
Carmen
Mas Zaky dengan sopan membukakan pintu mobil untukku. Ia membantuku turun dari mobilnya yang agak tinggi dengan memegang tanganku. Posisi kami saat ini agak aneh, tangan Mas Zaky memegang tanganku dan sebelah tangannya lagi memegang pinggangku karena aku hampir saja tergelincir jatuh akibat sepatuku yang agak licin terkena basah bekas banjir tadi.
Tiba-tiba sebuah suara membuat aku terkejut. Aku tak menyangka akan diketahui oleh orang lain, padahal hari sudah terlalu malam. "Kok kalian bisa bareng sih?"
"Mama! Ngagetin aja!" omel Mas Zaky pada Mama Tara. "Kok Mama belum tidur sih?"
Aku melepaskan tangan Mas Zaky yang melingkar di pinggangku. Mas Zaky menutup pintu mobil sementara aku mendekati Mama untuk salim.
"Mama tak bisa tidur memikirkan kamu. Banjir dimana-mana." Mama membalas uluran tanganku dan lalu memelukku erat. "Putri Mama yang cantik. Kok bisa bareng sama mantan suami kamu sih? Mau rujuk ya?" goda Mama Tara.
"Aamiin," ujar Mas Zaky dari belakangku. Ia kini mengambil bajuku yang ada di dalam mobil.
"Kebetulan mobil aku mogok dan bertemu Mas Zaky, Ma," kataku. Tak mau Mama sampai salah paham.
"Wah, kebetulan yang aneh ya? Tunggu deh, kayaknya yang kamu kenakan adalah kemeja Zaky yang tadi pagi Mama siapkan deh. Kok bisa ya? Kamu ganti baju dimana?" selidik Mama Tara.
"Tadi baju Baby basah, Ma. Kebetulan ada baju yang Mama siapkan untuk aku. Ya udah, aku kasih Baby aja buat ganti." Mas Zaky membantuku menjawab pertanyaan dari Mama.
Namun, Mama Tara tidak semudah itu langsung percaya. "Lalu ganti bajunya dimana? Kamu belum jawab loh!" tagih Mama Tara.
"Ya ... di dalam mobil, Ma. Mama nggak tahu sih, jalanan tuh tadi terkepung banjir. Kalau aku cuma bawa mobil sedan biasa, udah kelelep kali tuh mobil aku kayak mobil Baby." Mama Tara mendengar jawaban Mas Zaky tersenyum menggoda. Aku tahu apa yang Mama pikirkan. Kenyataannya tidak seperti itu. Aku ganti baju di belakang dan Mas Zaky fokus mengemudi jadi tidak mengintip, iya 'kan?
"Oh begitu. Baby mau makan dulu enggak? Mama masak loh. Mau nyobain masakan Mama dulu enggak?" tawar Mama Tara.
"Makasih, Ma. Aku langsung pulang aja. Takut Mommy khawatir," tolakku.
__ADS_1
Terlihat mata Mama kecewa karena aku menolak permintaannya. Maaf, Ma. Keadaan akan makin runyam kalau Abi pulang dan aku belum sampai rumah. Apalagi kalau Abi tahu aku makan malam di rumah Mas Zaky. Bisa gawat nanti.
"Ya sudah kalau begitu. Kapan-kapan kamu makan di rumah Mama lagi ya. Mama kesepian enggak ada kamu. Tidak ada yang gangguin Mama masak lagi. Kamu enggak kasihan sama Mama?" rajuk Mama dengan wajah memelas.
"Lain kali ya, Ma. Aku juga kangen Mama. Aku pulang dulu." Aku lalu berbicara dengan Mas Zaky. "Makasih Mas tumpangannya."
Mas Zaky memberikan paperbag berisi pakaianku. "Sama-sama. Jangan lupa sama janji kita ya!" ujar Mas Zaky sambil tersenyum.
"In sha Allah," jawabku. Aku salim dengan Mama lalu berbalik badan hendak pulang sebelum perkataan Mas Zaky membuatku berbalik badan.
"Mau Mas antar tidak?"
"Cie mau antar, kamu kedip saja Baby udah sampai kali, Nak!" goda Mama Tara.
"Ya takut ada nyamuk yang gigit Baby di jalan, Ma," jawab Mas Zaky.
Aku meneruskan berjalan dan sayup-sayup kudengar Mama mengomentari Mas Zaky. Aku membuka pintu pagar dan langsung disambut Mommy.
"Assalamualaikum," kataku seraya menaruh sepatu yang agak basah di rak sepatu. Besok akan aku minta Ibu Inah menjemurnya.
"Waalaikumsalam. Kamu bareng sama Zaky?" tanya Mommy.
Tuh 'kan, benar dugaanku. Bukan hanya Mama Tara saja yang tau, kini Mommy juga. Tak masalah, Mommy ada di kubu netral. Aku harus jujur kalau sama Mommy.
"Iya, My. Tadi pas mobil aku mogok eh Mas Zaky lewat. Aku nunggu mobil derek dari Abi namun tak ada kabar. Banyak mobil mogok jadi susah menuju tempatku," jawabku dengan jujur.
"Tumben kamu mau diantar Zaky? Biasanya kayak singa, tiap Zaky mendekat kamu akan menatap tajam dan mengaum, membuat Zaky makin bingung harus menghadapi kamu seperti apa," kata Mommy.
__ADS_1
"Keadaan mendesak, My. Aku saja pinjam baju ganti Mas Zaky. Ada pertanyaan lagi enggak, My? Aku lelah sekali. Aku boleh masuk ke kamar enggak?"
Mommy tersenyum. "Tak ada. Naiklah. Mau Mommy siapkan makanan atau minuman?"
Aku menggeleng lemah. Lelah sekali rasanya hari ini. "Makasih, My. Aku mau langsung tidur saja."
Sayangnya setelah mandi dan sholat mataku malah susah dipejamkan. Bayangan Mas Zaky yang menciumku dengan lembut kembali melintas di pikiranku, membuat wajahku kembali memanas.
Aku akui, ciuman Mas Zaky tadi berbeda. Bukan ciuman yang hot seperti malam pertama kami, melainkan ciuman penuh cinta. Ah masa sih? Kok aku ragu. Kenapa semudah itu Mas Zaky mencintaiku dan melupakan Kak Dewi. Aneh.
Oke. Aku akan membuat perangkap lagi untuknya. Aku melihat di Youcube cara menangkap ikan dengan botol bekas yang di dalamnya terdapat pelet atau makanan ikan. Memberinya kesempatan 10 kali kencan seperti memasukkan pelet ikan ke dalam botol bekas untuk menjebaknya. Masalah nanti aku akan memakan atau membuang ikan tangkapanku, itu belakangan. Aku akan membahagiakan diriku kali ini. Melihat Mas Zaky yang bucin padaku, sudah membuatku bahagia.
****
Zaky
"Kamu enggak mau cerita sama Mama, kalian ngapain saja tadi? Kok Baby sampai pakai baju kamu? Bukan karena banjir deh pasti. Kalian habis check in di hotel ya? Kamu berhasil memenangkan hati Baby? Kalian mau rujuk?" Mama sejak tadi mengikutiku dan memberondongku dengan banyak pertanyaan.
"Baby sudah jawab semua pertanyaan Mama. Kami bertemu di jalan karena mobil Baby mogok dan tidak terjadi apa-apa seperti yang ada dalam isi kepala Mama, oke?" Kuambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi. Pusing ditanyai oleh Mama terus. Hatiku sedang senang nih.
Setelah mandi, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Tak sabar rasanya menunggu hari sabtu tiba. Apakah aku bisa mencuri ciumannya lagi seperti tadi? Ah membayangkannya saja membuatku terbuai dan mau lagi.
Aku mengambil foto pernikahan kami yang sengaja aku taruh di atas nakas. Foto yang aku cetak agar aku selalu teringat kalau aku punya istri yang harus aku gapai lagi hati dan kepercayaannya.
"Tunggu aku ya, Baby. Aku akan membuat kamu mau rujuk lagi denganku. Aku akan membawa kamu pulang lagi ke rumah kita. Aku janji. Aku akan buktikan betapa aku sangat mencintaimu." Kucium foto Baby dan tidur dengan memeluk foto tersebut.
****
__ADS_1