Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Banjir Membawa Berkah


__ADS_3

Zaky


Sayang sekali Baby sudah selesai. Aku berpura-pura fokus mengemudi saat Baby pindah duduk di sampingku.


"Jangan duduk dulu!" Kuambil plastik di dashboard dan tak sengaja menyentuh paha mulusnya. Pikiranku kembali berkelana kemana-mana. Tidak. Aku harus fokus. "Pakai plastik ini untuk alas duduk kamu. Jangan sampai pakaian kamu basah lagi."


Baby menurut. Ia mengambil plastik yang kuberikan lalu digunakan sebagai alas duduknya. Kulihat Baby agak kurang nyaman memakai kemeja milikku yang kebesaran namun tanpa celana sebagai bawahan. Celanaku pasti kelonggaran jika dia kenakan.


Aku kembali mengambil sesuatu dari jok belakang. Jaket. Mama, youre the best. Nanti aku belikan tas yang mahal untuk Mama karena sudah menjadi penyelamatku hari ini.


"Pakai jaket ini, dingin!" kataku seraya memberikan jaket milikku untuk Baby.


Baby kembali menurut. Ia memakai jaket untuk menutupi pahanya yang terekspos dan berhasil membuatku berpikir hal-hal mesum.


"Lapar tidak?" tanyaku yang tak mendapat jawaban sama sekali. Huft ... sabar Zak, sabar.


"Aku ada bakpau dan air mineral. Makanlah!" Kuberikan bakpau milikku. Kembali Baby meragu dan pada akhirnya ia mengambil juga.


Kunyalakan radio agar suasana lebih rilexs. Rupanya banjir membuat mobil tak banyak bergerak. Banyak kendaraan yang mogok membuat perjalanan semakin lama.


"Dingin?" tanyaku. Sejak tadi kulihat Baby menggosok lengan bajunya seperti mencari kehangatan.


Baby mengangguk pelan.


"Mau peluk?" godaku sambil tersenyum. Baby langsung memanyunkan bibirnya dan membuang wajah ke arah jendela.


"Becanda. Begitu saja kamu sudah ngambek. Jangan kebanyakan ngambek, cepat tua nanti! Harga perawatan wajah untuk mengatasi keriput itu mahal. Perbanyak senyum, meski aku kadang ngeselin." Kubuka jas kerjaku.

__ADS_1


"Baru nyadar?" cibir Baby pelan.


Aku tersenyum mendengarnya. Meski dicibir, itu lebih baik daripada aku dicuekin Baby. "Ha ... ha ... ha .... aku terlalu ngeselin ya?" Kuberikan jas yang kulepas pada Baby. "Pakailah. Kemeja putih yang kamu kenakan terlalu menerawang. Biar bagaimanapun aku ini laki-laki, takut khilaf."


Baby mengambil jas yang kuberikan lalu memakainya cepat-cepat. Aku tersenyum melihat sikapnya. "Kenapa ketakutan begitu? Waktu kita menikah dulu, kamu yang menggoda aku. Sekarang, ketika aku tergoda malah kamu tutupi," godaku.


"Enggak lucu!" ketusnya.


Aku kembali tersenyum melihatnya kesal. Seru juga. Kerjain lagi ah!


"Ya Allah, terima kasih atas banjir ini. Aku jadi bisa berduaan sama Baby. Allah saja memberi aku kesempatan, kenapa kamu enggak sih?" sindirku.


Sudah kuduga, Baby tak menanggapi ucapanku. Oh iya, origami! Aku punya origami untuk malam ini. Kujulurkan tanganku dan membuka dashboard mobil. Baby bersikap siaga dan menarik dirinya menjauh dariku. "Aku enggak ngapa-ngapain kok. Tenang. Aku masih jinak. Walau aku pengen nyoba kayak di film Titanic, saat Rose dan Jack di jok belakang lalu kacanya berembun dan ada ceplakan tangan di kaca. Kira-kira mereka ngapain ya?"


Kulirik wajah Baby yang memerah. "Ayo, kamu mikir apa? Pasti mikir adegan ehem-ehem ya?" godaku.


Yes, Baby mulai sedikit-sedikit membalas perkataanku. Lumayan, daripada tak ada kemajuan sama sekali.


Kukeluarkan origami dan setangkai bunga mawar yang tadi aku beli saat meeting di salah satu Mall. "Buat kamu." Kuberikan bunga mawar dan origami pada Baby. "Wangi loh! Cium aja!"


Baby menerima origami dan bunga pemberianku. Ia menurut dan mencium bunga mawar pemberianku. Keningnya nampak berkerut.


"Kenapa? Enggak wangi? Maksud aku yang wangi itu aku. Bukan bunganya, coba aja kamu cium!" godaku lagi dan alhasil wajahku dipukul pakai bunga mawar yang ia pegang. Untung hanya setangkai, kalau satu buket dan ada duri yang menancap bisa luka wajahku ini!


Aku tertawa dan mengacak rambutnya. Baby semakin kesal dan memanyunkan bibirnya. "Ups, sorry. Kebiasaan. Kami boleh bales aku deh. Kebiasaan kamu 'kan bergelayut di lenganku." Kuberikan lenganku pada Baby. "Nih, kamu mau bergelayut sepuasnya aku rela."


Wajah Baby semakin bete saja. Ia memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela. "Cuma air dan air. Enggak ada pemandangan seru. Lebih baik liatin aku yang ganteng!" godaku.

__ADS_1


Baby tak menanggapi ucapanku. Oke. Cukup. Dia sudah makin marah. Jangan sampai ngambek dan malah keluar dari mobil ini. "Dimakan dong bakpaunya. Nanti kamu masuk angin. Aku enggak godain lagi deh!"


Kuganti saluran radio dan mendengarkan siaran tentang Labuan Bajo. "Wah, Labuan Bajo. Enak tuh buat liburan, honey moon, berenang, bikin anak dan menghabiskan waktu dengan orang tersayang. Pergi sama siapa ya?"


Kulirik Baby yang membuka kertas bakpau dan memakan bakpau yang tak lagi hangat. Ia makan dengan wajah kesal. Entah kesal karena ulahku atau kesal karena aku akan pergi dengan orang lain ke Labuan Bajo?


Informasi Labuan Bajo berganti dengan lagu lama yang liriknya sesuai dengan keadaan kami saat ini.


🎶"Kau cantik hari ini."🎶 Kunyanyikan lirik lagu sambil sesekali melirik ke arah Baby. 🎶"Dan aku suka ...." 🎶


🎶"Kau lain sekali ... dan aku suka ... tak kan kubiarkan lagi kau menghilang dari kehidupanku." 🎶


Kini aku menatap Baby yang ternyata juga menatapku dengan erat. "Rujuk yuk!"


Baby hendak memalingkan tangannya namun tanganku dengan cepat menggenggam tangan Baby. "Kalau kamu tak siap sekarang, aku akan tunggu. Kalau kamu tak percaya denganku, akan kubuat kamu percaya. Kalau kamu masih marah padaku, akan kubuat kamu memaafkanku."


Aku memajukan diriku dan tanpa ragu aku mencium bibir Baby. Pelan. Lembut. Baby berusaha menolak namun aku tetap menciumnya dengan lembut. Baby memukul dadaku dan kurasakan buliran air mata yang menetes dari pelupuk matanya.


Kulepaskan ciumanku namun tetap kutatap ia erat. "Aku tak akan minta maaf. Aku mau buktikan sama kamu, aku tak lagi menganggap kamu adikku. Kamu lihat, aku kini sanggup mencium kamu. Dulu, aku tak sanggup karena kamu hanya kuanggap sebagai adikku saja."


Kutarik tangan Baby dan kutaruh di dadaku. "Kamu bisa rasakan bukan jantungku yang berdegup kencang? Ini karena ada kamu di sampingku. Dulu, tak ada degupan jantung sekencang ini karena aku terlalu nyaman dan menganggap kamu anak kecil yang harus aku jaga. Kamu tahu apa artinya."


"Aku tak peduli! Lepas!" ujar Baby dengan marah dan mencoba melepaskan tangannya dariku.


"Balas aku dengan makian. Balas aku dengan cacian. Balas aku dengan tamparan. Namun beri aku kesempatan memperbaiki kesalahanku. Aku memang terlambat menyadarinya. Aku bodoh dalam hubungan asmara. Aku tahu itu. Perpisahan kita membuat aku menyadari kalau yang aku inginkan hanya kamu, Baby. Aku mengejar cinta lain padahal yang sebenarnya aku cintai adalah kamu! Aku mencintai kamu, Baby. Aku sangat mencintai kamu!"


Baby tak lagi mencoba melepaskan tangannya. Ia kini menatapku lekat seperti melihat hantu. "Kamu bohong!"

__ADS_1


****


__ADS_2