
Carmen
Aku nekat menurunkan Mas Zaky di depan rumah. Hari sudah malam. Semoga Abi sudah tidur lelap. Setelah Mas Zaky menurunkan semua barang-barangnya, aku memasukkan mobilku ke dalam garasi.
Aku mengunci pintu gerbang sesuai kesepakatan di rumah ini. Siapapun yang pulang malam harus mengunci pagar. Tanpa kecuali. Aku lalu diam-diam masuk ke dalam rumah yang gelap dan terantuk meja yang entah kenapa berubah posisi. Rasanya tadi waktu aku berangkat tidak ada meja di sana. Kenapa sekarang ada ya?
Tiba-tiba lampu ruang tamu dinyalakan. Cahaya lampu yang terang membuat aku menyipitkan mataku. Abi sudah berdiri dengan muka tegang dan menatapku tajam.
"Darimana saja kamu?" tanya Abi dengan nada yang tidak bersahabat sama sekali.
Sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah ditegur Abi dengan nada seperti ini. Terakhir kali waktu aku meminta restu untuk menikah dengan Mas Zaky dulu.
"Tadi aku habis pergi dengan temanku, Bi." Aku terpaksa berbohong. Aku takut dengan Abi. Mommy yang berada di belakang Abi juga tidak berkata apa-apa. Mungkin Abi sudah melarang Mommy untuk membantuku bicara.
"Teman siapa? Coba telepon orangnya!" ternyata Abi tidak mempercayaiku.
Aduh bagaimana ini? Aku harus bilang apa lagi? Kenapa tadi aku tidak bilang pergi dengan Abang? Aduh, bodoh! Pasti Abi curiga deh. Ya udah, bohong lagi aja. "Iya, aku bohong. Tadi aku ke rumah Kak Dewi dan main dengan Vino sampai lupa waktu deh." Kembali aku menutupi kebohongan dengan kebohongan.
Mami geleng-geleng kepala dengan jawabanku. Sementara Abi, tersenyum penuh misteri. "Oh ya? Kamu main sama Vino? Pakai baju warna apa dia hari ini?"
Aduh, kenapa Abi sampai nanya apa warna baju Vino? Mana aku tahu anak itu pakai baju warna apa? Kenapa sih harus nanya kayak gitu? Bohong lagi dong! Coba tadi aku lihat status sosmed Kak Dewi, pasti aku tahu pakai baju apa. Carmen bodoh! Bohong kok tidak pakai strategi! Sekarang aku harus berpikir tenang dan menyiapkan jawaban yang masuk akal.
"Baju warna putih, Bi. Sebelum tidur tadi dia ganti baju dulu!" Aku ingat sekali kalau Vino punya baju tidur warna putih banyak sekali.
Aku melirik ke arah Mommy yang nampak geleng-geleng kepala sambil tertunduk lemah. Wah aku salah jawab lagi nih. Vino 'kan satu kubu sama Abi, sampai warna baju Vino saja Abi hafal. Aduh, Abi marah deh sama aku.
__ADS_1
"Saran Abi, lain kali kalau berbohong itu dipersiapkan dulu materi berbohongnya. Lihat situasinya. Tanya dulu apakah benar dia pakai baju itu? Dan yang lebih penting, apakah benar anak itu ada di rumahnya? Karena Vino yang kamu jadikan alasan berbohong itu sejak tadi berada di sini. Anak itu tertidur dengan baju warna kuning yang Mommy kamu berikan. Jadi sekarang kamu jujur sama Abi. Kamu habis dari mana?" Tatapan Abi sekarang tidak bisa lagi dibohongi.
Baiklah, aku harus jujur. Tapi sedikit aja, sisanya urusan Mas Zaky saja. "Iya, aku jujur. Aku habis dari bandara."
"Bandara?" Kening Abi terlihat berkerut mendengar jawaban yang kuberikan. "Ngapain kamu ke bandara?"
"Maunya sih, pulang pergi ke Singapura, belanja tas dan sepatu terus makan malam di sana, lalu balik lagi deh ke Indonesia," jawabku dengan jujur.
Mommy makin geleng-geleng kepala dan Abi matanya semakin melotot. "Jawab yang benar!" Abi semakin marah padaku. Nadanya semakin tinggi.
"Enggak mau jawab ah! Kalau jawab, Abi nanti tambah marah sama aku!" rengekku dengan manja.
"Kalau kamu nggak jawab, Abi malah lebih marah lagi! Kamu sudah pulang malam, membohongi Abi dengan cerita konyol tentang Vino, beralasan tidak jelas dan sekarang kamu nggak mau kasih tahu alasan kamu yang sebenarnya? Kamu mau bikin Abi tambah marah?" tanya Abi yang mulai kesal. Mommy terlihat mengelus lengan Abi agar Abi sabar.
Mendengar kata pahala, wajah Abi tidak setegang sebelumnya. Mungkin Abi tahu apa yang aku lakukan bukan hal yang berdosa. Suaranya kini melunak. "Ya udah, Abi nggak marah sekarang. Kamu jawab, kamu ngapain ke bandara? Bukan karena kamu mau nyobain kopi yang ada di sana bukan?"
"Ih, kurang kerjaan banget aku, Bi. Mau di outlet mana juga sama aja rasanya," jawabku tanpa rasa berdosa, membuat Abi kembali kesal.
"Astaghfirullah Carmen! Kamu mau buat darah Abi naik? Tinggal jawab aja susah banget! Kenapa sih harus muter-muter setengah Indonesia baru kamu jawab pertanyaan Abi?" Kembali Abi naik darah dengan jawabanku.
Sebenarnya aku sengaja muter-muter. Biar Abi capek dan tidak jadi menanyaiku lebih banyak lagi tapi ternyata Abi malah makin penasaran. Terpaksa deh, boom kecil aku ledakkan. Aku udah siap nih diomelin, tapi aku ajak muter-muter sedikit ah. Entah kenapa kok aku senang ya membuat Abi kesal? Seperti bukan diriku saja yang biasanya bermanja ria dengan Abi.
"Mau aku ambilin obat darah tinggi Abi? Eh tapi Abi 'kan biasanya darah rendah bukan darah tinggi. Memangnya bisa semudah itu ya berubah dari darah rendah ke darah tinggi? Apa karena Abi sudah jadi kakek-kakek sekarang? Bi, apa aku perlu telepon dokter langganan Abi?" tanyaku tanpa rasa bersalah.
"Carmen Putri Jelita Agastya." Abi mengeja namaku satu persatu. Pertanda Abi sudah dipuncak kemarahan sekarang.
__ADS_1
"Iya, Bi."
"Baby, kamu diem saja. Jangan dijawab terus Abi kamu!" omel Mommy. "Kasihan Abi kamu kerutannya bertambah. Ada empat kerutan di kening deh nambah. Tugas Mommy maskerin Abi makin banyak nih!" Mommy rupanya tau apa strategiku. Mommy membantuku mengulur waktu sampai Abi kesalnya hilang sendiri dan tak mau bertanya lagi.
"Enggak ada kerutan yang nambah. Mommy jangan nyumpahin Abi bertambah ya kerutannya! Ini kening Abi masih licin enggak ada kerutan!" Abi menjawab sambil memegang keningnya.
Ya Allah, aku harus menahan tawa melihat ulah orang tuaku yang ajaib ini. Dosa sekali aku membohongi Abi.
"Masa sih? Tadi Mommy lihat pas Abi marah-marah ada kerutannya. Sini coba Abi nunduk. Biar Mommy periksa lagi. Takutnya mata Mommy udah malam salah lihat!" perintah Mommy.
Dengan patuh Abi menunduk. "Ada enggak, Mi?" tanya Abi.
Mommy memberi kode padaku agar kabur lewat belakang tubuh Abi yang menunduk diam-diam. Kulakukan apa yang Mommy suruh lalu naik tangga pelan-pelan.
"Sebentar. Udah malam nih. Enggak begitu jelas. Soalnya kening Abi memang masih kencang karena Mommy suka bikinin Abi masker telor dan madu. Ternyata enggak ada, Bi. Berarti tadi bayangan doang!" jawab Mommy.
"Tuh 'kan Abi bilang apa? Abi masih muda. Jadi, Baby-"
Tak perlu aku lihat, aku tahu Abi tak menemukanku karena aku sudah berada di atas dan mengintip sedikit.
"Oh jadi ini rencana Mommy? Bohongin Abi ya? Awas ya, Abi hukum malam ini Mommy enggak tidur semalaman! Ayo cepat!"
Huft ... selamat. Maaf ya, My. Mommy kerja keras dulu deh dihukum Abi. Tenang, hukuman Abi enak kok. Aku saja tadi enak, ups.
****
__ADS_1