
Zaky
Abi Agas yang semula menunduk setelah mendengar ceramah dari Om Bastian kini menatapku dan Om Bastian secara bergantian. Abi lalu menatap Baby yang sejak tadi terus memperhatikannya.
"Lihatlah! Baby begitu bahagia. Ia akan memiliki seorang anak, cucu kamu. Apa yang selama ini Baby inginkan, sudah ia dapatkan. Baby begitu mencintai Zaky. Ia bahkan rela membuang harga dirinya demi mengejar cinta lelaki yang ia cintai. Kini, semua usahanya berhasil. Lelaki yang dulu ia kejar-kejar, kini mencintainya bahkan menjadi ayah dari anak yang sedang ia kandung. Beruntung sekali bukan anak kamu?" kata Om Bastian dengan tenang dan lembut namun sarat makna.
"Buanglah semua ego kamu. Buang rasa dendam dan amarah dalam diri kamu. Baby saja yang disakiti dan pernah sangat hancur hatinya bisa menerima kembali Zaky dengan tangan terbuka. Kenapa kamu yang tidak merasakan langsung malah tetap berkutat dengan amarah dan ego sendiri? Kamu tidak malu sama Baby kalau kamu berbuat seperti itu?!" kata Om Bastian lagi setelah Abi tak juga bersuara.
Aku dan Baby mendengarkan bagaimana Om Bastian menceramahi Abi. Tak ada yang bersuara dalam ruangan ini. Semua seakan tahu bahwa hanya Om Bastian saja yang boleh berbicara saat ini. Termasuk kedua Om rusuh yang sejak tadi menutup mulutnya rapat.
"Kamu mau 'kan menjadi seorang Abi yang baik untuk anak-anak kamu? Kamu juga mau 'kan menjadi seorang kakek yang memberi contoh yang baik untuk cucunya kelak? Kita udah tua, Gas. Udah nggak pantes lagi egois. Yang kita pentingkan adalah kebahagiaan anak-anak kita. Keinginan kita saja harus kita pendam, asalkan anak kita bahagia. Karena sejatinya, kebahagiaan anak-anak adalah kebahagiaan kita juga. Benar begitu bukan?" tanya Om Bastian lagi.
Abi Agas mengangguk. "Iya, lo benar, Bas. Kebahagiaan Baby adalah yang utama. Melebihi kebahagiaan yang seharusnya gue rasakan."
Abi kini menatapku dan Baby bergantian. Abi melambaikan tangannya memintaku mendekat. Baby menyadarkanku yang sempat melamun sejenak untuk menghampiri Baby. Aku berjalan mendekat meski dalam hati aku merasa takut.
Aku duduk di depan Abi, tepatnya di samping Papa. Kami saling menatap dan yang kulihat dalam tatapan Abi adalah tatapan seorang Ayah yang begitu melindungi anak dan keluarganya dari orang yang akan menyakiti mereka.
Abi menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan dirinya sebelum membuat keputusan dan berbicara denganku.
"Kalau kamu memang serius dengan Baby, bawalah! Namun jangan pernah kamu mengembalikan Baby dalam keadaan menangis lagi kepadaku!" kata Abi singkat dan padat.
Aku yang mendengarnya hanya terdiam dan shock. Aku tak percaya kalau Abi akan memberikan restunya kembali padaku, lelaki yang telah menyakiti hati anaknya sampai hancur berkeping-keping. Air mataku tanpa terasa menetes, tak bisa kutahan lagi.
"Pasti, Bi. Aku akan menjaga dan membahagiakan Baby. Aku tak akan mengembalikannya lagi pada Abi. Aku janji!" kataku sambil berurai air mata.
"Kalau kamu mengembalikan Baby lagi padaku." Abi berbicara dengan suara bergetar dan air matanya mulai menetes. Inilah seorang ayah yang sangat mencintai putrinya. "Abi tak akan membiarkan kamu menemui seujung rambut Baby sekalipun!"
Aku mengangguk dengan penuh keyakinan. "Aku janji, Bi. Aku janji!" Aku juga tak tahan menahan air mataku yang menetes jatuh.
__ADS_1
"Nah gitu dong! Ayo sekarang peluk!" perintah Om Bastian.
Aku berdiri dan hendak berlari ke arah Baby, namun Papa Damar menarik tanganku.
Suara teman-teman Abi kompak menyorakiku. "Woy salah woy!"
"Oh salah ya?" Aku menghentikan langkahku dan berbalik badan. "Peluk Abi nih?"
"Iyalah, Culun. Lo gimana sih? Begitu aja mesti diajarin!" omel Wira. "Eh maaf, Om. Kebiasaan." Wira tak enak hati karena Papa menatapnya tajam karena mengataiku culun.
Om Bastian, Om Sony dan Om Riko hanya geleng-geleng kepala melihatku. Kuhampiri Abi dan aku salim. Abi berdiri lalu memelukku dan membisikkan sesuatu di telingaku pelan. "Kalau sampai kamu menyakiti Baby lagi, Abi buat hilang big gun kamu!"
Susah payah aku menelan salivaku. Dibuat hilang? Terus aku enggak bisa menikmati surga dunia lagi dong?
Abi melepaskan pelukannya padaku lalu tersenyum puas. Senang sepertinya melihat wajahku pucat. "Jadi, kalian akan pulang ke rumah Abi dulu bukan?"
"Hah? Pulang ke rumah Abi?" tanyaku bingung. "Kami punya rumah sendiri, Bi."
"Iya. Kalian di rumah Agas saja." Papa Damar tiba-tiba berbicara, mendukung keputusan Abi Agas. "Kalau kamu ada keperluan juga gampang pulang ke rumah Papa, bukan? Hanya nyebrang dikit saja."
"I-iya sih," jawabku singkat.
"Apa kamu tidak mau tinggal bersama Baby di rumah Abi?" Tatapan Abi semakin memelas saja. Kalau aku tidak mau dan Abi jadi tidak merestuiku kembali pada Baby bagaimana?
"Ma-mau kok, Bi. Mau banget. Aku peduli dengan kesehatan Baby, apalagi Baby sekarang sedang mengandung anakku. Harus dijaga dengan baik dan butuh perhatian ekstra," kataku setengah mencari muka.
"Dih bisa banget baik-baikkin Abi gue," sindir Wira. Anak itu memang kadang ingin aku pukul saja kepalanya. Suka tidak melihat situasi.
"Enggak kok. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Baby," kataku sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Bangor kompor banget nih," sindir Om Sony.
"Bukannya bantuin temennya malah ikutan jerumusin," tambah Om Riko.
"Enggak. Aku bantuin kok, Om. Cuma nyindir doang memang salah?" kata Wira tak mau kalah.
"Sudah, sudah. Zaky sudah setuju kok Baby pulang ke rumah Agas. Jangan dipanas-panasi lagi. Semua sudah akur ya? Seterusnya begini. Biar bagaimanapun kita sudah melebihi saudara sendiri. Jangan bertengkar terus. Akur lebih baik," ceramah Om Bastian.
"Iya, bawel!" ujar Om Sony dan Om Riko kompak.
Tak lama dokter datang. Kami kompak diam menunggu hasil pemeriksaan dokter.
"Ibu Carmen boleh pulang besok, malam ini menginap di sini dulu ya. Nanti di rumah dijaga baik-baik kandungannya. Jangan terlalu kelelahan. Oh iya, suaminya yang mana ya?" tanya dokter yang memeriksa.
Om Sony, Om Riko dan Wira pun mejawab kompak. "Saya!" Mereka menunjuk dirinya sendiri.
"Loh? Banyak sekali suaminya?" Dokter terlihat kebingungan.
"Saya pertama, Dok," jawab Om Sony.
"Saya kedua," jawab Om Riko.
"Saya ketiga," jawab Wira. Ketiganya menahan tawa. Membuat dokter makin kebingungan saja.
"Jangan dengerin, Dok. Mereka orang stress," ujar Abi yang turun tangan langsung. "Tuh yang agak culun suami yang sebenarnya." Abi menunjuk ke arahku yang sejak tadi berdiri di dekat tempat tidur Baby.
"Abi!" Mommy menegur Abi yang tertawa cengengesan.
Kini dokter menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu beneran suaminya?"
__ADS_1
****