
Zaky
"Bener Dok, yang ganteng ini suami aku!" kata Baby dengan bangga.
Aku tersenyum mendengar pujiannya. Hal sepele namun membangkitkan rasa bangga dalam diriku.
"Dijaga ya istri dan anak dalam kandungannya baik-baik. Jangan terlalu lelah. Jika ingin berhubungan, tolong jangan yang membuat istri dan anak dalam kandungan berbahaya. Untuk lebih jelasnya bisa browsing di internet, posisi yang bagus untuk berhubungan suami istri di saat istri sedang hamil," pesan dokter yang memeriksa Baby.
"Baik, Dok," jawabku sambil mengangguk dan tersenyum senang. Dokter tidak melarang, berarti boleh dong?
"Apa tidak sebaiknya jangan berhubungan dulu, Dok. Bukankah lebih beresiko di trimester pertama?" tanya Abi tiba-tiba, membuat harapanku menipis saja.
Senyum di wajahku langsung menghilang. Ya Allah, ada saja cobaanku. Baru saja direstui, kok dikasih cobaan lagi?
"Memang beresiko sih, Pak. Namun anak muda, mana bisa dilarang saat hasrat sudah menggebu? Lebih baik diarahkan agar tau mana yang beresiko dan mana yang tidak," jawab dokter dengan bijak.
Aku bisa bernafas lega. Aku melirik ke arah Abi yang memanyunkan bibirnya. Sabar, Zaky. Sabar.
"Iya, Dok. Terima kasih atas informasinya," kataku sungguh-sungguh.
Tak lama dokter pamit. Aku kembali mendekati Baby dan berbisik pelan. "Masih bisa, Sayang. Nanti aku pelan-pelan," bisikku.
"Iya. Aku yakin kamu pasti bisa, semangat!" ujar Abi.
"Gas, liat anak sama menantu lo deh!" kata Om Sony tiba-tiba. "Senang banget dikasih lampu hijau sama dokter."
Kembali hatiku khawatir. Om Sony menahan tawanya, senang karena berhasil menjahiliku.
"Kita lihat aja. Kalau sampai Baby kenapa-napa, rahang bukan bergeser lagi, tapi patah!" ancam Abi. Aku mengusap rahangku yang masih sakit, wow kalau dibikin patah bagaimana sakitnya ya?
"Udah ah, Gas. Ngancem anak orang aja! Kita lanjut bahas turnamen bulutangkis aja. Jadi ngadain di komplek kita enggak?" Om Bastian kembali menjadi penyelamatku. Mengalihkan Abi dari menatapku tajam.
***
Keesokan harinya, aku menjemput Baby pulang dari rumah sakit. Aku meminjam kursi roda agar Baby tak perlu berjalan sampai ke lobby. Mommy dan Abi tak berkomentar banyak. Abi apalagi, sejak tadi hanya diam saja.
__ADS_1
"Bi, administrasi sudah beres. Kita bisa pulang sekarang," kataku.
"Oke," jawab Abi singkat. "Baby mau naik mobil siapa?"
"Naik mobil Mas Zaky saja," jawab Baby cepat.
Abi mencibirkan bibirnya karena tidak dipilih Baby. "Yaudah. Langsung pulang ya! Jangan jalan-jalan dulu. Ingat, kamu harus menjaga kesehatan kamu mulai sekarang!"
"Iya, Abi. Kami langsung pulang kok," jawab Baby.
"Abi ikuti saja mobil kamu dari belakang. Abi takut kamu jalan-jalan padahal masih lemah!" kata Abi tak terbantahkan.
Huft ... posesif sekali mertuaku ini.
"Ayo kita pulang! Mommy sudah masak enak di rumah. Jangan kelamaan di rumah sakit!" ajak Mommy mencairkan suasana.
"Iya, My!" Aku membantu Baby turun dari tempat tidur ke kursi roda. Aku mendorong Baby sementara kedua mertuaku berjalan di belakang kami.
Aku menitipkan Baby pada Mommy sementara aku mengambil mobil di parkiran bersama Abi. Kami tak banyak bicara. Suasana canggung masih tercipta. Perlahan, aku akan mengambil hati Abi kembali. Aku akan tunjukkan betapa seriusnya aku pada Baby.
"Sayang, akhirnya kita bisa bersatu lagi ya," kataku dengan senang hati.
"Iya. Meski melalui jalan yang berliku ternyata kita dipersatukan lagi dalam ikatan pernikahan. Aku masih tak menyangka deh. Rasanya baru kemarin aku melamar kamu, Mas," kata Baby sambil tersenyum mengingat masa lalu kami.
Aku yang jadi malu. Dulu Baby begitu berani memperjuangkan cintanya padaku, sementara aku hanya lelaki culun yang hanya obsesi pada satu perempuan saja.
"Mas, kok kamu diam? Kamu tak senang? Kamu marah?" tanya Baby.
"Ah bukan, Sayang. Aku senang kita bersama. Senang sekali. Aku hanya malu pada diriku sendiri. Terlalu banyak pengorbanan kamu untuk aku. Kamu dengan sabar menanti pintu hatiku terbuka, sementara aku hanya menggoreskan luka saja di hati kamu. Aku malu. Malu sekali," kataku penuh penyesalan.
"Itu 'kan sudah menjadi masa lalu kita, Mas. Sekarang kita harus melihat ke depan. Kita akan punya anak. Kebahagiaan kita akan semakin lengkap dengan hadirnya buah hati di antara kita. Bisa bersama Mas lagi, adalah hal yang paling membahagiakan untukku," kata Baby.
"Kamu memang malaikat yang dikirim Allah buat aku. Catat ya, buat aku. Bukan buat Bahri. Dia selalu bilang kamu malaikatnya, enak saja. Kamu tuh bidadari hati aku. Malaikat cinta aku!" Mengingat Bahri membuatku jadi kesal. Aku tidak suka sekali dengan kedekatan Baby dengan Bahri.
"Kamu cemburu beneran ya? Tenang saja. Aku dan Bahri hanya bersahabat saja kok."
__ADS_1
"Tak ada persahabatan wanita dengan pria. Kita saja layaknya adik kakak bisa saling jatuh cinta, apalagi sahabat? Aku tidak percaya!" kataku.
Baby tersenyum. "Aku suka deh melihat Mas cemburu. Mas jangan khawatir. Bahri sudah aku tolak cintanya. Bahri sadar kalau aku hanya mencintai Mas seorang. Bahri saat ini mau fokus dengan karirnya. Ia mau membahagiakan keluarganya, seperti yang Kak Dewi lakukan."
"Oh ya? Kamu tahu dari mana?" selidikku.
"Waktu itu aku ketemu Bahri di salon. Dia habis mengantar Bapaknya bekerja. Kami mengobrol sebentar," jawab Baby.
"Tuh, kamu enggak bilang sama aku! Seharusnya kamu bilang dong kalau bertemu lelaki lain!" Aku sangat kesal saat tahu Baby bertemu Bahri lagi. Kekanakan sih, mereka satu lingkungan kerja, mana mungkin tidak bertemu?
"Aku mau cerita saat kamu pulang dari Medan, apa daya kamu langsung nyosor. Aku mau bilang lagi kamu buat aku lupa segalanya. Yaudah deh beneran lupa. Sekarang mumpung aku ingat, aku bilang sama kamu," jelas Baby.
"Aku enggak suka kamu ketemu dia lagi!" rajukku.
"Iya, Mas. Iya. Bahri katanya dapat promosi lagi. Dia ditugaskan ke Solo. Bahri awalnya tak mau ambil, tapi setelah mendengar penolakanku akhirnya dia ambil. Dia mau menyibukkan diri untuk melupakanku."
"Baguslah. Jangan dekat-dekat sama istri aku. Aku enggak suka!"
"Cie yang posesif," goda Baby.
"Biarin. Aku posesif sama kamu. Setelah Abi, ada aku yang posesif sama kamu. Awas aja kamu dekat dengan lelaki lain!" ancamku.
Baby tersenyum senang. "Karena Mas sudah posesif, aku kasih hadiah deh."
"Hadiah?" Pikiranku langsung berkelana kemana-mana. Hadiah apa yang akan aku dapat ya kira-kira?
"Iya. Hadiah. Mau enggak?" tanya Baby lagi.
"Mau, mau. Hadiah apa?" tanyaku penasaran.
"Nanti saja di kamar!"
Wah, di kamar? Hadiah apa ya yang kira-kira akan aku dapat? Jadi tak sabaran nih.
****
__ADS_1