Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pertama Kali Makan di Warteg


__ADS_3

Carmen


"Pagi ini kamu mau ke cafe atau salon?" tanya Abi.


"Ke cafe kayaknya, Bi. Salon masih bisa di handle. Cafe Mommy terlalu banyak cabangnya sampai membutuhkan banyak pengecekan." Aku menikmati sarapan lezat buatan Mommy.


Tinggal di rumah Mommy kembali sebenarnya sih enak banget. Sarapan sudah disiapkan. Kalau aku mau bawa bekal, cukup bilang dan Mommy akan membuatkanku bekal yang isinya lebih lezat dari buatan katering.


"Mau Abi antar? Rencananya Abi mau ke showroom juga. Mau ngecek pekerjaan si Bangor. Bener apa enggak?! Sejak ada Vino, anak itu bawaannya mau pulang terus dan malas lama-lama bekerja," gerutu Abi.


"Biarkan saja, Bi. Namanya juga anak pertama. Apalagi Vino lucu, wajar Wira sayang sekali dengan anaknya dan ingin bermain bersama Vino terus," bela Mommy.


"Ya kalau Wira kerja dari rumah terus, Vino jadi jarang ke sini, My. Abi bosan kalau tak ada suara anak kecil yang bawel tapi menggemaskan di rumah ini." Abi lalu melihat ke arahku. "Baby, kamu tak ada teman dekat gitu?"


"Teman dekat? Abi bukannya melarang aku sering main ke luar ya? Aku enggak punya banyak teman dekat, Bi. Mereka tau Abi aku galak!" sahutku dengan berani. Abi tak pernah marah padaku jadi aku bebas mengeluarkan isi hatiku.


"Bukan teman itu maksud Abi. Teman lawan jenis. Laki-laki yang mendekati kamu gitu. Memangnya kamu tak mau dekat dengan laki-laki lagi?" tanya Abi. "Abi ingin kamu berumah tangga bahagia dan punya anak. Abi mau-"


"Udah siang, Bi. Aku berangkat dulu, assalamualaikum!" Aku sengaja memotong ucapan Abi agar tidak terus membahas masalah jodoh denganku. Baru saja bercerai, masa sih aku sudah mau cari ganti? Memangnya aku janda gatel apa?


"Iya. Waalaikumsalam!" jawab Abi.


Saat aku hendak pergi, aku mendengar Mommy mengomeli Abi. "Makanya, anak jangan dipaksa dulu. Baru saja bercerai sudah ditanya pacar. Memangnya enak anaknya enggak mau bahas?"


Aku membuka pintu pagar dan masuk ke dalam mobil untuk memanaskan mobil. Kali ini aku melihat Mas Zaky berjalan sambil celingukan takut Abi melihat. Ia menaruh sebuah paper bag di atas mobilku lalu memberikan kiss bye.


Apa lagi ini?


Setelah mobil Mas Zaky pergi meninggalkan rumahnya, aku keluar dari mobil dan mengambil paper bag yang ia letakkan di atas mobilku. Cepat-cepat aku masuk lagi ke dalam mobil dan pergi sebelum Abi keluar dan bertanya kenapa aku tak juga berangkat.

__ADS_1


Di lampu merah aku tak sabar untuk membuka isi paper bag pemberian Mas Zaky. Lagi-lagi isinya berbeda namun tetap ada susu uht. Masih rasa strawberry kesukaanku, sebuah cokelat bulat mahal berbentuk love dan ada sebuah origami.


Lampu lalu lintas yang berubah warna membuatku menunda untuk membaca surat yang diberikan. Aku ingin cepat-cepat sampai cafe agar bisa membacanya dengan tenang. Kenapa aku jadi penasaran seperti ini ya?


Sesampainya di parkiran mobil cafe, aku langsung membuka isi origami.


Pagi Cantik!


Hari ini aku dengar di berita kalau akan panas sekali. Jangan minum es kalau tak mau radang tenggorokan menyerang kamu. Minum susu yang aku kasih ya. Taruh di lemari es dan nikmati selagi dingin.


Salam sayang, duda depan rumahmu.


Duda depan rumah? Tiap membaca kalimat itu rasanya aku tak mau berhenti tersenyum. Aneh saja membacanya. Kalau dia duda depan rumah, aku janda depan rumahnya dong? Kembali aku tersenyum. Ah sudahlah. Jangan dipikirkan lagi!


****


Ya ampun, ini manager di depan sedang presentasi atau cari muka sih? Lama banget. Kata-katanya banyak yang menjilat dan membuatku muak. Sejak tadi presentasi lama banget. Hal-hal tak penting dibahas.


"Bisa lebih dipersingkat?" Akhirnya aku mengajukan protes. Bosan aku mendengar perkataannya yang muter-muter saja.


"Baik, Pak." Manager itu lalu mempersingkat presentasinya sehingga meeting bisa selesai lebih cepat.


Aku mengirim pesan pada orang suruhanku dan aku diberitahu dimana Baby berada siang ini. Cafe yang lumayan jauh dari tempatku berada. Apakah masih keburu makan siang bareng Baby kayak kemarin?


Aku keluar dari ruang meeting dan cepat-cepat ke parkiran mobil. Aku kemudikan mobil menuju cafe tempat Baby berada. Coba dulu mobil Baby aku pasangi GPS. Aku tak perlu repot-repot menyuruh orang untuk mengawasi dimana Baby berada.


Cafe siang ini mulai ramai. Aku hampir saja tak kebagian parkir mobil. Aku mencari tempat duduk kosong dan menemukannya di pojok ruangan. Aku tunggu Baby keluar makan siang sambil memesan teh tarik yang cocok diminum di siang terik seperti ini.


Tak lama Baby keluar. Ia mengenakan blouse warna biru muda lengan pendek dengan celana bahan warna hitam. Sepatu heels 5 cm dikenakannya. Terlihat rapi namun tak terlalu formal.

__ADS_1


Aku meninggalkan meja dengan teh tarik yang baru sedikit aku minum. Kuikuti dirinya seraya menyapanya dengan ramah. "Siang, Baby! Kamu mau makan siang dimana?"


Aku lupa kalau Baby tak akan menjawab apa yang kukatakan. Kalau mau mendengar suara Baby, ada yang harus aku lakukan. Pasti ia tak akan bisa mengelaknya. "Assalamualaikum, Baby!"


Baby terlihat menghela nafas sebelum menjawab salamku. "Waalaikumsalam," jawabnya pelan.


Aku tersenyum senang meski hanya nendengar jawaban salam darinya. Aku begitu merindukan suara Baby. "Kita mau makan siang dimana? Aku lapar nih sehabis meeting. Mau makan steak tidak? Tak jauh dari sini ada restoran steak enak. Kamu mau coba? Kita bisa naik mobil aku."


Baby tak menanggapi. Ia malah jalan terus dan masuk ke sebuah warteg. Ya ampun. Apakah aku harus makan siang di warteg?


"Bu, saya mau nasi setengah, kerang, tempe orek dan usus. Pakai sambal ya. Minumnya es teh manis," pesan Baby pada Ibu penjual warteg.


"Iya, Neng."


Aku melakukan hal yang sama. Aku mana pernah makan di warteg. Nenek selalu bawel masalah kebersihan. Tak akan ia ijinkan cucu kesayangannya makan di tempat seperti ini. Namun demi Baby, aku rela melanggar aturan Nenek.


"Bu, saya pesan menu yang sama ya. Duduknya di sebelah cewek tadi," kataku.


Aku lalu duduk di samping Baby. Lagi-lagi Baby tak bicara apa-apa dan hanya membuka sosial media. Tak lama makanan kami datang dan aku menatapnya dengan aneh. Menu yang bercampur jadi satu, yang tak pernah kumakan sebelumnya.


Baby begitu menikmati makan siangnya. Apakah seenak itu? Aku pun mencobanya. Ternyata rasanya lumayan juga. Enak. Warteg semakin ramai. Aku terpaksa bergeser agar lebih dekat lagi dengan Baby.


Udara yang panas membuatku makan sambil bercucuran keringat. Sebelum Baby selesai makan, aku sudah selesai. Aku membayar makanan kami lalu menunggu Baby di luar.


"Kamu mau jajan cemilan dulu enggak?" tanyaku saat Baby keluar dari warteg.


Baby terus berjalan dan mengacuhkanku. Nasib ... nasib ....


***

__ADS_1


__ADS_2