Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Test Pack


__ADS_3

Tari


"Mommy tidak bilang kalau Abi egois. Mommy bilang, Mommy nggak mau menjadi orang tua yang egois untuk anak Mommy. Mommy lebih mengutamakan kebahagiaan Baby. Mommy nggak mau melihatnya tersiksa," jawabku dengan dingin.


"Abi juga tak ingin melihat Baby menderita. Abi hanya nggak mau Baby salah pilih pasangan lagi. Apa salah jika orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya?" tanya Abi.


"Tidak ada yang salah. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya. Namun, apa yang terbaik menurut orang tua, apakah terbaik juga untuk anaknya? Kita hanya bisa berpikir itu yang terbaik, padahal sebenarnya itu cuma buat anak kita semakin tersiksa dan tidak bahagia," jawabku.


"Abi sudah memberikan kesempatan mereka untuk bahagia, tapi ternyata apa? Benar bukan feeling Abi selama ini? Coba dulu Baby mendengarkan apa yang dikatakan Abi. Saat Abi tidak merestui pernikahan mereka pertama kali, Baby seharusnya menurut. Pasti Baby tak akan merasakan rasa sakit hati seperti yang dirasakan Baby sekarang jika Baby menurut apa kata Abi!" kata Abi dengan bangganya. Seakan dirinya paling benar. Sombong mode on.


Aku tersenyum mendengar perkataan suamiku. "Sayangnya kalau menuruti perkataan Abi, Baby bukan hanya tak pernah merasakan penderitaan saja. Baby juga nggak akan pernah mengenal apa arti sebuah kebahagiaan dalam berumah tangga. Baby nggak akan pernah merasakan rasanya benar-benar mencintai seseorang dengan tulus. Baby mungkin akan melupakan perasaan cintanya dan tumbuh menjadi anak yang tak peduli akan keberadaan cinta di dunia ini. Keputusan yang Abi buat dulu adalah keputusan paling benar menurut Mommy. Menyelamatkan anak kita dari kerugian yang lebih besar lagi. Makasih, Bi!"


Abi memberenggut kesal. "My, kamu sadar tidak sih kalau kamu terlalu membela Zaky? Apa karena anak itu adalah anak dari sepupu kamu sendiri? Karena itu kamu membela mati-matian dan tak peduli kalau anak itu pernah menyakiti hati anak kita?"


Aku terpaksa harus mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam. "Bi, aku tanya balik. Kenapa sih Abi tidak mau merestui Zaky? Apa karena dia adalah anak dari sepasang suami istri yang telah mengecewakan Abi di masa lalu?"


"Jangan menyamakan hal itu! Abi sudah lupa!" jawab Abi dengan dingin.


"Oh, kalau begitu jangan sampai Abi lupa kalau dulu kita menikah juga tanpa restu orang tua Abi. Aku pernah berada di posisi Zaky, saat orang tua dari suamiku tidak memberiku restu. Untunglah Mama dulu tidak sekejam Abi, jadi aku masih bisa bertahan. Bagaimana kalau dulu aku sampai menyerah? Apa kita masih bersama sampai sekarang?" tanyaku dengan kesal.


"Mommy harus bertahan. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hari aku tanpa kamu, My!" Abi mulai melemah. Lelaki itu memang sangat mencintaiku, hal yang paling kusyukuri dalam hidupku.


"Apa yang Abi rasakan, sama seperti apa yang Baby rasakan. Sejak awal, Baby begitu mencintai Zaky. Saking cintanya, anak Abi yang mirip sekali dengan Abi itu bahkan melamar lelaki yang ia sukai. Malu pasti, namun dia terlalu bucin sampai mengesampingkan tentang harga diri. Sekarang apa yang Baby rasakan, sama seperti apa yang Abi rasakan. Tak bisa hidup tanpa orang yang dicintainya. Apa tega Abi memisahkan mereka?" cecarku.


Abi terdiam dan menunduk. Aku masih mau mencecar Abi dengan kata-kata agar Abi lebih sadar dari sikap egoisnya. Namun Wira memanggilku.


"My! Baby sudah siuman!" panggil Wira.

__ADS_1


"Baby sudah siuman?" Aku bergegas masuk ke dalam. Aku lihat Baby yang nampak meredupkan matanya karena silau dengan cahaya lampu.


"Sayang, kamu akhirnya sadar juga!" Kuhampiri Baby dan kuusap wajahnya.


"My, aku dimana?" tanya Baby dengan lemah.


"Di rumah sakit, Sayang. Kamu tadi pingsan. Sekarang apa yang kamu rasakan? Pusing?" tanyaku dengan lembut.


Baby mengangguk. "Agak pusing, My," jawab Baby.


"Mau minum?" tawarku.


Baby kembali mengangguk.


"Bang, tolong ambil minum dan sedotan!" Aku membantu Baby duduk dan Wira memberikan gelas berisi air. Aku bantu Baby minum dengan sedotan.


Kuberikan lagi gelas pada Wira lalu membantu Baby tidur lagi. Baby memandang ke sekeliling dan melihat Abi yang berdiri di depan pintu. Baby kembali memejamkan matanya karena takut dengan Abi-nya sendiri.


Aku tak mau Baby tertekan. Aku ingat kalau aku harus mengetes kehamilannya dengan testpack karena saat di USG belum terlihat karena usia kehamilan yang masih baru. Kemungkinan seminggu lagi baru terlihat, namun bisa dideteksi dengan test pack.


"Baby, mau ke kamar mandi?" tawarku.


Baby tahu pasti aku punya rencana. Baby mengangguk lemah.


"Ayo, Mommy bantu!" Aku dan Wira membantu Baby turun dari tempat tidur. Baby masih lemah. Aku memapahnya ke kamar mandi.


"Ada apa, My?" tanya Baby saat kami di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Ini." Kuberikan wadah untuk menampung air seni pada Baby. "Kamu harus isi untuk test pack."


"Test pack? Aku hamil?" tanya Baby dengan terkejut.


"Itu kata dokter. Waktu di USG belum terlihat karena usia kehamilan yang baru. Mau di USG Transvaginal kamu belum siuman, jadi dokter minta kamu test pack dulu setelah sadar baru USG transvaginal agar lebih jelas," kataku menjelaskan.


"Aku ... hamil?" Baby menunjuk dirinya sendiri.


"Kemungkinan besar," jawabku.


"Beneran ... aku hamil? Beneran, My?" Baby mengulangi lagi pertanyaannya.


"Iya, Sayang. Mommy tanya, sejak kamu rujuk sudah berapa kali kalian melakukan hubungan suami istri? Apa kalian pernah pakai pengaman atau alat kontrasepsi?" tanyaku.


"Sudah ... tak terhitung lagi sih, My. Enggak pernah pakai apa-apa, kami sudah lupa mau pakai pengaman kalau sudah di ubun-ubun," jawab Baby tanpa malu sedikit pun.


Aku geleng-geleng kepala dengan kepolosan anakku ini. Pantas saja hamil. Berapa kali mereka melakukan hal itu saja tak tahu, artinya banyak sekali bukan? Dasar anak muda, setelah tau enaknya jadi ketagihan.


"Ya sudah. Kamu isi dulu nanti Mommy yang bantu cek!" perintahku. Baby pun menurut. Setelah air seni tertampung, aku masukkan test pack ke dalamnya dan menunggu hasil. Satu menit bagaikan satu jam bagiku. Kalau memang benar Baby hamil, berarti aku akan punya cucu lagi. Senangnya!


Aku terus melihat saat garis di test pack bertambah menjadi dua. Wajah bahagia tak bisa aku sembunyikan. "Baby, kamu hamil!" kataku.


"Mana My? Aku lihat!" Baby mengambil test pack dariku dan melihat ada dua garis jelas di alat berukuran panjang tersebut. "Aku hamil anak Mas Zaky, My? Ya Allah, akhirnya aku hamil anak Mas Zaky! Alhamdulillah!"


Mata Baby mulai digenangi air mata. Aku tersenyum dan bisa merasakan kebahagiaan yang Baby rasakan. Aku tahu bagaimana anakku mencintai Zaky dan bisa memiliki anak dari lelaki yang kita cintai adalah sebuah kebahagiaan yang tiada tara. "Selamat ya, Sayang! Mommy senang melihat kamu bahagia!"


"Makasih, My. Lalu Abi bagaimana?"

__ADS_1


****


__ADS_2