Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Banjir dan Kesempatan


__ADS_3

Carmen


Berduaan di dalam mobil yang terjebak macet parah karena banjir membuat keadaan di dalam mobil semakin tak terkendali. Mas Zaky yang tiba-tiba memberi bunga mawar, lalu jas miliknya untuk menutupi tubuhku dan selanjutnya sebuah ciuman.


Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Mas Zaky memajukan tubuhnya dan menciumku. Awalnya aku diam karena terlalu terkejut namun saat kesadaranku kembali datang, aku menahan tubuhnya dan menolak ciumannya. Kupikir Mas Zaky akan memaksa dan menciumku secara kasar dan membuat bibirku berdarah seperti adegan di film. Namun ternyata tidak.


Mas Zaky kembali menciumku dengan lembut. Hal ini membuatku sedih. Apa yang mau ia lakukan. Kupukul dadanya agar ia berhenti menciumku. Berhasil. Ia lalu berbicara kata-kata yang paling romantis yang pertama kali aku dengar selama mengenalnya.


"Aku mencintaimu, Baby."


Kalimat yang dulu sangat ingin aku dengar. Kalimat yang dulu rela membuatku menukar semua milikku hanya demi mendengar kalimat ini.


"Kamu bohong!" kataku tanpa sadar.


Mas Zaky menggelengkan kepalanya. "Aku jujur. Aku sangat jujur kali ini. Aku tahu apa kesalahanku. Aku salah. Aku sudah banyak menyakitimu. Aku mau membuktikan sama kamu kalau aku sudah berubah. Aku tak bisa hidup tanpa kamu, Baby!"


Mas Zaky kembali meraih tanganku. Gila ini sih. Kenapa juga mobil ini harus macet dan tak bergerak di antara banjir dan mobil lain yang mogok? Aku mau turun namun aku takut ada hewan yang kutemukan di air banjir ini.


"Beri aku 10 kencan. Aku akan buktikan kalau aku sudah berubah. Aku janji, aku tak akan mengganggu kamu lagi jika dalam 10 kali kencan aku tak bisa membuatmu memaafkanku. Aku akan pergi jauh dan tak akan mengganggu hidup kamu!" ucap Mas Zaky dengan serius.


Pergi? 10 kali kencan?

__ADS_1


"Kita mulai semuanya dari awal. Kita pacaran layaknya anak muda pada umumnya. Kita saling mengenal bukan sebagai kakak adik melainkan sebagai laki-laki dan perempuan. Apa kamu mau memberiku kesempatan?" tanya Mas Zaky penuh harap.


"Bagaimana kalau aku tak mau memberi kesempatan?" tantangku.


"Ya ... aku akan terus mengejar kamu sampai kamu memberi kesempatan. Aku akan lebih nekat lagi. Tak peduli Wira akan menampolku lebih keras atau Abi akan membantingku seperti bola billiar. Selama ini aku mengejar kamu masih dengan cara halus. Kalau kamu menolak memberi aku 10 kencan, aku akan mengejar dengan cara lebih nekat lagi. Bagaimana?"


Apa yang harus aku jawab. Aku kenal Mas Zaky, jika Mas Zaky bilang lebih nekat, maka ia akan melaksanakan ucapannya tersebut. Namun jika aku iyakan, berarti aku memberinya kesempatan dong?


"Untuk apa sih Mas menginginkan kesempatan dariku? Bukannya ini yang Mas inginkan? Bebas mengejar wanita manapun yang Mas mau?" kataku pada akhirnya. Inilah pertama kalinya aku berbicara panjang lebar setelah kami bercerai. Selama ini aku terlalu marah sampai mau bicara saja aku enggan.


Mas Zaky tersenyum. Ia tetap saja menggenggam tanganku meski aku berusaha melepaskan tangannya. "Aku suka suara kamu. Aku begitu merindukan suara kamu. Bisa mendengar suara kamu seperti ini adalah anugerah untukku."


"Aku jujur. Memang itu yang kurasakan. Aku ... merasa semua yang kulakukan tak lagi seperti dulu. Suara kamu yang kadang membuat pagi aku berisik, kini nggak ada lagi. Sikap manja kamu yang kadang bikin lengan aku pegal, juga nggak pernah ada lagi. Tawa kamu yang renyah dan kadang tidak sesuai tempat, sekarang tidak ada dan berganti sepi. Setelah nggak ada kamu aku baru menyadari kalau aku sudah melepaskan hal yang begitu berharga dalam hidupku,"


"Aku ingin rujuk lagi dengan kamu tapi aku nggak tahu caranya. Aku lebih tahu bagaimana cara memenangkan tender dibandingkan cara menangkan hati kamu. Aku lebih tahu cara menyelesaikan konflik dalam perusahaan dibanding cara menyelesaikan masalah dengan kamu. Kamu tahu sendiri bagaimana selama ini aku dididik oleh Papaku. Aku jauh dari kehidupan sosial dan hanya fokus untuk belajar. Kamu yang ngajarin aku tentang kasih sayang. Kamu yang sering mengajak aku jalan dan mencari hiburan. Kamu yang selama ini hanya aku anggap sebagai adik. Ternyata, saat kita menikah semua berubah,"


"Aku dengan semua keinginan aku yang aneh itu. Dengan obsesi aku yang menurutku gila, lalu aku mulai menyadari kalau aku kehilangan kamu. Bukan sebagai seorang adik, tapi sebagai seorang wanita yang biasa ada di sisiku. Sebagai seseorang yang biasa mengajarkanku hal-hal kecil sampai hal besar. Seseorang yang menemani aku di saat aku merasa pekerjaan itu terlalu membuatku tertekan dan membuatku menyerah. Kamu yang ada di sisi aku, Bi. Lalu aku mulai sadar, aku tak lagi menginginkan Dewi. Itu cuma obsesi gila aku saja. Aku kini menginginkan kamu,"


"Aku takut kehilangan kamu. Aku akan melakukan apa saja agar kita bisa rujuk kembali. Aku janji, aku akan berubah. Beri aku 10 kali kencan agar aku bisa membuktikan kepada kamu, apa yang aku katakan ini memang benar adanya. Bukan hanya kata-kata basi dan bokis seperti yang kamu bilang."


Mas Zaky berbicara dengan penuh keyakinan. "Please, By!" Tanganku yang sejak tadi ia pegang kini dikecupnya dengan penuh kasih.

__ADS_1


Wow ... aku bisa meleleh kalau begini caranya. Tadi ciuman lembut nan memabukkan, hampir saja aku khilaf dan membalasnya. Kini, kecupan di tanganku. Aku tak mau munafik, hanya Mas Zaky lelaki yang sejak awal ada dalam hatiku. Saat lelaki yang selama ini aku kejar cintanya dan kini bertekuk lutut di hadapanku dan memelas cintaku, bagaimana aku bisa menolaknya?


Tidak. Jangan semudah itu, Carmen!


Jika cinta terlalu mudah didapatkan, maka cinta akan semudah itu pula dilupakan. Harus ada perangkap. Harus ada jebakan yang membuat Mas Zaky terjebak dalam cintanya padaku. Tak bisa semudah itu!


"Hanya sepuluh kali?" tanyaku.


"Iya. Awalnya sepuluh kali kencan. Kalau nanti kamu mau rujuk, kapanpun kamu mau kita akan kencan. Mau honeymoon setiap minggu juga boleh," jawab Mas Zaky dengan mata berbinar yang penuh akan harapan.


Sepuluh kali saja dan aku akan terbebas dari gangguan Mas Zaky. Mungkin juga setelah 10 kencan kami bisa rujuk? Tidak. Aku tak mau semudah itu. Aku masih meragukan apakah Mas Zaky mencintaiku atau hanya obsesi saja.


"Bagaimana?" tanya Mas Zaky karena aku tak kunjung memberikan jawaban.


"Jika dalam 10 kali Mas tak bisa membuatku memaafkan Mas, apa yang akan Mas lakukan?" tanyaku.


"Aku akan pergi dari hidup kamu. Aku akan minta Papa menempatkan aku di luar kota. Aku tak akan menampakkan batang hidungku sama kamu lagi. Aku janji!"


"Baiklah. Aku setuju!"


****

__ADS_1


__ADS_2