
Zaky
"Makanya dengerin dulu. Emosian aja sih jadi orang. Jangan cuma big gun aja lo gedein. Sabar juga gedein," omelku membuat Wira terdiam.
"Yaudah apa mau lo?" tanya Wira setelah reda emosinya.
"Rencananya Papa mau buat perumahan rakyat kelas menengah gitu. Target utamanya adalah karyawan kantoran yang sibuk. Ada beberapa cluster dan luas proyek juga beberapa hektar. Di sana akan ada area bisnis. Sudah ada beberapa yang join kayak adik kakak Indo November dan Alpalupa, Kopi Mantan Kenangan, TimeChat dan kalo lo mau, bisa buka Bisnis Plus Plus di sana." Aku memperhatikan ekspresi wajah Wira. Terlihat ia begitu tertarik dengan penawaran yang kuberikan.
"Syaratnya?" tanya Wira setelah diam sesaat.
"Cuma lo punya modal dan usaha. Udah itu aja," jawabku dengan santai.
"Yakin cuma itu? Bukannya lo mau deketin adek gue lagi? Enggak mungkin juga sih, liat aja adek gue akrab gitu sama Djiwa. Kesempatan lo makin tipis," kata Wira dengan ketus.
Aku tersenyum kecil. Aku kenal siapa Djiwa dan tau Carmen bukan type kekasih idealnya. "Jodoh enggak ada yang tau, Bro. Yang pasti gue udah sadar akan semua kesalahan gue selama ini. Gue mau minta maaf yang sebesarnya sama lo dan Dewi. Gue salah. Gue terobsesi sama bini lo. Untung aja bini lo kuat iman. Membuat obsesi gue hanya obsesi tak terwujud."
"Iyalah. Bini gue tau mana yang terbaik buat dia," kata Wira dengan sombongnya.
"Iya. Jadi mau enggak lo join? Lumayan loh, minimal lo bisa buka 4 cabang baru. Ada cluster East, West, North dan South. Gue yakin cocok banget bisnis lo buat yang tinggal di sana. Lo juga bisa kembangin bisnis Baby dan Mommy juga bersamaan. Sekali dayung, 4 pulau lo lewatin," kataku memanasi Wira.
Wira kembali terlihat berpikir keras. Aku yakin ia akan menerimanya. Otak bisnisnya tau kalau kesempatan ini adalah kesempatan besar. Kalau melewatkannya ia akan rugi.
"Akan gue pikirin," jawab Wira. Nah apa aku bilang, ini tuh cuma gengsi dia aja padahal dia mau. Sok bilang mau pikirin padahal memang mau terima cuma gengsi saja.
"Oke. Pikirin matang-matang ya sebelum ada yang join dan lo kehilangan kesempatan nanti," pancingku lagi.
Tak lama suara MC mulai mengisi acara. Wira melihat Baby yang bersama Djiwa berjalan keluar dari ballroom. Aku diam-diam mengikuti mereka.
"Wa!" panggilku. Jangan sampai pujaan hatiku dia bawa kabur. Meski buka type kesukaannya, playboy cap tengkorak macam dia juga suka dengan Baby yang cantik dan seksi.
__ADS_1
Djiwa dan Baby berbalik badan. Djiwa tersenyum. "Bener enggak dugaan gue? Herder lo pasti akan ngawasin. Baru gue ajak cari angin segar aja, dia langsung menggonggong!" sindir Djiwa.
"Enak aja lo bilang gue Herder! Gue tuh lakinya. Lakinya!" Kususupkan tanganku ke pinggang ramping Baby dan kutarik ia mendekat. "Makasih ya udah dijagain."
"Sama-sama, Bro. Gue pergi duluan. Bosen. Mau ganti oli dulu!" Djiwa memainkan alisnya lalu pamit pergi.
"Ganti oli? Memangnya mobilnya belum di service? Memangnya masih ada showroom yang buka malam-malam begini?" tanya Babyku dengan polosnya.
Huft ... Abi Agas memang menjaga Baby dengan baik sampai dia begitu polos, padahal Abi Agas masih terkenal sampai sekarang karena dulunya suka ganti oli sesukanya.
"Ada. Aku juga mau ganti oli. Ikut yuk!" Aku menggandeng Baby menuju lift dan membawanya ke kamar kami. Aku sudah memesan kamar sebelumnya. Waktu kami hanya sebentar, lumayanlah untuk mengurangi rasa rindu yang menggebu.
"Kok ke hotel? Katanya mau ganti oli?" tanya Baby lagi dengan polosnya.
Aku membuka pintu kamar dan langsung mencium Baby. Kulepaskan tuksedoku dan tak membiarkan Baby protes. Baby menahan dadaku, aku tahu itu kode ia mau berbicara. Kulepaskan pagutanku sebentar dan memberinya kesempatan bicara.
"Tunggu, kok kita malah check in sih? Kalau Abang tahu gimana?" protes Baby.
Kulepaskan kemejaku sambil mendengarkan Baby bicara. "Kita lagi pesta. Kalau Abang marah gimana?"
"Makanya kamu jangan banyak protes. Biarkan aku ganti oli dengan tenang agar cepat selesai. Kupastikan Abang kamu tak akan tahu. Udah ya jangan protes lagi, aku tak tahan lagi nih!" Kubawa Baby ke atas kasur yang empuk dan nyaman dan kembali menyumpal bibirnya dengan bibirku agar ia tak banyak protes.
Meski agak terbuka di bagian bahu, kuakui Baby memilih gaun yang tepat. Tanganku mulai menelusuri tubuhnya dan membuatnya mendeesah. Aku tahu, Baby juga menginginkanku. Kuangkat dress yang ia kenakan lalu mulai melakukan penyatuan. Baby terkejut namun rasa yang melenakkan membuatnya tak bisa protes.
Sementara Wira di ballroom sana menerima pujian karena penghargaan yang ia peroleh, aku menerima rasa puas dari setiap gerakan yang aku dan Baby lakukan. Sampai aku mencapai puncak kenikmatan dan membiarkan milikku berada dalam milik Baby sampai selesai. Aku tak peduli kalau Baby hamil, itu memang tujuanku.
Aku menatap Baby yang memukul dadaku pelan. Kukecup keningnya. "Makasih ya, Sayang!"
"Kamu tuh buat aku deg-degan terus tau enggak!" protes Baby.
__ADS_1
Aku tersenyum dan rasanya belum rela menjauhkan diriku dari Baby. Masih mau lagi namun aku tahu Baby akan kena masalah nanti. Kami pun membersihkan diri dan kukenakan lagi kemejaku.
"Tuh 'kan aku berantakan!" protes Baby. "Abang pasti curiga deh!"
Aku tersenyum dan berjalan menuju pintu. Kubukakan pintu dan membiarkan make up artis yang kusewa masuk. "Rapihkan! Buat seperti sebelumnya!"
"Siapa, Mas?" tanya Baby.
"Yang akan merapihkan dandanan kamu." Aku duduk di sofa dan menunggu Baby selesai di make up. Tak butuh waktu lama dan Baby sudah cantik kembali.
"Gila kamu, Mas. Sempat-sempatnya kamu menyiapkan MUA buat aku!" ujar Baby.
Kuulurkan lenganku dan Baby menyambut uluranku. Ia menggandengku dan kami berjalan kembali ke Ballroom. Kulihat Wira sedang berbicara dengan pengusaha lain yang rupanya tertarik dengan konsep bisnis miliknya.
Aku mengambil minum dan memberikan satu pada Baby. Aku tahu Wira sejak tadi melirik ke arah kami. Benar saja, tak lama kemudian Wira mendatangi kami yang sedang menikmati alunan musik dari band terkenal yang diundang.
"Kok kalian bisa bareng? Darimana?" tanya Wira. Wajahnya penuh curiga.
"Cuma mencari udara segar," jawabku santai.
"Benar itu, Baby?" Wira kini bertanya pada adiknya.
Baby melirik ke arahku dan kujawab dengan anggukan. "Iya. Aku bosan."
"Mana Djiwa? Kok kamu malah sama dia sih?" tanya Wira lagi seraya celingukan mencari keberadaan Djiwa.
"Udah pulang. Mau ganti oli katanya. Untung saja ada aku, kalau tidak bisa diembat istriku ini," kataku.
"Mantan. Jangan mimpi lo!" Wira lalu membawa Baby pulang ke rumah, meninggalkan aku yang tak rela melepas kepergian istriku namun tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
****