
Carmen
Melihat wajah Mas Zaky yang kesal membuat aku semakin ingin mengerjainya. Dia sedang menelpon Papa dan terlihat kalau dirinya sedang diomelin karena sudah waktunya bekerja tapi malah belum datang juga ke kantor. Kesempatan ini aku gunakan untuk turun ke bawah dan mengobrol dengan Kak Dewi.
"Kak, tolong Kakak panas-panasin Mas Zaky ya. Aku tadi bilang kalau aku akan pergi jalan-jalan sama Bari nanti sore. Mas Zaky kelihatan kesel banget. Seru untuk dikerjai, Kak," kataku dengan berbisik.
"Kok kamu mau sih panas-panasin mantan kamu sih? Apa rencana kamu Baby?" tanya Kak Dewi dengan dua curiga.
Kak Dewi tak bisa begitu saja bohongi. Bagaimanapun Kak Dewi itu sudah menerima banyak ilmu dari Abang. Salah satunya adalah ilmu tak bisa semudah itu dibohongi.
"Aku cuma mau Mas Zaky merasakan apa yang aku rasakan dulu. Aku mau dia tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang yang nggak pernah melihat kita sama sekali. Kak Dewi mau 'kan membantu aku?" Aku belum menerima jawaban Kak Dewi ketika Mas Zaky datang.
Alhamdulillah Kak Dewi mau membantuku. Kulihat Mas Zaky wajahnya memerah karena kesal. Aku melihat dari pantulan kaca bagaimana Mas Zaky pergi dari ruko dengan kesal. Biar saja. Biar Mas Zaky masuk ke dalam perangkapku. Agar dia tahu bagaimana perasaanku selama ini.
Sore hari sesuai janji Bahri datang ke ruko. Ia naik motor dan karena agak mendung kami putuskan untuk pergi dengan mobilku saja. "Baby, aku lihat ada festival jajanan kuliner. Ada es salju, bakso mozarella dan chiki ngebul. Kamu mau kesana tidak?"
"Mau saja," jawabku.
Bahri pun mengemudikan mobilku menembus kemacetan Jakarta. Aku sesekali menatap ke luar jendela dan melihat jalanan yang padat dengan kendaraan sementara ruas jalan semakin menyempit dengan pembangunan trotoar yang semakin lebar.
Kami sampai lokasi jam 7 malam. Festival jajanan kuliner makin malam makin ramai saja. Banyak karyawan kantor yang mampir sepulang kerja. Aku menatap dengan mata berbinar aneka makanan yang menggoda imanku. "Aku mau yang itu!" Tunjukku pada salah satu stand es podeng.
Bahri mengantri untukku sementara aku membeli makanan yang lain. Selesai mengantri, Bahri mencari keberadaanku yang sudah wara-wiri dari satu stand ke stand lain. Tanganku sudah penuh dengan jajanan yang aku sendiri tak tahu bagaimana menghabiskannya.
"Ya Allah, Baby. Kamu habis puasa sebulan terus balas dendam? Banyak banget makanan yang kamu beli!" omel Bahri.
"Habis, semuanya enak sih. Kita cari tempat kosong untuk makan. Ayo!" Bahri membantuku membawa makanan dan kami mencari tempat kosong.
__ADS_1
Kami makan sambil menikmati live music. Aku jadi teringat saat aku melamar Mas Zaky dulu di tengah live music. Rasanya waktu setahun lebih cepat sekali berlalu. Apa karena aku terlalu menyia-nyiakan waktuku untuk mencintai lelaki yang tak pernah melihatku sama sekali? Setiap kali mengingatnya kenapa terasa sakit?
"Tuh malah melamun!" omel Bahri membuatku tersadar dari lamunanku.
"Maaf," kataku singkat.
"Kenapa? Inget mantan?" tebak Bahri.
Aku membalasnya dengan tersenyum kecil.
"Agresif sekali mantan suami kamu. Pasti kamu senang sekali ya karena sekarang dia mengejar cinta kamu?" sindir Bahri.
"Ya ... bisa dibilang begitu. Dia merasakan hal yang aku rasakan setahun ini," jawabku jujur.
"Kamu akan menerimanya lagi nanti?" tanya Bahri.
"Tak mau mencari orang lain yang akan menggantikan mantan kamu? Aku misalnya?" tanya Bahri.
Aku reflek melihat ke arah Bahri. Ucapannya serius aku tahu. "Aku tak cinta sama kamu," jawabku jujur.
"Kamu ya, bener-bener deh. Jujur banget. Jaga perasaanku sedikit kek. Kamu tau aku suka sama kamu, kasih harapan sedikit. Buat aku berharap dan kasih kesempatan untukku menutup luka yang kamu rasakan. Kalau kamu tak memberi kesempatan, kapan luka itu akan sembuh?" tanya Bahri.
"Enggak mau. Aku tak mau memberi kamu harapan dan kesempatan. Aku juga tak mau kamu menutup luka yang kurasakan," jawabku terus terang.
"Pelit!" cibir Bahri.
Aku tersenyum kecil. "Memang aku pelit. Aku tak mau lukaku ditutup, karena luka yang kurasakan akan basah dan malah tambah lama sembuhnya. Biarkan saja luka itu terbuka, biar diriku sendiri yang akhirnya mengobati lukaku,"
__ADS_1
"Aku tak mau memberi harapan. Aku sudah terluka, aku tak mau membuat kamu tambah terluka. Biarlah hanya sayapku yang patah, asal jangan membuat kamu mengorbankan sayapmu agar aku bisa terbang tinggi. Nantinya, aku tak akan kembali dan terus terbang mencari tempat yang lebih indah lagi,"
"Aku tak mau memberi kesempatan, karena aku sendiri tak memberi kesempatan diriku untuk merasakan rasanya dicintai. Aku terlalu serakah dan mencintai orang lain secara berlebihan. Allah sudah menghukumku, karena aku lebih mencintai hamba-Nya dibanding pencipta-Nya sendiri. Itu kesalahanku dan sedikit demi sedikit sedang aku perbaiki," kataku panjang lebar.
Bahri tiba-tiba memegang keningku. "Enggak panas tapi kenapa ngomongnya kayak orang panas tinggi yang hampir kejang ya? Apa kebanyakan jajan? Pasti deh. Pasti kebanyakan jajan, jajan cinta dari aku ha ... ha ... ha ...."
Aku ikut tertawa mendengar kelakar Bahri. Kami melupakan pernyataan cinta yang Bahri katakan dan kembali asyik menikmati jajanan dan live music. Aku pulang mengantar Bahri sampai ruko baru aku pulang ke rumah. Sudah jam 11 malam. Aku ngantuk sekali.
Aku turun dari mobil dan hendak membuka pagar ketika Mas Zaky datang menghampiriku. Wajahnya terlihat marah. "Dari mana saja kamu sampai pulang selarut ini? Pergi sama anak lelaki yang bukan mahromnya tak kenal waktu. Kamu tak tahu sudah jam berapa? Bagaimana kalau dia sampai menjahati kamu?"
Aku mengacuhkan Mas Zaky dan tetap ingin membuka pagar. Tanganku tiba-tiba ditahan oleh Mas Zaky. "Aku lagi bicara sama kamu!" katanya dengan tegas.
Aku tak mau menanggapi namun cengkraman tangannya di lenganku begitu kuat. Membuatku tak bisa bergerak. Makin lama terasa makin menyakitkan. "Lepas!" kataku tegas.
"Akan aku lepas kalau kamu mendengar apa yang aku katakan. Jangan pergi dengan laki-laki itu lagi! Demi keselamatan kamu!" perintah Mas Zaky.
Aku tersenyum kecil. "Kenapa? Kenapa tak boleh pergi sama Bahri? Masalah kamu apa?" tanyaku balik.
"Aku enggak suka kamu pergi sama dia!" jawab Mas Zaky dengan emosi.
"Lalu? Aku harus nurut gitu?" sindirku.
"Iyalah, karena kamu ... kamu ...." Mas Zaky bingung mau mengatakan apa.
"Karena aku sudah menjadi mantan istro kamu, tolong jangan larang dan ganggu hidup aku lagi!" kutendang tulang kering di betis kakinya Mas Zaky sampai ia mengaduh kesakitan dan melepaskan tangannya. Kubuka pintu gerbang dan memasukkan mobil. Kulirik dari kaca spion ia masih berjinjit kesakitan. Rasakan!
****
__ADS_1