Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Dukungan Mama dan Papa


__ADS_3

Zaky


Pulang dari rumah Abi, wajahku babak belur. Mama dan Papa langsung melarikanku ke rumah sakit. Kata dokter, rahangku sedikit bergeser. Masih bisa aku tahan.


Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan Baby. Ia tak mungkin pingsan jika tidak ada sebab. Wajahnya yang pucat seakan memberi kode kalau dirinya tidak sedang baik-baik saja. Sakit apa istriku itu?


Aku berusaha menghubungi Baby, namun sepertinya dia belum pulang dari rumah sakit. Ponselnya tidak diangkat. Aku menghubungi Mommy, hasilnya juga sama, tidak diangkat. Sepertinya mereka berdua terlalu panik sampai lupa membawa ponsel. Aku hubungi siapa dong? Wira? Anak itu tadi nggak ada. Tak mungkin aku bertanya pada Abi. Mendengar aku bernafas saja Abi sudah marah, apalagi kalau sampai aku bertanya lagi tentang anaknya. Bisa tambah kena amukan aku nanti.


"Bagaimana? Baby belum ada kabar?" tanya Mama yang terlihat khawatir.


Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah. "Belum ada, Ma. Entah bagaimana keadaan Baby," kataku dengan sedih.


"Kita berdoa saja ya semoga Baby baik-baik saja. Mama juga khawatir. Mama lihat, wajah Baby pucat sekali. Baby tidak bilang sebelumnya sama kamu, dia sakit apa?" tanya Mama lagi.


"Tidak, Ma. Sehabis menjemputku semalam, Baby masih baik-baik saja. Kami memang tidak teleponan malam ini. Semua karena kami sudah berbicara dari hati ke hati. Rencananya, siang ini aku memang mau ke rumah Abi. Aku telepon, Baby juga tidak mengangkat. Ya udah aku nekat saja mengajak Mama dan Papa langsung ke rumah Baby. Ternyata malah begini keadaannya. Aku jadi menyesal. Aku terlalu terburu-buru karena aku sudah tak sabar ingin segera rujuk dan bersatu kembali dengan Baby."


Mama mengusap lembut rambutku. "Kamu sudah berusaha, Nak! Kamu sudah menunjukkan keseriusan kamu. Mama bangga sama kamu. Teruslah berjuang sampai nanti usaha kamu dihargai oleh orang lain."


Aku menggangguk. "Iya, Ma. Doakan aku ya Ma, semoga Abi dibukakan pintu hatinya dan mau menerima aku dan Baby bersatu kembali."


"Tentu, Sayang." Mama berbalik badan dan mulai melakukan aktivitasnya lagi. Papa sejak tadi di kamar karena terus-menerus kesal dengan ulah Abi.


Aku baru saja hendak kembali ke kamar ketika ponselku berdering. Wira? Ada apa anak itu meneleponku?


"Assalamualaikum!" jawabku. Ternyata Baby yang meneleponku. Aku senang sekali bisa mendengar suaranya.


Mama yang melihatku menelepon dengan antusias pun mendekat. Mama menguping percakapan kami. "Apa? Kamu hamil anak aku?" tanyaku tak percaya.

__ADS_1


"Baby hamil? Baby beneran hamil cucu Mama?" tanya Mama penuh antusias. Aku menjawabnya dengan anggukan. Mama lalu berteriak kencang memanggil Papa. "Papa! Papa cepat kesini! Papa!"


Tak lama Papa datang sambil berlari. "Ada apa, Ma?" tanya Papa.


"Baby, Pa. Baby hamil cucu kita!" kata Mama dengan penuh semangat.


"Apa? Hamil? Alhamdulillah. Aku mau jadi kakek dong?" Papa Damar tak kalah histerisnya. Terlihat penuh semangat.


Aku acuhkan Mama dan Papa dengan kebahagiaan yang mereka rasakan. Aku fokus mendengar suara yang begitu kukhawatirkan. "Keadaan kamu bagaimana, Baby?"


"Aku belum lama bangun. Kata Mommy aku pingsan lumayan lama. Kamu sih bikin aku kecapekan!" omel Baby.


Aku tersenyum tipis. "Maaf, lain kali aku tak akan buat kamu kecapekan lagi deh. Aku janji. Aku kangen kamu. Kamu dimana?"


"Di Rumah Sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting. Aku juga kangen kamu, Mas." Baby terdiam sesaat lalu berkata lagi. "Mas, kita akan punya anak. Mas senang tidak?"


"Aku kangen kamu, Mas," kata Baby, membuat aku semakin nelangsa saja. Rasa rindu yang menggelora namun sulit terlampiaskan.


"Aku juga kangen sama kamu," kataku setulus hati.


Di tengah kegalauan kami, Mama tiba-tiba berkata, "Ayo kita temui Baby!" ajak Mama yang sudah berganti pakaian.


"Ayo! Papa juga sudah siap nih!" Sama seperti Mama, Papa pun demikian semangat.


"Kalian mau kemana?" tanyaku heran.


"Ke tempat Baby. Papa sudah menghubungi Bastian dan yang lain. Ayo kita serbu! Papa akan buat kamu bertemu istri dan calon anak kamu!" Papa sudah seperti hero untukku.

__ADS_1


Senyum di wajahku mengembang. "Ayo!" Aku lalu berbicara pada Baby. "Sayang, tunggu aku ya!"


"Iya. Aku akan menunggu kedatangan kamu. Aku tunggu!" kata Baby penuh harap.


Sambungan telepon pun terputus. Aku bersiap pergi ke rumah sakit bersama Mama dan Papa. Papa yang menyetir karena tubuhku remuk redam. Aku menelepon Wira untuk tahu di kamar mana Baby dirawat. Kami langsung ke atas setelah tahu.


Wira menyambut kedatanganku di depan ruangan dengan menahan senyumnya. Setelah Mama dan Papa masuk duluan ke dalam ruangan, Wira tertawa puas. "Ha ... ha ... ha ... muka lo kena 'kan sama Abi? Gue bilang juga apa! Bandel sih lo!"


Aku tak menanggapi. Aku hanya ingin masuk ke dalam namun Mama dan Papa bilang, lihat situasi dulu. "Bagaimana, Baby?" tanyaku dengan penuh khawatir.


"Baby? Ya, hamil. Cepet banget sih lo hamilin adek gue? Heran gue! Pake obat apaan? Kasih gue infonya dong! Gue mau punya anak banyak nih!" tanya Wira dengan santainya.


Aku menghela nafas dalam. Malah nanya tips sama aku, padahal dia jagonya. Aneh. "Pakai cinta, jadi deh!"


"Prett ah cinta. Kurang cinta apalagi gue sama bini gue? Jangan bilang banyak gaya, gue lebih banyak gaya lagi!" kata Wira dengan bangganya.


"Ya karena lo kebanyakan gaya jadi enggak jadi. Makanya jangan banyak gaya!" sindirku.


"Yeh ... mulai berani deh. Gue tanya serius, kalau Abi tetap tak mau merestui lo sama Baby gimana?" tanya Wira. Wajah becandanya kini hilang berganti wajah serius.


"Ya ... gue akan bawa Baby. Kita bisa tinggal di luar kota atau luar negeri. Baby istri gue, di mata hukum tetap saja gue yang menang." Aku keluarkan fotokopi surat nikah yang sudah diurus pengacaraku. "Kami sudah resmi jadi suami istri kembali."


"Gila, gercep banget lo! Saran gue, jangan lo bawa ke luar kota atau ke luar negeri lah. Lo tetep harus baik-baikkin Abi. Sekarang lo memang tidak direstui, tapi kalau cara lo bener bukan tidak mungkin Abi akan menyayangi lo lagi sebagai menantunya," saran Wira.


Benar yang dibilang Si Bangor itu. Dewasa pemikirannya. Tak lama teman-teman Abi datang. Aku tersenyum menyambut kedatangan guruku.


"Hi muridku!" sapa Om Sony dengan senyum merekah.

__ADS_1


****


__ADS_2