
Zaky
Hari masih malam dan aku masih tak percaya kami sudah rujuk. "Baby, kita pindah yuk!"
"Pindah? Kemana?" tanya Baby dengan suara serak.
"Pulang ke rumah. Aku tak akan bisa tidur di sini. Yuk pulang yuk!" ajakku.
Baby melihat jam di ponsel miliknya. "Jam 2 pagi?"
Aku mengangguk. "Kamu lanjutkan saja tidur kamu di mobil. Biar aku yang mengantar kamu sampai rumah kita. Mau ya?"
Baby menghela nafas. "Baiklah," jawab Baby.
"Nah begitu dong! Ini baru istriku tercinta!" Kupakaikan Baby baju dan kami pun meninggalkan cafe. Baby tertidur lelap di kursi penumpang. Aku menyetir sambil sesekali menatap dirinya.
Saat Baby pergi aku berjanji akan membawa pulang kembali bagaimana pun caranya. Aku tak bisa hidup tanpa Baby. Aku menginginkannya. Hanya Baby yang aku butuhkan sekarang dan selamanya. Ternyata doaku terkabul. Tak sampai 3 bulan sejak putusan cerai, kami kembali rujuk. Masalah surat-surat, akan aku urus secepatnya.
Aku membuka pintu gerbang dan memasukkan mobilku ke garasi mobil rumah kami. Dengan hati-hati kugendong Baby ke kamarnya yang kini menjadi kamar kami. Aku tak percaya kalau yang tidur di sampingku kini adalah Baby, istriku.
Cantik sekali.
Kurebahkan tubuhku dan kujadikan lenganku sebagai bantalnya. Aku memeluknya dengan erat dan langsung tertidur lelap. Malam ini adalah malam yang paling membuatku bahagia.
Aku terbangun kala tempat tidur sebelahku bergerak. Aku membuka mata dan melihat Baby yang sudah bangun dan agak bingung. Kutarik kembali tubuh Baby dan memeluknya dengan erat. "Pagi, istriku!"
"Kok aku di sini?" Baby masih bingung.
"Iya. Aku yang mengangkat kamu. Kamu tidur lelap sekali!" kataku sambil mencium pipinya.
"Geli, Mas! Sudah pagi, aku harus pulang!" Baby hendak pergi dari pelukanku. Oh tidak, aku tak akan biarkan!
"Enggak boleh. Kamu enggak boleh kemana-mana!" Kupeluk Baby makin erat.
"Nanti Abi nyariin aku!" kata Baby beralasan.
__ADS_1
"Aku tak peduli. Aku tak mau kamu pergi," kataku tak mau kalah dan semakin takut kehilangan Baby.
"Kalau Abi mencari di cafe dan tak menemukanku bagaimana?" tanya Baby. "Setidaknya biarkan aku mengirimkan Abi pesan dulu." Baby akhirnya menyerah karena aku tak mau melepaskannya begitu saja.
"Baiklah. Di sini saja," kataku.
"Iya." Baby mengambil ponsel miliknya dan menelepon Abi, mengatakan pada Abi kalau hari ini dirinya akan pergi jalan ke Mall dan menonton bioskop.
Aku menunggu dengan sabar Baby menelepon dan setelah telepon ditutup aku kembali mengkungkungnya. Aku sudah berada di atas tubuhnya dengan adik kecilku yang siap menyerang.
"Mau apa, Mas?" tanya Baby dengan polosnya. "Mas marah?"
Ya Allah anak ini, enggak bisa bedain mana muka marah dan pengen kewong apa?
"Mau makan kamu pagi ini," Kudekatkan diriku dan mulai mencium dekat telinganya.
"Aku bau, Mas. Aku mau mandi!" Tangan Baby menahan tubuhku.
"Baiklah, kita mandi bareng!" Baby tak bisa membantah. Di dalam bath up kami kembali melakukan penyatuan, lebih bergairah lagi dari semalam. Selesai mandi, aku masih menginginkannya. Belum sempat Baby memakai pakaiannya aku kembali melakukan penyatuan.
"Udah ya, Mas. Kita sudah mandi, oke?" kata Baby dengan kesal.
"Terus kapan lagi dong?" tanyaku seraya membantu Baby mengeringkan rambutnya.
"Mas mengajakku rujuk hanya agar bisa meniduriku saja?" tanya Baby dengan nada tidak menyenangkan.
"Kata siapa? Jangan mudah menyimpulkan sesuatu. Itu hanya salah satu sebab saja. Alasan lainnya karena aku sangat amat mencintai kamu. Aku tak mau kamu dekat dengan lelaki lain, terutama Bahri. Kamu tahu betapa marahnya aku saat kamu bilang akan pergi dengan Bahri minggu depan," kataku dengan jujur.
"Aku hanya mau beli keperluan salon, Mas. Bukan mau apa-apa."
"Aku tak peduli. Pokoknya aku tak mau melihat kamu pergi sama dia. Sama lelaki lain manapun juga aku tidak mau. Kamu cuma punya aku seorang!" kataku super duper posesif.
"Lebay banget!"
"Biarin. Ini baru namanya cinta. Beda ya dengan obsesi konyol aku di masa lalu. Aku kalau cinta tak akan kubiarkan kamu didekati lelaki lain! Ingat, aku akan membayar suruhanku agar mengawasi kamu saat aku bekerja!"
__ADS_1
Baby tersenyum. Rambutnya sudah selesai aku keringkan. "Posesif banget."
"Iyalah. Cinta. Baby, aku lapar. Mau nasi goreng buatan kamu dong!"
"Iya. Aku juga lapar. Gimana kalau kita pesan online aja?" tawar Baby.
"Enggak mau! Aku cuma mau masakan kamu!"
"Belagu banget. Dulu kayaknya enggak doyan deh!" sindir Baby.
"Dulu kamu bikinnya keasinan. Aku sih jujur. Enak bilang enak dan aku makan, kalau tidak enak ya aku enggak mau makan. Pura-pura bilang enak padahal keasinan, itu seakan memberi harapan palsu saja. Itu jahat namanya. Kalau aku jujur, kamu bisa koreksi apa salah kamu dan memperbaikinya, benar bukan?"
"Iya bawel. Yaudah aku masak dulu!" Baby pergi ke dapur dan aku mengikutinya dari belakang. Aku membantu Baby memasak dan sesekali kami berciuman di sela aktifitas memasak. Untung saja tidak sampai gosong.
Baby menata nasi goreng di atas meja makan. Aku tak mau Baby jauh dariku. Aku menariknya dan membuatnya duduk di pangkuanku. "Kita makannya sambil pangku-pangkuan aja!"
"Kamu mulai aneh deh, Mas," protes Baby.
"Kata siapa aneh? Kita tuh lagi bulan madu. Masih ada 7 kali kencan lagi."
"Tujuh? Mas lupa berapa kali Mas meniduriku? Di cafe saja dua kali. Di bath up sekali. Di dalam kamar dua kali dan di bawah pancuran sekali. Sisa kencan kita hanya tinggal satu, katanya Mas mau ke TMII?"
"Kamu ingatannya luar biasa ya. Aku enggak ngitungin loh. Pokoknya dekat kamu bawaannya mau main kuda-kudaan aja!"
Baby mencibirkan bibirnya. "Aku mau pulang. Ngantuk. Kalau aku di sini, Mas tak akan membiarkan aku tidur nyenyak. Enggak deh. Lebih baik aku pulang."
"Baiklah, Mas tak akan melarang. Ingat, sekarang kamu punya suami. Mas akan urus surat nikah kita lagi. Masalah Abi kamu, biar Mas yang hadapi. Selama belum ketahuan biarkan saja dulu. Mas enggak mau Abi kamu marah besar dan tak membiarkan kita ketemu. Mas takut kalau tidak bisa ketemu kamu," Aku memeluk tubuh Baby dan merasakan ketakutan saat membayangkan kami akan dipisahkan. "Jangan pergi lagi dari sisi Mas."
Baby mengangguk. Setelah sarapan sambil pangku-pangkuan dan suap-suapan, kami mengobrol di ruang tengah. Kami menonton film sambil menikmati pizza yang kami pesan lalu tertidur di depan TV karena lelah dan kekenyangan.
Baby terbangun di sore hari. Ia harus pulang. Sebelum pulang, Baby membuatkanku makan malam sederhana namun terasa begitu lezat bagiku. Rumah ini kembali sepi saat Baby pulang.
Oh God, baru sebentar pergi rumah ini sudah kehilangan nyawanya. Kapan ya kami bisa menghabiskan waktu bersama lagi?
****
__ADS_1