Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pesta Jajanan SD


__ADS_3

Carmen


Rencananya, weekend ini aku akan tidur sampai siang sehabis salat subuh. Lelah bekerja seminggu ini akan aku bayar dengan tidur seharian Sayangnya, aku tak bisa berlama-lama tidur karena suara Abi yang sangat berisik di depan pintu kamar membuatku terbangun dari tidur lelapku.


"Baby! Cepat bangun! Kamu lihat tuh ulah mantan suami kamu di depan rumah!" ujar Abi dengan suara yang kencang dan sangat jarang ia keluarkan di rumah ini.


Dengan malas, aku menyeret kakiku untuk membuka pintu. "Ada apa sih, Bi? Aku 'kan udah bilang, aku mau tidur. Hari ini libur, Bi. Kenapa sih masih teriak-teriak aja di depan kamar aku?"


"Kamu nggak tahu apa yang terjadi di depan ?" tanya Abi.


Sambil menguap aku menggelengkan kepalaku. "Enggak tahu. Aku tidur lagi sehabis shalat subuh. Memangnya ada apa sih? Abi berisik banget pagi-pagi!" gerutuku sambil menggaruk rambutku yang tak gatal.


"Mantan suami kamu tuh buat ulah. Kamu lihat aja jalanan depan komplek kita. Nggak ada mobil yang bisa keluar masuk. Jalanan penuh dengan tukang jajanan kesukaan kamu tuh. Bikin macet aja!" omel Abi.


Jalanan penuh dengan tukang jajanan? Masa sih? Aku lalu pergi ke jendela dan mengintip ke bawah. Benar saja, di depan rumah Abi sudah ramai dengan tukang dagangan. "Wow! Itu duda depan rumah bikin ulah apa lagi nih?"


"Iya, berulah lagi. Untuk apa sih? Dia masih ngejar-ngejar kamu? Katanya nggak cinta, tapi ngejar-ngejar terus! Abi jadi nggak bisa kemana-mana nih! Mau keluarin mobil aja nggak bisa, padahal Abi sama Mommy tuh ada rencana mau pergi ke salah satu perkumpulan teman sekolah Abi. Jadi batal gara-gara rencana mantan suami kamu yang rese itu!" sungut Abi.


"Aku mau lihat ah!" kataku penuh semangat.


"Tidak bisa! Ganti baju tidur kamu dulu! Keluar rumah harus pakai baju yang benar. Jangan membuat duda depan rumah tergoda sama kamu lagi! Ya sudah, Abi mau keliling dulu. Siapa tahu ada jajanan yang enak. Lumayan, gratis!" Hilang sudah kekesalan Abi. Mudah sekali lupa padahal belum lama Abi marah-marah karena nggak bisa pergi ke acara reuni. Memang ya, faktor usia. Mudah marah tapi gampang juga redanya.


Aku putuskan tak jadi melanjutkan tidurku. Aku mandi dan berganti baju lalu turun ke bawah. Aku melihat surga di depan mataku, aneka tukang makanan dan jajanan kesukaanku semua ada di depan rumah.


Sayangnya, bukan hanya surga yang aku lihat. Ada hal yang lebih gila lagi, aku sampai shock melihatnya. Ternyata semua tukang jajanan memakai kaos yang sama dan terpampang wajahku di kaos yang mereka kenakan. Ya Allah ... Mas Zaky ngapain sih? Kayaknya membuat aku terkejut saja tidak cukup. Kini semua tukang dagang mengenaliku.


"Non Carmen mau batagor?"

__ADS_1


"Non Carmen mau cilok?"


"Non Carmen mau telor gulung?"


"Es cendolnya, Non Carmen."


"Non Carmen mau rujak? Ada rujak serut dan rujak uleg loh. Non mau yang mana?"


Aku menjawab dengan tersenyum kecil. Benar-benar ya itu duda depan rumah meresahkan sekali!


"Bagaimana? Suka dengan kejutanku?" tanya Mas Zaky tiba-tiba membuatku terlonjak kaget.


"Enggak lucu!" cibirku.


Mas Zaky tersenyum. "Memang aku sedang tidak melawak kok. Aku cuma mau kamu bisa jajan sepuasnya di depan rumah, tanpa harus pergi malam hari dengan lelaki yang bukan mahram kamu."


"Ini. Buat kamu! Jarang loh yang jual kayak begini!" Mas Zaky memberikan gulali berbentuk ayam jago yang bisa ditiup. Wow ... ini sudah langka di Jakarta.


Kuambil gulali di tangan Mas Zaky lalu berbalik badan dan meninggalkannya. Mas Zaky mengikutiku dan terus mengajakku berbicara namun aku acuhkan. Aku mau jajan sepuasnya. Gratis!


Para tetangga dalam komplek rumah Abi sudah mulai menikmati jajanan yang ada di depan rumah mereka. Aku memesan banyak makanan yang aku suka meski duda depan rumah terus mengoceh di belakangku. Tanganku sampai penuh dengan aneka jajanan enak.


"Non Carmen mau bakso aci?" tanya penjual bakso aci yang sudah agak tua.


"Mau, Pak," jawabku.


"Silahkan duduk, Non." Penjual bakso aci lalu memberikanku kursi plastik. Aku duduk dan di sebelahku duda depan rumah melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Pak, saya juga mau ya 1!" pesan Mas Zaky.


"Iya, Mas."


Sambil menunggu bakso aci dibuatkan, aku meniup-niup gulali berbentuk ayam jago yang mengeluarkan suara bak peluit. Lucu. Jadi ingat waktu aku kecil Abi suka membelikan untukku.


"Kamu suka?" tanya Mas Zaky.


Aku tak menjawab dan tetap asyik meniup gulali.


"Baby, aku kangen sama kamu. Kangen masakan kamu. Kangen kamu omelin aku. Kangen kamu ngoceh seharian di rumah kita. Sekarang tidak ada kamu, aku kesepian. Bodoh ya aku? Setelah kita berpisah, aku baru menyadari betapa aku sangat kehilangan kamu," kata Mas Zaky yang pura-pura tidak kudengar.


"Aku mau kita rujuk lagi, Baby. Beri aku kesempatan untuk membuktikan sama kamu kalau aku sudah berubah." Untunglah bakso aci yang kupesan datang. Setidaknya Mas Zaky diam sejenak dan aku cuek saja menikmati bakso aci yang enak ini.


Aku sadar saat ini Mas Zaky sedang menatapku yang asyik menikmati bakso aci tanpa menanggapi perkataannya. "Tak apa. Kalau kamu mau seperti ini. Aku akan memulainya dengan benar kali ini. Perkenalkan, aku Zaky. Aku bekerja sebagai CEO di Damar Corporation. Aku duda dan kesepian,"


"Hobby aku adalah mengingat kenangan saat bersama mantan istri aku dulu. Ya, aku si gagal move on dan masih tetap gagal move on. Cuma bedanya, dulu aku gagal move on sama istri orang dan sekarang aku gagal move on sama mantan istri aku sendiri. Lucu ya? Tak apa. Cita-cita aku adalah membuat mantan istriku bahagia. Aku mau menghapus luka yang aku buat dengan kebahagiaan. Entah apakah mantan istriku mau menerimanya atau tidak, yang penting aku sudah usaha,"


"Oh iya, aku suka nasi goreng buatan mantan istriku. Meski awalnya agak keasinan tapi mantan istriku rajin latihan sampai rasanya jadi lezat. Mantan istriku cantik, hobbynya jajan jajanan SD. Awalnya aku sebal kalau dia minta jajan tapi kini aku malah mau dia jajan sepuasnya. Aku suka melihatnya bahagia saat makan makanan kesukaannya. Sekarang aku tahu apa tujuan hidupku, membuat mantan istriku bahagia," kata Mas Zaky panjang lebar.


Aku tetap makan bakso aci selama Mas Zaky bicara dan kini semangkuk bakso aci sudah aku habiskan. Perutku kenyang.


"Baby! Ngapain di situ? Dia nyakitin kamu lagi?" tanya Abang Wira sambil menggendong Vino.


"Enggak, Bang. Tau tuh dari tadi ngoceh sendirian. Ayo, Vino! Kita cari makanan ya!" Kuambil Vino dan pergi meninggalkan Mas Zaky.


****

__ADS_1


__ADS_2