Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Cafe Penuh Kenangan


__ADS_3

...**Warning! Adegan di bab ini akan menimbulkan rasa kesal, berbunga-bunga dan deg-degan. Jangan lupa vote ya, ingat hari senin 🤭🤭🥰🥰...


****


Carmen**


"Jangan macam-macam ya, Mas! Aku bisa panggil security untuk membawa kamu ke kantor polisi!" ancamku.


Tatapan tajam Mas Zaky lalu berubah menjadi sorot mata meledek. Ia pun tertawa puas melihatku panik. Aku kesal. Kembali aku dikerjai olehnya.


"Takut ya sama aku? Dulu aja berani godain. Sekarang baru aku kayak begitu saja udah takut!" ledek Mas Zaky.


"Beda cerita kalau dulu, Mas." Aku pergi ke dapur dan membuatkan dua minuman, untukku dan Mas Zaky. "Mau minum apa?" tanyaku agak ketus.


Mas Zaky mengikutiku dari belakang. Ia nampak melihat-lihat suasana dapur yang tak pernah ia masuki. Dulu Mas Zaky hanya mengantarku sampai depan gerbang dan pergi. Penasaran juga rupanya dengan dapur cafe yang omsetnya besar ini.


"Adanya apa? Susu ada?" tanya Mas Zaky.


"Ada. Mau rasa cokelat atau plain?" tanyaku seraya mengecek stok susu segar di lemari es.


"Kalau susu gantung ada?" goda Mas Zaky.


"Mas mau digantung? Sana gih di pohon terong!" jawabku dengan kesal. Ditanya serius malah ngajak becanda.


"Kenapa harus di pohon terong sih? Enggak bisa di pohon pisang ya? Biar dekat sama jantungnya gitu," goda Mas Zaky lagi.


"Mulai deh enggak jelas. Garing kayak keripik pisang kelamaan dijemur!" balasku. Kuambil panci kecil dan mulai menghangatkan susu. Rencananya akan kutambahkan bubuk minuman dan akan kusajikan racikan minumanku pada Mas Zaky. "Mau hot atau pakai es?"


"Kalau susu gantung sih hangat ya, tapi terserah kamu aja deh!"


"Yaudah. Duduk aja sana. Nanti aku bawain!" Aku menunjuk ruang tengah cafe. Ada kamar kecil tempatku istirahat tak jauh dari sana. Mas Zaky bisa tidur di sana dan rencananya aku akan bekerja dari ruang tengah.


"Enggak mau!" tolak Mas Zaky.


Kumatikan susu yang sudah mendidih. Aku lalu mencari bubuk hazelnut untuk tambahan minuman. Ternyata ada di rak paling atas kitchen set yang ada di belakang kompor. Aku berusaha mengambil namun terlalu tinggi.


Mas Zaky tiba-tiba berdiri di belakangku dan mengambilkan bubuk hazelnut yang aku ingin ambil. Kurasakan nafas Mas Zaky yang begitu dekat dengan telingaku dan kembali aku meremang. Aku tak kuat jika ada yang menyentuh titik kelemahanku itu.

__ADS_1


"Makasih, Mas. Bisa geser?" tanyaku dengan gugup. Bukannya bergeser, Mas Zaky malah memelukku dari belakang dan membenamkan kepalanya di bahuku. Aku terkejut tentu saja. Rasa geli yang kurasakan semakin besar.


Aku berbalik badan dan hendak pergi namun Mas Zaky malah memojokkanku. "Kenapa?"


"Mas, geseran. Aku mau buat minuman!" kataku seraya mendorong tubuh Mas Zaky namun sia-sia. Aku kalah tenaga, dia laki-laki dan aku perempuan. Mana kuat aku melawannya?


"Enggak mau. Aku sudah menantikan momen ini sejak lama. Aku kangen kamu, Baby!" Mas Zaky semakin mendekatkan dirinya padaku. Jarak kami hanya beberapa senti saja. Aroma nafasnya yang bau mint karena sejak tadi mengunyah permen karet bahkan sampai tercium olehku, menandakan jarak kami yang sangat dekat.


"Aku mau buat minuman, nanti dingin!" kataku beralasan.


"Aku tidak haus. Aku mau nagih hutang sama kamu."


"Hutang? Aku enggak pernah punya hutang sama Mas Zaky. Aku saja tidak mengambil uang yang Mas Zaky berikan. Sudah kukembalikan tuh!" kataku dengan jujur.


"Lupa ya sama hutang kamu?" Tangan Mas Zaky menunjuk bibirku. "Kamu udah mempermalukanku, ingat tidak?"


"Ih nyalahin aku! Mas Zaky sendiri yang mau! Seharusnya nolak, kenapa malah mau?" kataku dengan nada menyebalkan seperti yang biasa Abang Wira ucapkan.


"Makin gemas aku sama kamu. Bagaimana, kamu mau yang lembut atau agak hot sedikit?" tanya Mas Zaky lagi.


"Hot? Balsem kali ah hot," jawabku tak kalah meledek.


"Inget dosa woy! Dosa!" kataku.


Mas Zaky kembali tersenyum dan kini berkata serius. "Biar enggak dosa, kamu mau rujuk sama aku?"


"Ogah!" jawabku dengan yakin.


Mas Zaky nampak menghela nafas kasar. Kalau begitu, kamu pilih dosa ya?" ancam Mas Zaky.


"Yeh bukan aku yang pilih! Makanya jangan buat dosa, situ yang-"


Aku tak bisa menyelesaikan perkataanku karena bibir Mas Zaky sudah menciumku lembut. Aku berusaha melawan. Kutahan dada Mas Zaky namun ia malah semakin memelukku erat dan tak melepaskan ciumannya.


Tak lama Mas Zaky melepaskan ciumanku. "Itu yang lembut. Suka?"


"Enggak!" kataku dengan ketus.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu suka yang hot?"


"Ih siapa yang-" Aku kembali tak bisa berkata apa-apa. Wajahku direngkuh dan Mas Zaky menciumku dengan penuh gairah. Aku tak bisa melawan, sebelah tangan Mas Zaky mulai menyentuh area-area sensitifku. Mas Zaky bahkan membuka kancing bajuku dan menyusupkan tangannya ke dalam bajuku.


Pertahananku melemah, sekuat aku melawan semakin Mas Zaky membuatku tak berdaya. "Kamu mau kita berbuat dosa atau menerima ajakkan rujukku?"


Aku tak bisa berpikir jernih, tangan Mas Zaky berada dalam bajuku dan terus membuatku kehilangan konsentrasi. "Bagaimana? Rujuk?"


"Kamu memaksa, Mas," kataku dengan suara lemah. Bagaimana aku bisa konsentrasi saat tangan nakalnya terus memainkan milikku?


"Ya, aku tahu kamu memasang perangkap untukku. Kamu lupa siapa aku? Banyak sainganku yang melakukan itu dan aku sudah terbiasa," bisik Mas Zaky di telingaku.


"Mas, lepas dulu. Tolong!" kataku tak berdaya.


"Tak mau. Jawab dulu, mau rujuk atau tidak?"


"Tidak," jawabku dan kembali Mas Zaky menciumku seraya tangannya terus memancingku.


"Semakin kamu menolak, semakin banyak dosa yang kita perbuat. Come on, kamu tahu aku mencintai kamu sekarang. Hanya kamu. Pikir apa lagi? Aku tak bisa menahannya. Aku menginginkan kamu. Jadi, aku tanya sekali lagi. Mau rujuk denganku?"


Sorot mata kami bertemu. Aku melihat ia begitu menginginkanku, aku pun demikian. Perangkap yang kupasang semua ia tahu. Ia hanya pura-pura masuk dalam perangkapku hanya agar aku terkena sendiri perangkap yang kubuat.


"Satu,"


"Dua,"


"Ti-"


"Baiklah. Aku mau rujuk!" kataku pada akhirnya.


"Bagus! Kita pindah tempat sekarang!" Mas Zaky lalu menggendongku sambil menciumku dengan penuh gairah. Tanganku bergelayut di lehernya dan membalas ciumannya.


Ia membawaku ke kamar dan membaringkanku dengan hati-hati. Menutup pintu kamar dengan kakinya dan melepas baju yang ia kenakan. Aku kembali melihat tubuhnya yang kekar dan tak pernah gagal membuatku terpukau.


"I love you, Baby! Bismillah!" Mas Zaky membuka bajuku dan kembali menciumku dengan lembut. Tubuhku pun merespon dengan baik setiap sentuhannya. Tak ada lagi aku yang memancing Mas Zaky seperti dulu. Kini, Mas Zaky yang menginginkanku. Aku si gadis bodoh yang begitu bucin akan cinta. Terserah mau dikatakan apa. Aku tak mau memungkiri kalau aku menginginkan Mas Zaky.


Mas Zaky melakukannya dengan penuh cinta. Menelusuri setiap lekuk tubuhku dan memberikan banyak tanda kepemilikannya. Saat kedua tubuh kami menyatu, hanya ada rasa cinta yang bicara. Begitu pun saat Mas Zaky menyelesaikan semuanya. "Aku sayang kamu, Baby. Biar aku yang berjuang sekarang!"

__ADS_1


****


__ADS_2