Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pamit


__ADS_3

Zaky


"Maaf, Mas. Aku enggak bisa ikut. Abang kemarin sudah curiga dan tak mau mendengarkan penjelasanku. Aku tak mau Mas yang jadi kena getahnya nanti. Mas sendiri yang bilang mau mengambil hati mereka satu per satu. Kalau demi kesenangan kita semata semua rencana Mas berantakan bagaimana?" tolak Baby.


Aku sebenarnya kecewa Baby tak mau ikut, namun di satu sisi aku mengerti bagaimana perasaan Baby. Apa yang dia pikirkan. Apa yang Baby takutkan. Tak bolehkah aku egois sekali saja?


Aku terdiam dan mencium rambut panjang Baby yang harum. "Kapan ya kita bisa bebas kemana-mana tanpa takut akan restu orang lain?"


"Waktu itu. Mas lupa?" sindir Baby.


"Iya. Lagi-lagi semua karena kebodohanku. Kasihan ya aku ini?"


"Enggak dong. Mas sudah menyadari kesalahan Mas. Tugas Mas adalah memperbaikinya dan tidak diulang lagi. Semua demi kebaikan Mas juga. Jadikan pelajaran untuk ke depannya lebih baik lagi," nasehat Baby.


"Tentu. Aku akan lebih baik lagi dan lagi dalam mencintai dan memperlakukan kamu." Aku melepas pelukanku dan membalik tubuh Baby agar kami saling berhadapan. Kuusap lembut wajah Baby yang mulus. "Aku akan sangat kangen sama kamu."


Baby tersenyum dan mulai menggodaku. "Oh ya? Kangen kangen kangen banget gitu?"


"Iya dong!" Kumajukan bibirku dan mencium bibirnya lembut. "Kangen." Kumajukan lagi bibirku dan kembali menciumnya. "Kangen." Kembali kumajukan bibirku dan menciumnya. "Kangen banget."


Baby tersenyum malu. "Nakal! Beraninya godain doang!"


"Aku sudah mengurus di KUA. Tinggal mengurus ijin Abi kamu nih. Kurang berani apa lagi coba?" tantangku.


"Iya deh yang berani. Kamu pesawat jam berapa?" Baby merapikan dasi dan kemejaku.


"Aku belum beritahu sekretarisku sih. Kalau kamu mau ikut rencananya aku akan suruh pesan tiket untuk kamu juga." Aku masih berharap Baby mau ikut.


"Next time saja ya kalau keadaan aman. Mas udah sarapan belum? Mau aku buatkan sarapan?" Baby perhatian sekali padaku.


"Udah. Kalau tahu akan dibuatkan sarapan sama kamu, aku tak akan sarapan di rumah," kataku dengan manja.


"Kalau begitu aku buatkan cemilan saja ya buat kamu makan di jalan?" tawar Baby.


"Enggak mau. Maunya kamu ikut," rengekku. Aku menarik Baby ke pelukanku dan tak rela pergi meninggalkannya. Ah bucin sekali aku. Kenapa aku telat merasakan ini ya? Coba kalau aku mencintai Baby sejak awal kami menikah, pasti aku tak akan menderita seperti ini dan kami pasti sedang menikmati masa indah bersama.


"Manja deh. Hari makin siang, nanti kamu telat diomelin Papa loh!"

__ADS_1


"Kamu usir aku?" rajukku.


"Tidak dong. Kalau kamu selesai lebih cepat, pasti kamu lebih cepat pulang juga 'kan?" bujuk Baby.


"Baiklah. Aku pergi. Ingat, jangan dekat-dekat dengan cowok lain, termasuk Bahri. Kalau aku menelepon, kamu harus angkat, kapan pun dan dimana pun. Harus stand by 24 jam. Kalau malam aku tak bisa tidur, kamu harus temani aku juga," pintaku dengan manja.


Baby tertawa mendengar permintaanku. "Aneh ah kamu, Mas. Kalau aku sedang di kamar mandi, masa sih harus jawab telepon kamu juga?"


"Iya dong. Justru itu yang aku mau!"


"Udah ah, kamu makin ngaco saja. Cepat berangkat kerja! Kamu juga jangan macam-macam ya! Jangan tertarik dengan wanita di sana, meskipun mereka lebih cantik dariku."


"Kata siapa mereka lebih cantik? Kamu yang lebih cantik menurutku." Kumajukan diriku dan menciumnya cukup lama. Aku ingin lanjut tapi Baby menahanku.


"Banyak karyawanku di sini. Aku tak mau ada rumor!" ujar Baby.


"Aku pergi dulu. Oh iya, aku lupa!" Kukeluarkan dompetku dan kuberikan ATM yang dulu kupakai untuk transfer Baby. "Ini, pakailah."


Baby menolak pemberianku. "Tak perlu, Mas. Aku sudah punya penghasilan sendiri sekarang."


"Tak masalah kamu punya penghasilan sendiri. Ini kewajibanku. Pakailah untuk membeli apa saja yang kamu suka. Kalau aku tak memberi kamu nafkah, aku berdosa." Baby akhirnya mau menerima kartu yang kuberikan. "Aku pergi dulu ya!"


"Iya, Mas. Hati-hati ya di jalan!"


Aku membuka pintu ruangan dan berjalan keluar. Baby sengaja tak mengantarku agar tidak ada rumor tentang kami yang akan sampai di telinga orang tuanya. Sayangnya, aku malah bertemu Wira. Sial sekali aku.


"Ngapain lo di sini?" tanya Wira dengan tatapan penuh curiga.


"Habis ketemu Baby," jawabku jujur.


"Mau ngapain? Ngerayu Baby lagi ya? Awas aja kalo lo berani!" ancam Wira.


"Habis nanya sama Baby mau nitip Bolu Meranti atau tidak? Gue mau ke Medan. Setau aku Baby suka sekali Bolu Meranti."


"Alasan apaan tuh kayak gitu? Basi banget." Wira tidak semudah itu percaya. Aku harus tenang menghadapinya.


"Terserah kalau tidak percaya. Lo mau Bolu Meranti atau Bika Ambon?" tawarku.

__ADS_1


"Dua-duanya aja deh," jawab Wira.


Aku menahan tawaku agar Wira tidak tersinggung. Anak itu memang lucu. Terlihat marah dan galak padahal mudah luluh juga.


"Oke. Gue pergi dulu ya! Titip istri gue. Jangan sampai ada yang deketin!" pesanku seraya menepuk lengannya dan berjalan pergi.


"Mantan cuy, mantan! Lupa?" gerutu Wira di belakang. Aku terus berjalan meninggalkan Wira dan bersiap pergi ke Medan.


****


Carmen


Tiba-tiba pintu ruanganku dibuka. Aku pikir Mas Zaky kembali lagi ternyata Abang yang datang. Gawat. Apa jangan-jangan mereka bertemu di depan?


"Kenapa mukanya tegang begitu? Ngapain aja kamu sama Si Cupu?" tanya Abang.


Gawat. Mereka bertemu lagi. Wajah Abang sih baik-baik saja dan tak ada suara keributan di luar, berarti mereka baik-baik saja bukan?


"Malah bengong lagi! Ngapain Si Cupu ke sini?" tanya Abang lagi.


Waduh, jawab apa nih?


"Mas Zaky bilang mau ke Medan. Aku ditanya mau Bolu Meranti atau tidak? Iya. Mas Zaky nanya kayak begitu terus pulang. Dia bilang sudah hampir ketinggalan pesawat." Lancar sekali aku berbicara.


"Oh, Dek, kamu kok Abang perhatiin sekarang sudah tidak marah lagi sama Si Cupu? Kamu beneran udah baikkan ya sama Si Cupu?" selidik Abang.


"Bukan baikkan, Bang. Lebih tepatnya kesalahpahaman di antara kami sudah terselesaikan," kataku jujur.


"Lalu kamu mau rujuk sama dia?"


"Kalau Abang dan Kak Dewi waktu rumah tangganya di ujung tanduk, Abang mau kembali memperbaiki rumah tangga kalian bukan? Kalau begitu sama. Aku dan Mas Zaky juga," jawabku tegas.


"Jangan samakan masalah kita, Dek. Kalian sudah bercerai, apa Abi tak akan marah?" tanya Abang.


"Kami bercerai juga baru talak 1, Bang. Tak ada salahnya kalau kami rujuk lagi bukan?" tanyaku balik.


"Salah. Kalau kamu sama dia itu salah. Salah."

__ADS_1


"Bukankah Abang dan Kak Dewi memulai dengan cara yang salah juga bukan? Apa bedanya aku sama Abang? Setidaknya kami tidak berzinah sebelum menikah. Kalau Abang saja punya kesempatan memperbaiki kesalahan, kenapa aku dan Mas Zaky tidak ada?"


****


__ADS_2