
Zaky
Aku menghela nafas lega ketika Om Bastian datang. Memang, teman Abi yang satu ini adalah penyelamat bangsa dan negara. Hanya Om Bastian yang bisa meredamkan emosi Abi dibanding sahabatnya yang lain, mungkin karena Om Bastian lebih dewasa dan tenang, tidak seperti teman-temannya yang lain.
"Baby sakit apa, Sayang?" tanya Om Bastian dengan ramah. Om hanya melirik ke arah Abi dan tersenyum lalu menghampiri Baby. "Enggak sakit apa-apa nih kayaknya, cuma sakit ingin dimanja aja!" goda Om Bastian.
"Sakit mala rindu," jawab Baby.
Om Bastian melirik ke arahku dan terkejut melihat wajahku dengan muka lebam. "Om tahu nih siapa yang berbuat ini. Pasti seseorang yang lagi duduk di sana!" Om Bastian melirik ke arah Abi yang menatapnya dengan tajam. Tak ada sedikitpun rasa takut dalam diri Om Bastian. "Yang sabar ya, cobaan dalam berumah tangga itu banyak. Salah satunya yaitu mertua yang tidak merestui menantunya. Dia sendiri sudah lupa kalau dulu juga hubungannya tidak direstui, malah membuat anaknya sulit mendapatkan jodoh dengan sikapnya yang keras kepala itu!" sindir Om Bastian secara terang-terangan.
Aku tidak berani tersenyum apalagi tertawa. Tidak seperti Baby yang berusaha keras menahan tawanya namun tetap saja terlihat oleh Abi.
"Kata dokter apa, Sayang?" tanya Om Bastian dengan lembut pada Baby.
"Aku hamil, Om," jawab Baby.
__ADS_1
"Hamil?" Om Bastian lalu menunjuk ke arahku dan Baby secara bergantian. "Pasti sering kayak begituan ya? Wajar sih, masih muda, tapi kalian sudah rujuk 'kan? Minimal secara agama. Jangan berbuat dosa, seperti Abi kamu dulu, dan Papa kamu juga tentunya." Om Bastian kini melirik ke arah Papa dan Abi secara bergantian. Sungguh cara menyindir yang sangat ekstrem. Membuat orang ingin marah tapi tak bisa marah, itulah ciri khas Om Bastian.
"Ya sudah, kalian ngobrol. Biar Om yang mengalihkan perhatian Abi kalian!" Om Bastian lalu menepuk bahuku dan ikut bergabung bersama teman-temannya yang duduk di sofa.
"Mar, sini kamu!" Om Bastian memanggil Papa Damar untuk bergabung duduk di sofa. Papa pun menurut, ia duduk tepat di seberang Abi Agas.
"Seru nih!" bisik Mommy dengan pelan.
"Kita lihat aja, Tari. Nanti, saatnya kita turun tangan pasti ada," balas Mama sambil berbisik juga agar tidak ada yang mendengar selain kami berempat.
"Semoga saja Om Bastian mampu membuat Abi luluh ya, Ma, My!" ucap Baby. Kami bertiga kompak mengaminkan perkataan Baby dalam hati.
Baby mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Mas. Aku senang sekali saat tahu kalau ada anak kamu di dalam rahim aku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga anak kita. Aku jadi penasaran, nanti dia akan seperti kamu atau seperti aku ya?"
Aku mengusap rambut Baby dan tersenyum. Sebenarnya ingin kukecup keningnya namun takut dengan singa yang sedang mengobrol di sofa sana. "Aku ingin, kalau dia perempuan cantiknya seperti kamu dan penyabar seperti kamu tentunya."
__ADS_1
"Kalau anak laki-laki, aku mau seperti kamu. Ganteng dan pintar, tapi jangan nyebelinnya mirip kamu ya," pinta Baby dengan terus terang. Mau tak mau aku tersenyum mendengar permintaannya yang polos tersebut.
"Iya. Nanti, Mas akan ajarkan anak kita agar tidak nyebelin seperti Mas." Baby makin tersenyum mendengar ucapanku.
Percakapanku dan baby berhenti kala nama kami berdua disebut. "Tuh, lo lihat Gas. Anak lo dan anak Damar itu saling mencintai. Mereka memang pernah saling sakit hati, saling marah, saling membenci, tapi lihat, rasa cinta yang ada dalam diri mereka jauh lebih kuat. Bahkan, lo berdua bakalan punya cucu. Mereka juga akan menjadi orang tua. Lihat saja muka mereka, sejak tadi tersenyum terus. Kalian nggak mau anak kalian itu bahagia?" ceramah Om Bastian.
"Gue mau anak kau bahagia, mau banget! Siapa sih orang tua yang nggak mau anaknya bahagia? Gue udah kasih kesempatan kok Bas anaknya dia untuk membahagiakan anak gue, tapi apa? Anak gue pulang sambil menangis dan sangat kecewa karena anaknya yang nggak pernah berubah. Sekarang, kalau lo jadi gue, apa bisa lo percaya lagi sama orang yang pernah nyakitin hati anak lo?" tanya Abi dengan nada emosi dan kecewa yang teramat dalam.
"Iya, Gas. Gue ngerti. Lo pasti jadi orang tua marah banget waktu itu. Lo bahkan sampai menyewa pengacara terbaik untuk membantu proses perceraian anak lo. Sekarang gue tanya, saat anak lo bercerai, apakah dia bahagia?" tanya Om Bastian dengan tenang dan sabar. Om Bastian tak pernah tersulut emosinya jika berbicara dengan Abi Agas, itu yang membuat Abi Agas juga menahan emosi jika berbicara dengan om Bastian.
"Ya enggaklah! Mana ada sih yang bahagia kalau cerai?" jawab Abi Agas masih dengan nada kesal.
"Nah, sekarang lo liat deh mereka berdua. Kedua tangan mereka saling berpegangan, saling menguatkan satu sama lain. Mereka akan menjadi orang tua. Mereka akan dewasa dengan sendirinya. Tugas lo sebagai orang tua itu sudah selesai, Gas. Cukup menasehati dari jauh. Biarkan anak-anak lo memilih kebahagiaannya sendiri. Apa yang menurut lo baik, belum tentu baik buat mereka. Sekarang lo mau anak lo bahagia nggak?" tanya balik Om Bastian. Abi tak menjawab malah memalingkan mukanya, tak mau menatap ke arah kami berdua.
"Buanglah rasa egois dalam diri lo. Kalau lo terus-menerus berpikiran buruk, mungkin Allah juga akan mengabulkan pikiran buruk lo. Anak lo jadi sengsara. Rumah tangganya mungkin jadi tak bahagia, tapi kalau lo mendoakan anak-anak lo yang baik-baik, lo percaya Allah akan membuat mereka bahagia, Allah pasti akan mengabulkan. Lo orang tuanya, Gas. Doa lo yang paling dikabulin. Sekarang lo mau doain kayak gimana? Mau doakan untuk kebaikan anak lo, atau lo mau terus menyimpan dendam dan amarah dan akhirnya kesampaian deh pikiran buruk lo itu, anak lo jadi enggak bahagia dan selalu sedih. Bukankah ikhlas lebih baik daripada menyimpan dendam?" nasehat Om Bastian panjang lebar.
__ADS_1
Wow, Om Bastian memang keren. Kata-katanya tuh nusuk di hati. Semoga saja, Abi tergugah dengan perkataan Om Bastian kali ini. Aku sudah tidak tahu jika tidak berhasil dengan nasehat Om Bastian, bagaimana cara membujuk Abi lagi?
****