
Zaky
"Mau dong, Om. Pakai cara apa?" tanyaku penuh semangat.
"Kalau mau menarik hati Carmen, kamu harus mencari sekutu. Agas dan Wira tak mungkin. Mereka tuh udah gedeg banget sama kamu. Colek sedikit aja kamu langsung dibantai," kata Om Riko.
"Lalu siapa? Dewi?" tanyaku serius.
"Yeh dia masih ngebahas Dewi." Om Sony menjitak kepalaku lumayan kencang. Aku sampai mengaduh kesakitan. "Lupa penyebab anda cerai itu karena anda gagal move on?"
"Aww! Sakit, Om. Terus siapa?" tanyaku lagi.
"Ya ... suhunya suhu. Masternya master. Pawangnya pawang. Kasta tertinggi dalam keluarga mereka," ujar Om Riko.
Aku mengernyitkan keningku. "Mommy Tari?"
"Iya. Bener!" jawab Om Riko dan Om Sony kompak.
"Tari tuh punya kekuasaan melebihi siapapun. Tari yang memegang kunci surga Wira. Kalau Si Bangor itu mau masuk surga, ya harus nurut sama Tari," kata Om Riko.
"Tari juga pemegang kunci surga dunia Agas. Tari merapatkan kakinya sedikit saja, Agas tak akan merasakan surga dunia ha ... ha ... ha ...." tambah Om Sony. Om Riko ikut tertawa bersama sahabat satu frekuensinya.
Aku geleng-geleng kepala kalau sudah berbicara dengan kedua teman Papa ini. Enggak bisa terlalu serius. Kebanyakan ngelawak hidupnya, makanya udah tua masih saja jomblo. Yang satu istrinya meninggal muda dan satu lagi bujang lapuk yang termakan usia.
"Kita serius woy, Zaky mulai bete." Om Riko sadar diri. "Mulailah dekati Tari. Ajak bekerja sama. Tunjukkan kalau kamu memang serius dan mencintai Carmen. Eh tunggu, kamu beneran mencintai Carmen 'kan?"
__ADS_1
Aku terdiam. Cinta?
"Dia diem lagi! Eh Culun, Bangor biasa manggil dia kayak gitu. Om cuma ikutin doang loh! Kamu cinta enggak sama Carmen?" tanya Om Riko.
"Memang kalau cinta kayak gimana sih, Om?" Lebih baik kutanyakan sama kebingunganku pada kedua orang pengalaman ini.
"Astaghfirullah!" Keduanya geleng-geleng kepala lalu saling melihat seakan bertukar kode. "Pantesan dipanggil Culun ya sama Si Bangor?!" ujar Om Sony.
"Iya. Parah banget Damar ngajarin anaknya sampai buodohnya kebangetan banget kayak gini!" kata Om Riko.
"Om! Kasih tau dong kalo aku tuh bodohnya dimana!" protesku.
"Kamu bodoh semuanya, Zaky. Semua," ujar Om Sony.
"Om kasih tau ya. Jatuh cinta itu mudah mengetahuinya. Tidak melihatnya sebentar saja, kamu sudah kangen. Melihat dia bersama laki-laki lain kamu marah dan tak suka. Setiap melihatnya jantung kamu berdebar. Kamu selalu ingin bersama dia kapanpun dan dimanapun. Kamu selalu memikirkan tentangnya dan kalau aku sih mau ngajak dia bobo bareng," jawab Om Riko sambil tersenyum penuh maksud. "Ada tidak ciri-ciri yang aku sebutkan?"
"Ada nggak ciri-ciri yang tadi Om sebutkan?" tanya Om Riko lagi.
Aku mengganggukkan kepalaku. "Ada, Om. Hampir semua yang Om Sebutkan, saat ini aku sudah merasakan." jawabku dengan yakin.
"Termasuk ngajakin bobo bareng?" tanya Om Sony sambil tersenyum meledekku.
"Iya, Om. Iya. Pengen banget malah! Ayo dong Om bantuin aku. Aku benar-benar enggak ngerti nih masalah kayak begini. Om tahu sendiri, aku terlalu dididik sama Papa untuk memimpin perusahaan. Aku tuh nggak ngerti hal kayak gini,"
"Perempuan pertama yang berhasil membuat aku suka dalam sekali lihat itu Dewim. Padahal sebenarnya, perempuan yang udah aku sayang sejak dulu tuh kita Baby. Baby yang selalu menemaniku, itu yang membuat aku tuh bingung antara aku sayang sama dia sebagai adik atau sebagai seorang perempuan. Karena aku pikirnya sebagai adik, aku takut menjadi kakak yang jahat meski pada akhirnya tetap saja aku yang membuat hatinya terluka," kataku panjang lebar.
__ADS_1
"Yakin mau ngajakin bobo bareng? Seingat Om, Baby pernah nanya deh bagaimana caranya supaya kamu mau tidur dengannya. Kamu saja dulu begitu dingin sama dia. Kenapa sekarang kamu pengen? Udah nyadar ya kalau sekarang kamu menjadi laki-laki yang kesepian tanpa ada istri di sisi kamu?" sindir Om Riko yang terlihat meragukan perkataan jujurku.
"Mungkin saja sekarang sudah beda, Ko. Apalagi melihat saingannya lebih agresif. Mulai timbul perasaan tak rela kehilangan orang yang selama ini selalu ada di sisinya. Itu aja udah membuktikan kalau dia udah punya perasaan. Sayangnya, Si Culun ini terlalu lama loadingnya kalau mengenai masalah perasaan dan hubungan sosial. Kalau pekerjaan doang dia pinter. Sekarang aja kelihatan banget bodohnya." Om Sony memuji sekaligus menjatuhkanku dalam waktu yang bersamaan. Aku pasrah saja. Aku butuh nasehat dari mereka berdua.
"Jadi aku harus apa nih? Aku mau rujuk lagi sama Baby. Aku nggak mau kehilangan dia. Aku nggak rela kalau sampai Baby jadi dengan Bahri. Bantu aku dong, Om. Om yakinkan Abi Agas dan Wira. Om juga punya saran lain enggak? Kasih tahu aku apa yang harus aku lakukan," mohonku dengan sangat.
"Kasihan loh dia. Kita bantu. Pertama, tetap mendekati Tari. Dia kunci utama. Kedua, Carmen. Percuma deketin yang lain kalau Carmen enggak mau rujuk. Kamu udah pendekatan lagi belum sama Carmen?" tanya Om Riko.
"Udah, Om."
"Terus lakukan, sampai ia membuka hatinya. Allah saja akan mengabulkan doa kita kalau kita bersungguh-sungguh usaha. Ketiga, belajar jadi menantu idamannya Agas. Deketin. Olahraga bareng sekalian bagi-bagi saham apa yang akan cuan. Agas sih gampang. Kalau Carmen luluh, sedikit lagi juga dia nurut," jawab Om Riko.
"Lalu Wira?" tanyaku.
"Wira ... ya kamu investasi aja di Bisnis Plus Plus punya dia. Bilang mau buat 10 cabang baru pasti lolos deh ijinnya!" jawab Om Riko.
"Boleh juga Om sarannya. Aku mau langsung dekati Mommy Tari dulu. Makasih, Om. Silahkan makan yang puas!" Kutinggalkan Om Sony dan Om Riko dan berjalan mendekati Mommy Tari yang kebetulan sedang jajan siomay.
Aku hampiri Mommy dan kuulurkan tanganku untuk saling. "Mommy udah jajan apa aja? Mommy udah coba cendol duren belum? Enak loh, My!" Aku langsung pura-pura sok akrab dengan Mommy Tari.
"Belum. Mommy tadi habis masak banyak. Baru sempat keluar rumah. Kamu hari ini melakukan semua ini demi Baby ya? Keren! Kenapa kamu mengadakan ini untuk Baby?" selidik Mommy.
"Karena mau merebut cinta Baby lagi, My." jawabku jujur.
Mommy mengambil siomaynya dan menepuk bahuku pelan.."Usahanya masih kurang keras. Coba lagi nanti. Mommy yakin, Baby akan tersentuh hatinya nanti."
__ADS_1
****