?" tanyaku.


"Sudah, Mas. Aku mau bantu Mommy siapkan sarapan dulu ya." Baby lalu melipat mukena dan sajadah yang ia kenakan.


"Iya. Nanti malam kita video call lagi ya!"


"Iya, Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Kumatikan layar ponsel yang sejak semalam selalu menyala. Baterai Hp ku hampir habis. Aku ambil charger dan mengisi baterainya.


****


Carmen


"Pagi, Sayang!" jawab Mommy dengan ramah. "Bahagia sekali pagi ini."


"Enggak boleh aku bahagia?" sindirku. Kuambil sayur sawi putih yang hendak Mommy masak dan sudah dibersihkan lalu memotongnya.


"Boleh dong. Mommy senang kalau anak-anak Mommy tumbuh sehat dan bahagia. Mommy hanya penasaran, kamu bahagia kenapa ya? Kayak orang lagi jatuh cinta gitu loh auranya." Mommy menatapku curiga.


"Masa sih? Bukannya aku selalu begini? Mommy saja yang terlalu sensitif," elakku.


"Radar kepekaan Mommy sedang bekerja nih. Mommy merasakan ada aura penuh cinta di sekeliling kamu. Apa lelaki yang Abang kamu kenalkan di acara malam itu berhasil meluluhkan hati kamu?" tebak Mommy.


"Ah Mommy sok tau. Bukan karena itu, My!" Aku masih mengelak. "Abi mana? Enggak baca koran seperti biasa?"


"Abi udah pergi jogging pagi-pagi sekali. Katanya persiapan untuk lomba badminton antar komplek," jawab Mommy.


"Ih gaya sekali kakek-kakek necis itu. Nanti sakit pinggang, Mommy juga yang repot." Kini aku mengambil sosis dan membantu memotongnya untuk tambahan sayur sawi. Vino suka sayur sawi buatan Mommy, apalagi kalau banyak sosis dan baksonya.

__ADS_1


"Biarlah Abi kamu menghibur diri, daripada dia selalu manja sama Mommy? Mommy suka malu di depan kalian kalau Abi kamu terlalu bucin sama Mommy."


Aku tertawa mendengarnya. Memang sih Abi suka bucin dengan Mommy. Makan saja minta suapin. Sehabis makan minta dibersihkan bibirnya pakai tisu. Jangan tanya berapa kali aku memergoki mereka berciuman mesra.


"Itu tandanya Abi sayang sama Mommy. Abi sayang sama keluarganya. Aku sih lebih suka melihat kemesraan kalian dibanding anak-anak lain di luar sana yang setiap hari melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat. Aku lebih suka melihat Mommy dan Abi mesra-mesraan meski kadang bikin aku iri," jawabku jujur.


"Sekarang gantian dong, kamu yang harus mencari pendamping hidup agar tidak iri terus sama Mommy dan Abi. Apa jangan-jangan kamu sudah punya kekasih ya? Ayo dong cerita sama Mommy!" Wajah Mommy tersenyum saat menggodaku dan senyumnya hilang saat aku berkata jujur.


"Aku ... sudah rujuk sama Mas Zaky, My."


Mommy yang sedang mengiris bawang menghentikan kegiatannya dan kini menatapku tak percaya. "Kamu rujuk?"


Aku mengangguk. "Iya. Sudah lebih dari seminggu ini."


"Pasti kamu becanda bukan?" Mommy mencuci tangannya lalu mematikan kompor. Pertanda Mommy mau berbicara padaku dengan serius.


Mommy lalu duduk di meja makan dan aku mengikuti apa yang beliau lakukan. "Kenapa kamu memilih untuk rujuk?" tanya Mommy.


"Ya karena Mas Zaky sudah berubah, My." jawabku jujur.


"Tau darimana kamu Zaky sudah berubah?" tanya Mommy lagi.


"Ikut aku yuk, My!" Kuajak Mommy ke parkiran mobil dan membuka dashboard mobilku yang penuh dengan origami pemberian Mas Zaky. Setiap hari Mas Zaky tetap mengirimiku origami sampai dashboardku penuh.


"Apa ini?"


"Bukti penyesalan Mas Zaky." Mommy memasukkan kembali ke dalam dashboard lalu menutupnya. Mommy kembali masuk ke dalam rumah dan aku terus mengikutinya. Aku tahu pembicaraan kami belum selesai.


"Apa karena diberi origami kamu jadi luluh?" tanya Mommy yang kini kembali duduk di tempat semula.


"Ya enggak gitu juga sih, My. Jujur saja, setiap hari Mas Zaky mendekatiku. Mas Zaky menunjukkan penyesalannya selama kami menikah dulu. Apa yang telah ia lakukan dan betapa kehilangannya dia sama Baby. Awalnya Baby tidak percaya, My, tapi Mas Zaky tak pernah menyerah. Mas Zaky terus membuktikan kalau ia mencintai Baby. Sampai kami kencan seharian dan memutuskan untuk rujuk kembali secara agama dan Mas Zaky sedang mengurus secara hukum."


Mommy menghela nafas berat. "Kalian benar-benar gila ya! Bagaimana kalau Abi kamu tahu?"


****

__ADS_1


__ADS_2